PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA 1996 ADALAH 7,82 PERSEN

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA 1996 ADALAH 7,82 PERSEN[1]

 

Jakarta, Antara

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 1996 adalah 7,82 persen, di bawah yang dicapai tahun 1995 sebesar 8,21 persen, namun pemerintah melihat angka pertumbuhan tahun lalu itu masih cukup baik.

“Angka pertumbuhan 7,82 persen itu sangat memuaskan. Rangenya (kisarannya) memang harus di sekitar angka itu.” kata Menteri Negara PPN Ginandjar Kartasasmita kepada pers setelah melaporkan masalah itu kepada Presiden Soeharto di Jalan Cendana, Kamis.

Ginandjar yang disertai Kepala BPS Soegito mengatakan, angka pertumbuhan tahun 96 itu masih di atas angka tahun 94 yaitu 7,54 persen. Ia menyebutkan penurunan laju pertumbuhan itu memang sudah diperkirakan sebelumnya.

“Angka ini masih menggembirakan.” kata Ginandjar dengan nada optimis.

Alasan yang dikemukakannya adalah yang dicari pemerintah bukanlah angka pertumbuhan ekonomi yang setinggi-tingginya.

Ada faktor lain yang juga harus diperhatikan yaitu stabilitas. Kalau pemerintah hanya mengutamakan faktor pertumbuhan ekonomi maka yang bisa terjadi adalah semakin membengkaknya defisit transaksi berjalan serta menurunnya laju pemerataan.

Ketika menyinggung angka pertumbuhan 8,21 persen pada tahun 95, ia membenarkan bahwa angka itu merupakan perbaikan terhadap angka ramalan sebelumnya yaitu 8,1 persen.

Sementara itu, Kepala BPS Soegito mengemukakan penurunan pertumbuhan ekonomi itu merupakan dampak dari melambatnya pertumbuhan permintaan domestik yang ditunjukkan penurunan pertumbuhan konsumsi rumah tangga dari 9,73 persen di tahun 95 menjadi 9,20 persen selama tahun 96.

Sementara itu, pertumbuhan pembentukan modal juga turun dari 13,96 persen pada tahun 95 menjadi 12,17 persen untuk tahun lalu. Ekspor barang dan jasa juga turun dari 8,55 persen di tahun 95 menjadi 6,28 persen di tahun 96.

Namun penurunan ekspor itu juga dibarengi dengan penurunan laju pertumbuhan impor dari 15,81 persen di tahun 95 menjadi 9,63 persen tahun lalu. Ia menyebutkan pula tentang terus berkurangnya peranan sektor pertanian pada perekonomian. Jika pada awal pembangunan kontribusinya masih 51 persen sekarang tinggal 16,3 persen.

“Kita sudah meninggalkan ekonomi agraris dan secara konsisten menuju negara industry.” kata Soegito.

Pendapatan per kapita

Ketika berbicara tentang pendapatan per kapita, Soegito mengata kan jika Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 95 baru Rp.2,335 juta (1039 dolar AS) maka angka itu telah naik menjadi Rp.2,688 juta atau 1140 dolar tahun 96.

“Kalau perhitungan pendapatan per kapita tersebut didasarkan pada landasan PNB (Produk Nasional Bruto) maka PNB per kapita penduduk Indonesia telah mencapai Rp.2,574 juta atau setara dengan 1092 dolar pada tahun 96. Perhitungan pendapatan per kapita itu, kata Soegito didasarkan pada angka rata-rata kurs dolar Rp.2.358.”

Ketika mengomentari penjelasan Soegito itu, Ginandjar menyebutkan, angka Produk Domestik Bruto menunjukkan angka yang dihasilkan di seluruh Indonesia baik oleh orang Indonesia sendiri maupun orang asing yang bekerja disini.

Sementara itu, Produk Nasional Bruto (PNB) mencerminkan angka yang dihasilkan orang-orang Indonesia sendiri baik yang bekerja di tanah air maupun di luar negeri yang mengirimkan pendapatannya ke sini.

Kepada Kepala Negara, juga dilaporkan tentang jumlah orang miskin pada tahun 96 yang mencapai 22,5 juta jiwa atau 11,3 persen dari seluruh penduduk di tanah air. Dari jumlah 22,5 juta jiwa itu maka 7,2 juta jiwa tinggal dikota dan sisanya 15,3 juta berada di pedesaan.

Sumber : ANTARA (20/03/1997)

___________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 284-285.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.