PERTANGGUNGJAWABAN PRESIDEN: KONSEP YANG LEBIH TEPAT, IMF PLUS

PERTANGGUNGJAWABAN PRESIDEN: KONSEP YANG LEBIH TEPAT, IMF PLUS[1]

 

Jakarta, Business News

Presiden Soeharto menyatakan bahwa tanda-tanda perbaikan dari belum juga tampak. Bila stabilitas nilai Rupiah pada tingkat yang wajar sebagai kunci perbaikan belum tercapai, tak dapat terlihat perbaikan keadaan dalam waktu dekat ini.Karena itu dimintanya IMF dan para kepala pemerintahan lain membantu menemukan alternatif yang lebih tepat. Konsep yang lebih tepat itu disebutnya sebagai Konsep IMF Plus.

Permasalahan di atas merupakan bagian dari pertanggungjawaban Presiden/Mandataris MPR-RI pada tanggal 1 Maret 1998 Minggu kemarin di hadapan Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat, Senayan, Jakarta. Sementara mengenai kemungkinan penerapan Sistem Dewan Mata Dang, dikatakannya sedang menimbang-nimbang dengan penuh ketelitian dan kehati-hatian.

Menurut Soeharto, tahun 1997 merupakan tahun keprihatinan bagi Indonesia. Tahun lalu itu kita mengalami kecelakaan di darat, di laut, dan di udara yang datang silih berganti. Urat nadi perekonomian Indonesia terganggu.

Kita juga dilanda musim kering yang panjang. Lahan dan hutan kita yang terbakar sangat luas. Akibatnya adalah menurunnya produktivitas tanaman, terutama tanaman pangan dan perkebunan. Pada tahun 97 produksi padi, jagung, kedelai, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah dan kacang hijau diperkirakan turun antara 1,3% sampai 5,6%. Bencana alam ini mengganggu angkutan dan ketersediaan pangan di sejumlah daerah.

Tetapi kita mendapat cobaan yang jauh lebih berat lagi. Seperti tiba-tiba saja datangnya sejak penengahan tahun lalu gelombang gejolak moneter datang menghantam.

Kawasan ini dilanda krisis keuangan. Kemudian ternyata krisis itu lebih dalam, lebih luas dan lebih lama dari perkiraan siapapun juga. Padahal, waktu itu fundamen­tal ekonomi kini cukup kuat. Malahan, banyak kalangan ahli yang menganggap merosotnya nilai rupiah kita sangat tidak wajar.

Krisis itu lalu menyebar di kawasan Asia Timur. Beberapa negara di luar Asia mulai merasakan akibat tidak langsung dari krisis ini.

Dunia internasional sadar, bahwa jika tidak benar cara menanganinya, maka krisis ini dapat berkembang menjadi krisis yang berskala global.

Langkah-langkah regional dan internasional telah dilakukan. Tetapi pada akhirnya, pemecahannya terletak di tangan masing-masing negara.

Tekad kita sudah bulat untuk mengatasi masalah yang kita hadapi ini.Kita akan berjuang habis-habisan untuk melepaskan diri dari krisis.

Dengan rasa terima kasih dan penghargaan, yang sebesar-besarnya kita terima bantuan dari lembaga-lembaga internasional dan dari negara-negara sahabat. Semuanya itu jelas membantu upaya kita.

Namun, di pundak kita sendirilah terletak beban tanggung jawabnya. Langkah­-langkah kita sendirilah yang menentukan keberhasilan atau ketidak-berhasilan kita mengatasi krisis ini.

Kita sadar bahwa langkah-langkah itu pasti berat. Mungkin sangat berat dan menyakitkan.

Kita harus yakin akan kemampuan kita sendiri. Kita harus memusatkan seluruh kekuatan kita untuk memecahkan masalah yang kita hadapi.Kita harus ikhlas berbagai beban seadil-adilnya di antara kita sendiri.

Untuk menanggulangi krisis moneter ini pada tanggal 15 Januari 1998 yang lalu saya telah menulis surat kepada Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) disertai dengan program reformasi dan restrukturisasi ekonomi dan keuangan. Program ini mendapat dukungan IMF. Dukungan keuangan juga datang dari Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia dan sejumlah negara lainnya. Tujuan pokok program reformasi dan restrukturisasi ekonomi dan keuangan kita itu adalah untuk memulihkan kepercayaan terhadap mata uang kita, terhadap lembaga­-lembaga keuangan kita dan terhadap masa depan perekonomian kita. Memulihkan kepercayaan ini sangatlah penting.

Hilangnya kepercayaan itulah sumber utama berbagai masalah berat yang kita hadapi sekarang ini. Dengan melaksanakan sungguh-sungguh program-program itu diharapkan pulih pula kepercayaan pelaku-pelaku ekonomi di negeri sendiri maupun di luar negeri.

Untuk menjamin pelaksanaan yang sebaik-baiknya dari program itu saya telah membentuk dan memimpin sendiri Dewan Pemantapan Ketahanan Ekonomi dan Kecurangan.

Sesuai dengan jadwal waktunya, sebagian program telah kita laksanakan dan sebagian lainnya menyusul kemudian. Kita berbulat hati melakanakan sepenuhnya pro­gram.

Langkah segera yang telah kita ambil adalah merevisi Rancangan APBN 1998/ 99, yang sekarang telah disetujui Dewan Pewakilan Rakyat. Langkah berikutnya adalah melaksanakan program rehabilitasi perbankan dalam rangka membangun kembali sistem perbankan yang sehat.

Program ini meliputi dua unsur utama, yang pertama adalah penyediaan jaminan penuh oleh Pemerintah kepada seluruh nasabah deposan dan kreditor bank-bank umum nasional. Yang kedua adalah pembentukan Badan Penyehatan Perbankan Nasional, yang bertanggungjawab untuk memperbaiki bank-bank yang pada saat ini dalam kondisi tidak sehat dan tidak memiliki prospek yang baik untuk dipulihkan tingkat kesehatannya.

Beberapa hari yang lalu saya telah menyetujui penggabungan 4 buah bank milik negara: yaitu Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, Bank Pembangunan Indonesia dan Bank Ekspor Impor Indonesia. Bank baru sebagai hasil penggabungan itu diberi nama Bank Catur. Untuk menyehatkan dan memperkuat daya saing bank­-bank swasta. Pemerintah telah menetapkan jumlah modal minimal dan mendorong penggabungan di antara mereka.

Langkah-langkah penting lainnya adalah memperlancar perdagangan luar negeri dan perdagangan dalam negeri, memperlancar penanaman modal. menghapuskan monopoli serta menghapus kemudahan-kemudahan khusus untuk Mobil Nasional dan Industri Pesawat Terbang Nusantara.

Walaupun kita telah mempunyai dan mulai melaksanakan program-program reformasi dan restrukturisasi yang jelas dan mendasar namun belum ada tanda-tanda bahwa keadaan bertambah baik. Malahan, keadaan kehidupan rakyat bertambah berat.

 

RUPIAH TETAP LEMAH

Secara menyeluruh nilai tukar rupiah kita tetap saja lemah.Sebentar saja menguat, kemudian melemah lagi.Hari-hari terakhir ini nilai tukar satu dolar Amerika berkisar antara Rp9.000.- sampai Rp10.000.-. Akibatnya, perusahaan-perusahaan mengalami kesulitan besar dan menurunkan kegiatannya. Bahaya pengangguran mulai tampak. Harga barang impor atau barang produksi dalam negeri dengan komponen impor yang tinggi menjadi sangat mahal, termasuk harga obat-obatan. Harga barang kebutuhan hidup sehari-hari terdorong bertambah mahal pula.

Saya merasakan betapa sedihnya hati ibu-ibu rumah tangga dan keluarga-keluarga yang berpenghasilan rendah menghadapi harga-harga yang membubung tinggi ini. Masyarakat gelisah. Kesalahpahaman sedikit saja telah menyulut kerusuhan yang lebih besar. Keadaan bertambah buruk karena ada saja mereka yang mengail di air yang sedang keruh.

Keadaan perekonomian kita bertambah berat karena LIC kita tidak diterima oleh kalangan perbankan di luar negeri. Keadaan perekonomian kita mengundang keprihatinan sejumlah kepala pemerintahan negara lain. Mereka berdatangan menemui saya. Beberapa lainnya lagi mengadakan pembicaraan telepon dengan saya. Mereka memberi pandangan mengenai cara yang mereka anggap baik untuk mengatasi keadaan kita. Mereka juga memberi uluran tangan. Semuanya itu kita terima dengan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya.

Saya tidak akan ragu sedikit pun melakukan apa saja untuk mengatasi keadaan. Untuk meringankan beban kehidupan rakyat yang bertambah berat.

Saya telah mulai melaksanakan dan akan terus melaksanakan program-program reformasi dan restrukturisasi ekonomi dan keuangan yang mendapat dukungan IMF. Tetapi tanda-tanda perbaikan belum juga tampak. Kunci utamanya adalah stabilisasi nilai tukar rupiah kita pada tingkat yang wajar. Selama ini belum tercapai, saya tidak dapat melihat perbaikan keadaan dalam waktu dekat ini.

 

KONSEP IMF PLUS

Itulah sebabnya saya meminta IMF dan para kepala pemerintahan lainnya kiranya dapat membantu kita menemukan alternatif yang lebih tepat. Saya namakan konsep yang lebih tepat ini sebagai konsep IMF Plus.

Saya sendiri sedang menimbang-menimbang dengan penuh ketelitian dan kehati­-hatian kemungkinan menerapkan Sistem Dewan Mata Uang.

Langkah apapun yang akan kita ambil, kita memerlukan dukungan IMF sebagai lembaga keuangan dunia yang berwibawa dan mempunyai reputasi tinggi. Sangat jelas, pada akhirnya, nasib kita berada di tangan kita sendiri.

Mencari jalan keluar yang terbaik ini telah menjadi perbincangan yang luas dikalangan masyarakat kita. Dengan niat baik, saya menilai positif perbincangan itu. Ini adalah bagian yang dinamis dari proses demokrasi kita. Artinya, sebagai sikap melu handarbeni, rasa ikut memiliki masa depan bersama. Dengan minat yang penuh saya perhatikan semua pandangan yang dikemukakan. Saya mengajak kita semua agar jangan membesar-besarkan perbedaan pandangan, apalagi yang malah membingungkan masyarakat awam. Perbedaan pendapat jangan menjadi benih perpecahan diantara kita. Lebih-lebih, pada saat kita memerlukan persatuan yang sekuat-kuatnya diantara kita agar dapat bersama-sama keluar dengan selamat dari kemelut sekarang ini.

Untuk mengatasi keadaan, kita telah mengambil berbagai langkah pemulihan ekonomi. Langkah itu ada yang berjangka pendek, ada pula yang berjangka lebih panjang.

Langkah jangka pendek adalah mencukupi keperluan pangan dan obat-obatan, serta menampung tenaga kerja yang kehilangan pekerjaan. Dalam jangka yang lebih panjang, kita menyusun program-program reformasi dan restrukturisasi ekonomi dan keuangan seperti yang tadi saya jelaskan.

Untuk memenuhi kebutuhan pangan, kita mengurangi kehilangan hasil panen, meningkatkan mutu intensifikasi, memperluas areal tanam melalui pemanfaatan lahan tidur, meningkatkan pemanfaatan lahan-lahan irigasi dan pasang surut, serta memanfaatkan lahan HTI untuk tanaman serta secara tumpangsari.

Upaya khusus meningkatkan produk si ini mencakup 2.3 juta hektar lahan padi, 340 ribu hektar lahan j agung, 327 ribu hektar lahan kedelai dan 14 ribu hektar lahan ubi kayu.Upaya ini akan kita lanjutkan dan kita perluas untuk memantapkan ketahanan pangan . Sementara upaya itu belum menghasilkan,untuk memenuhi kebutuhan dan menjaga stabilitas harga kita mengimpor bahan-bahan pangan yang pokok itu.

Kebutuhan sangat penting lainnya bagi masyarakat adalah obat-obatan. Meskipun kita sudah memproduksi berbagai macam obat-obatan, namun lahan bakunya sebagian besar masih diimpor. Perubahan kurs mengakibatkan berkurangnya persediaan obat-obatan dan harganya bertambah mahal. Keadaan ini dapat menurunkan derajat kesehatan masyarakat. Guna memenuhi keperluan obat-obatan, maka impornya dipercepat dan kegiatan produksinya dipulihkan.

Untuk menjamin kelancaran distribusi, untuk memberikan kepastian dan untuk menjaga stabilitas harga yang wajar, maka Pemerintah memberi subsidi untuk pangan maupun obat-obatan yang diimpor. Subsidi ini di bebankan pada anggaran negara.

Masalah pengangguran kita atasi dengan program padat karya. Program ini

menciptakan lapangan kerja produktif bagi tenaga kerja musiman dan yang berketrampilan rendah, baik di perdesaan maupun perkotaan. Kegiatannya meliputi rehabilitasi atau pembangunan jalan kampung dan jalan desa, saluran irigasi, penyediaan air bersih, penghijauan dan penghutanan kembali, serta usaha-usaha produktif lainnya sesuai dengan keadaan dan keperluan masyarakat setempat. Pembukaan lapangan kerja selanjutnya diutamakan untuk mengembangkan kegiatan produksi dan agroindustri pangan.

Kegiatan ekonomi di bidang pertanian ini tidak terlalu terpengaruh oleh perubahan nilai tukar mata uang, karena mengandalkan sumber-sumber yang kita miliki secara melimpah. Selain itu, sifat kegiatannya padat karya. Kita juga mengembang kan pro­gram untuk menampung tenaga kerja yang berketrampilan, terutama untuk kawasan perkotaan. Titik beratnya pada pengembangan wirausaha, karena perusahaan­ perusahaan diperkirakan belum bisa segera memperluas kesempatan kerja. Bahkan ada kemungkinan, perusahaan-perusahaan itu belum dapat segera menampung kembali tenaga kerja sebanyak yang di-PHK. Berbagai langkah itu terus diikuti, dikaji, disempurnakan dan dimantapkan agar hasilnya segera dimakan.

 

REVISI SASARAN

Pada tahun-tahun terakhir REPELITA V dan tahun pertama REPELITA VI kita mencapai pertumbuhan ekonomi yang sedemikian tinggi sehingga dipandang perlu merevisi sasaran laju pertumbuhan ekonomi menjadi rata-rata 7.1% per tahun. Perkiraan jumlah investasi dan sumber-sumber pembiayaannya juga perlu disesuaikan.

Pembangunan dalam REPELITA VI tetap bertumpu pada Trilogi Pembangunan. Ini berarti kita harus setepat-tepatnya memadukan stabilitas, pertumbuhan dan pemerataan. Stabilitas ekonomi antara lain diupayakan melalui pengendalian laju inflasi dan defisit transaksi berjalan.

Laju inflasi diperkirakan akan membaik dari 8,6% turun menjadi 5% pada akhir REPELITA VI. Defisit transaksi berjalan akan berada pada tingkat 1,9% pada akhir REPELITA VI dibanding 1,8% pada akhir REPELITA V. Sedangkan salah satu sasaran pemerataan yang penting adalah mengurangi jumlah penduduk miskin menjadi sekitar 6% dari seluruh penduduk.

Demikianlah, sampai dengan tahun ketiga REPELITA VI perekonomian nasional kita memperlihatkan perkembangan yang mantap sesuai dengan yang diharapkan. Laju pertumbuhan ekonomi selama periode ‘93 -‘96 berturut-turut adalah 7,3%, 7,5%, 8,2% dan 8%. Tetapi, pada paruh kedua tahun ‘97 gejolak moneter tiba-tiba datang menerjang.

Pertumbuhan ekonomi kita lalu melambat. Angka sementara pertumbuhan ekonomi tahun ‘97 hanya 4,7%. Padahal selama empat tahun REPELITA VI pertumbuhan ekonomi rata-rata mencapai 7,1% per tahun, yang berarti sama dengan sasaran tahunan REPELITA VI yang telah direvisi.

Perkembangan ekonomi tadi didukung oleh meningkatnya penanaman modal langsung sebagai sumber penggerak yang penting bagi pertumbuhan ekonomi. Dibanding dengan seluruh nilai persetujuan selama REPELITA V, maka selama empat tahun REPELITA VI nilai persetujuan PMDN naik satu setengah kali dan PMA naik tiga kali lipat.

Laju pertumbuhan penduduk berhasil terus ditekan, sehingga mencapai 1,4% dalam tahun ‘97. Angka ini mendekati sasaran akhir REPELITA VI sebesar 1,51%.

Dengan laju pertumbuhan ekonomi dan laju pertumbuhan penduduk tadi,maka pendapatan per kapita Indonesia meningkat. Dalam rupiah nilainya meningkat dari Rp2,7 juta pada tahun‘96 menjadi Rp. 3,1 juta pada tahun ‘97. Dengan demikian , realisasi pendapatan per kapita dalam nilai rupiah tahun ‘97 telah melampaui sasaran pendapatan per kapita tahun keempat REPELITA VI sebesar Rp 3 juta per kapita. Dalam dolar Amerika, pada tahun ‘93 pendapatan per kapita adalah 842 dolar Amerika,kemudian naik mencapai 1.155 dolar Amerika pada tahun ‘96, yang berarti melampaui sasarannya sebesar 1.118 dolar Amerika .Dengan merosotnya nilai rupiah, pendapatan per kapita tahun ‘97 turun lagi menjadi 1.089 dolar Amerika.

Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi sampai dengan tahun ketiga REPELITA VI diikuti pula dengan kestabilan internal yang terkendali.Laju inflasi pada periode itu masing-masing adalah 8,6%, 8,9% dan 5,2%, mendekati sasaran akhir REPELITA VI sebesar 5%.

Sejak pertengahan tahun ‘97 terjadi kenaikan harga-harga kebutuhan pokok. Gejala ini mulai terasa pada bulan September tahun lalu dengan laju inflasi sebesar 1,3%. Inflasi terus tetap tinggi hingga pada bulan Januari ‘98 mencapai 6,9%. Laju inflasi seluruh tahun ‘97 menjadi 11,1% dan dalam 10 bulan pertama tahun anggaran 1997/98 telah mencapai 16%. Laju kenaikan harga ini juga dipicu oleh kekeringan yang panjang, yang menyebabkan turunnya produksi pertanian dan terjadinya kenaikan harga-harga kelompok makanan.

Di sisi kestabilan eksternal, pertumbuhan ekspor sejak tahun 1993/94 secara umum lebih lambat dari pertumbuhan impor. Laju ekspor yang tidak terlalu cepat ini disebabkan oleh bertambah ketatnya persaingan, terutama untuk produk -produk padat karya yang telah mulai banyak dihasilkan oleh negara-negara pengekspor baru dan juga karena meningkatnya permintaan dalam negeri. Di lain pihak, kegiatan ekonomi yang terus meningkat termasuk investasi telah mendorong lajunya pertumbuhan impor.

Akibat kecenderungan tadi adalah terus meningkatnya defisit transaksi berjalan yaitu dari 2.9 miliar dolar Amerika pada tahun 1993/94 atau 2, 1% dari PDB menjadi 81 mi liar dolar Amerika pada tahun 1996/97 atau 3,5% dari PDB. Namun depresi rupiah yang besar pada pertengahan tahun 1997/98 telah menyebabkan melambatnya impor. Bersamaan dengan itu, ekspor terdorong meningkat. Terutama produk-produk yang komponen impornya kecil.

Sehingga hasilnya, maka defisit transaksi berjalan membaik hampir dari separuh dari tahun sebelumnya, yaitu menjadi 4,3 miliar dolar Amerika atau 2,2% terhadap PDB .Angka ini makin mendekati sasaran pada tahun terakhir REPELITA VI, yaitu sebesar 1,9% terhadap PDB.

 

STOK HUTANG

Sementara itu stok hutang Indonesia yang secara keseluruhan adalah 83,3 miliar dolar Amerika pada akhir Maret 94 telah meningkat menjadi 101,3 miliar dolar Amerika pada akhir Maret 95, dan meningkat lagi menjadi 136,1 miliar dolar Amerika pada akhir Desember  97.

Hutang pemerintah menurun dari 55 miliar dolar Amerika pada akhir Maret 94 menjadi 54,1 miliar dolar Amerika pada akhir Desember 97 atau menurun dari 66,1% menjadi 39,8% dari keseluruhan hutang. Sebaliknya. hutang dunia usaha swasta meningkat dari 28,3 miliar dolar Amerika menjadi 82 miliar dolar Amerika, atau meningkat dari 33,9% menjadi 60,2% dari seluruh hutang. Selanjutnya, Deb Service Ratio (DSR) sektor swasta meningkat dari 12,8% pada tahun 1993/94 menjadi 27,4% pada tahun 1997/ 98. Sebaliknya DSR sektor, pemerintah menurun dari 19,1% pada tahun 1993/94 menjadi 11,8% pada tahun 1997/98. Secara keseluruhan DSR swasta dan pemerintah mengalami peningkatan dari 31,9% pada tahun 1993/94 menjadi 39,2% pada tahun 1997/98. Dengan meningkatnya kewajiban pelunasan pinjaman swasta pada tahun-tahun terakhir REPELITA VI maka sukar mencapai kisaran DSR 24% pada akhir REPELITA VI.

Beban pembayaran kembali hutang luar negeri kita memang berat. Tetapi, Pemerintah mempunyai dana dan devisa yang cukup untuk memenuhi kewajiban kewajibannya.

Kita memang sedang mengalami kesulitan ekonomi yang berat. Tetapi, kita percaya bahwa dengan bekerja keras dan melaksanakan program-program yang telah kita susun, kita pasti berhasil mengatasi kesulitan-kesulitan itu.

Saya perlu menegaskan kembali, bahwa Pemerintah Indonesia akan tetap memenuhi seluruh kewajiban pembayaran kembali pokok dan bunga hutang luar negerinya secara tepat waktu.

Indikator ekonomi makro yang saya kemukakan tadi memang penting untuk mengukur apakah kita mencapai kemajuan atau kemunduran dalam melaksanakan pembangunan.

Tetapi yang tidak kalah penting adalah apakah tingkat kesejahteraan masyarakat kita bertambah baik ataukah malah merosot.

Salah satu ukuran penting mengenai keadaan kesejahteraan rakyat adalah jumlah penduduk miskin. Gambaran keadaan masyarakat kita dewasa ini adalah seperti yang berikut ini. Pada tahun 70 diantara kita terdapat 70 juta orang yang hidup miskin. Atau sekitar 60% dari seluruh penduduk tergolong miskin. Jumlah penduduk miskin itu berkurang menjadi 27,2 juta orang atau 15,1% pada tahun ‘90. Kemudian, menurun lagi menjadi 25,9 juta orang atau 11,7% pada tahun ‘93.

Sejak awal REPELITA VI dikembangkan upaya tambahan yang khusus tertuju hanya bagi kelompok penduduk miskin. Program penanggulangan kemiskinan ini yang paling utama adalah Inpres Desa Tertinggal. Hasilnya cukup menggembirakan. Pada tahun ‘96 jumlah penduduk miskin telah turun menjadi 22,3 juta orang atau sekitar 11,3%. Ini berarti bahwa selama 3 tahun telah terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sebanyak 3,4 juta orang, atau penurunan sebesar 2,3%.

Program penanggulangan kemiskinan merupakan bagian dari gerakan nasional penanggulangan kemiskinan untuk membantu yang lemah dengan semangat kebersamaan, kepedulian dan kesetiakawanan. Dalam rangka itu program ini telah diperluas dengan program Takesra/Kukesra, yang menghimpun dana dari anggota masyarakat yang lebih mampu.

Dalam waktu satu setengah tahun saja hampir seluruh 10,7 juta keluarga Pra­ Sejahtera dan Sejahtera 1 telah berhasil didorong untuk menabung. Sementara itu, sebanyak 10,5 juta keluarga sudah mendapatkan kredit untuk usaha (Kukesra). Kelompok usaha bersama (KUBE) yang dibentuk melalui Program Kesejahteraan Sosial juga telah mengembangkan usaha, meningkatkan pendapatan dan mempertinggi kesetiakawanan sosial.

Pengembangan Usaha bagi kelompok-kelompok penduduk miskin di desa ter­tinggal tambah terdorong karena telah terbuka pasar lokal melalui Program Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMT-AS) yang menyerap hasil produksi Pokmas. Desa­ desa tertinggal yang terisolasi juga mulai membuka hubungan dengan masyarakat yang lebih luas dengan adanya pembangunan prasarana desa tertinggal. Pembangunan prasarana perdesaan ini, sekaligus menciptakan lapangan kerja dan alih teknologi bagi masyarakat desa tertinggal.

 

ANGKATAN KERJA

Erat kaitannya dengan upaya meningkatkan kesejahteraan dan menanggulangi kemiskinan adalah penciptaan lapangan kerja. Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi selama tahun ‘93, ‘96, maka pertambahan angkatan kerja lebih dapat diikuti oleh perluasan kesempatan kerja. Angkatan kerja meningkat dari 81 juta orang pada tahun ‘93 menjadi 88,2 juta orang pada tahun ‘96, atau bertambah 7,2 juta orang. Pada waktu yang sama,jumlah pekerja meningkat dari 77 juta orang menjadi 83,9 juta orang atau bertambah 6,9 juta orang. Yang sangat membesarkan hati adalah meningkatnya kemampuan tenaga kerja kita, yang berpengaruh pula pada meningkatnya produktivitas . Sementara itu kesejahteraan tenaga kerja diperbaiki dengan ditetapkannya upah mininum regional (UMR). Pada tahun ‘97, UMR telah mencapai 95,3% dari nilai kebutuhan fisik minimum (KFM). Perbaikan kesejahteraan pekerja juga ditempuh melalui penerapan sistem jaminan sosial tenaga kerja (Jamsostek) .

Ukuran perbaikan kesejahteraan masyarakat lainnya adalah ketersediaan energi dan protein, yang pada tahun ‘96 mencapai 3.208 kilo kalori da 73,1 gram protein. Ini berarti tingkat kecukupan yang dianjurkan dalam REPELITA VI telah kita lewati, yaitu 2.500 kilo kalori dan 55 gram protein per kapita per hari. Demikian pula,dewasa ini konsumsi energi makin mendekati angka yang dianjurkan dalam REPELITA VI, sedangkan konsumsi protein bahkan telah melampuinya. Kondisi gizi masyarakat juga terus meningkat.

Masyarakat kita yang bertambah sehat tampak dari kenyataan-kenyataan yang berikut. Angka kematian bayi menurun dari 58 per seribu kelahiran hidup pada tahun ‘93 menjadi 32 per seribu pada tahun ‘97. Angka ini mendekati sasaran akhir REPELITA VI, yaitu 50 per seribu kelahiran hidup. Selanjutnya angka kematian ibu melahirkan menurun dari 425 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun ‘93 menjadi 390 per 100.000 pada tahun ‘94. Angka kematian kasar menurun dari 7,9 per seribu penduduk pada tahun ‘93 menjadi 7,5 per seribu penduduk pada tahun ‘97, yang berarti telah mencapai sasaran akhir REPELITA VI. Sejalan dengan itu, angka harapan hidup meningkat dari 62,7 tahun pada tahun ‘93 menjadi 64,2 tahun pada tahun ‘97, mendekati sasaran akhir REPELITA VI yaitu 64,6 tahun.

Untuk terus meningkatkan taraf kesehatan masyarakat , telah dilaksanakan penyuluhan gizi masyarakat perdesaan di seluruh posyandu yang berjumlah sekitar 257 ribu posyandu .

Untuk meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat secara lebih meluas dan merata, maka sejak PJP 1 telah dibangun jaringan puskesmas dan rumah sakit. Pada tahun 1997/98 kita telah memiliki 7.106 puskesmas dan 1.890 rumah sakit yang tersebar merata di seluruh Tanah Air. Peningkatan sarana pelayanan kesehatan tadi didukung oleh tenaga kesehatan dalam jumlah yang terus bertambah banyak dan penyebaran yang makin merata; yang terdiri dari belasan ribu dokter, 62 ribu bidan desa dan tenaga paramedis lainnya.

Pembangunan kesehatan dan kesejahteraan keluarga tidak dapat lepas dari pelayanan keluarga berencana. Sampai dengan tahun 1997/98 secara keseluruhan jumlah peserta KB aktif telah mencapai sekitar 26.8 juta pasangan usia subur. Jumlah ini melebihi sasaran dalam REPELITA VI yaitu 26,2 juta pasangan .Itulah sebabnya, kita berhasil mengendalikan pertumbuhan penduduk.

Perbaikan kesejahteraan rakyat jelas harus disertai dengan penyediaan perumahan. Pembangunan rumah sederhana dan rumah sangat sederhana telah mencapai lebih dari 550.000 buah, yang berarti telah melampaui sasaran REPELITA VI sebanyak 500.000 buah. Di samping itu terus bertambah banyak pembangunan drainase, pengelolaan persampahan, pengelolaan air limbah serta pengelolaan air bersih yang menjangkau ratusan kota . Demikian pula, makin banyak jumlah desa yang memperoleh pelayanan air bersih. Langkah-langkah itu berarti perbaikan lingkungan hidup yang sangat penting.

Kemajuan besar lainnya adalah di bidang pendidikan. Memasuki PJP II, Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Enam Tahun ditingkatkan menjadi Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun. Langkah ini sangat penting untuk membangun landasan yang kukuh bagi pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas pada tahap pembangunan berikutnya .

Dalam REPELITA VI kesempatan memperoleh pendidikan telah bertambah luas. Mutu pendidikan telah meningkat pada semua jalur, jenis dan jenjang pendidikan. Pendidikan makin jelas kaitannya dengan dunia usaha dan kebutuhan lapangan kerja.

Ringkasnya, kesejahteraan rakyat secara keseluruhan telah bertambah baik . Hal ini bisa terwujud karena kita berhasil mencapai banyak kemajuan dalam pembangunan di bidang-bidang ekonomi lainnya.

Pembangunan industri telah memperkukuh struktur ekonomi nasional.Kaitannya dengan sektor lainnya bertambah erat serta telah memperluas lapangan kerja dan kesempatan berusaha. Perkembangan sektor industri ikut mendorong berkembangnya kegiatan berbagai sektor pembangunan lainnya.

Dalam REPELITA VI telah berkembang industri yang menghasilkan barang­-barang untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan kehidupan rakyat, industri yang berorientasi ekspor, industri yang menggunakan sumber daya nasional, industri yang memiliki nilai strategis serta berdampak pada pengembangan industri lainnya, dan industri yang dapat mengembangkan kegiatan ekonomi di daerah-daerah di luar Jawa.

 

LAJU PERTUMBUHAN  INDUSTRI

Berdasarkan harga konstan tahun ‘93, industri pengolahan selama empat tahun pelaksanaan REPELITA VI telah tumbuh rata-rata sekitar 10,3% per tahun , sedangkan industri pengolahan non-migas tumbuh sekitar 11,4% per tahun. Laju pertumbuhan itu melampaui sasaran pertumbuhan rata-rata per tahun yang ditetapkan dalam REPELITA VI, yakni 10,2% untuk industri pengolahan dan 11, 3% untuk industri pengolahan non-migas.

Proses industrialisasi telah menghasilkan perubahan pada struktur ekonomi nasional dari titik berat pada pertanian ke industri. Pada tahun ‘93 peranan sektor Industri dalam Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 22,5%. Pada tahun ‘96 peranannya meningkat menjadi 25,5%. Angka ini telah mendekati sasaran yang ditetapkan dalam REPELITA VI yaitu 25,9%.

Sampai tahun ‘96 sektor industri telah menyerap 2,3 juta tenaga kerja. Industri kecil menyerap paling banyak tenaga kerja. Industri kita menghasilkan produk yang makin banyak jumlahnya. makin beraneka ragam jenisnya dan makin tinggi mutunya.

Ekspor hasil industri pengolahan non-migas cenderung meningkat. Pada tahun ‘93 nilai ekspornya 23,3 miliar dollar Amerika. Pada tahun ‘97 diperkirakan mencapai lebih dari 34 miliar dolar Amerika. Pada tahun ‘97 peranan ekspor industri pengolahan non migas terhadap keseluruhan ekspor nasional telah mencapai sekitar 65%.

Pertumbuhan ekspor hasil industri terutama berasal dari kenaikan yang cukup tinggi pada komoditi unggulan seperti tekstil, kayu olahan, produk kulit dan sepatu serta alas kaki, besi baja, permesinan dan otomotif, elektronika, produk karet olahan, produk kimia dasar, emas, perak dan logam mulia perhiasan lainnya.

Industri kecil makin besar peranannya dalam perluasan kesempatan berusaha dan kesempatan kerja pengembangan ekonomi perdesaan, penanggulangan kemiskinan, bahkan juga pada ekspor. Selama tahun ‘93- ‘96, ekspor industri kecil meningkat dengan rata-rata sekitar 4,4%. Pada tahun 96 nilai ekspornya mencapai 2,5 miliar dolar Amerika.

Meskipun peranan sektor Industri makin penting, namun tidak berarti bahwa sektor pertanian tidak penting. Sebaliknya, pembangunan nasional tetap akan bertumpu pada pertanian. Yang perlu dilakukan adalah meningkatkan produktivitas dan nilai tambahnya.

Produksi pertanian telah meningkat dan nilai tambah komoditas pertanian juga bertambah besar. Antara tahun ‘93-‘96, PDB sektor pertanian tumbuh rata-rata 2.9% per tahun. Pertumbuhan ini masih di bawah sasaran pertumbuhan REPELITA VI sebesar 3,3%. Namun, dalam tahun-tahun itu perubahan perikanan mencapai 5,1%, perkebunan mencapai 4,7%, peternakan mencapai 4%, dan tanaman pangan mencapai 1,6% per tahun. Pertumbuhan perikanan telah mendekati sasaran REPELITA VI sebesar 5,2%. Pertumbuhan perkebunan telah melampaui sasaran REPELITA VI sebesar 4,2%. Pertumbuhan tanaman pangan di bawah sasaran REPELITA VI sebesar 2,5%, karena musim kemarau berkepanjangan pada tahun ‘94 dan terjadi lagi pada tahun ‘97. Perkembangan itu menunjukkan bahwa perikanan dan perkebunan telah menjadi sumber pertumbuhan baru dalam sektor pertanian.

Selama REPELITA VI jumlah tenaga kerja yang diserap sektor pertanian cenderung menurun. Pada tahun ‘93 sektor pertanian menyerap sekitar 40,1 juta orang atau 50,6% dari jumlah tenaga kerja. Pada tahun ‘96 jumlahnya menurun menjadi 37,7 juta orang atau 44% dari seluruh tenaga kerja. Namun, dalam waktu yang bersamaan produktivitas tenaga kerja di sektor pertanian meningkat dari Rp 1,5 juta per orang pada tahun “93 menjadi Rp 1,7 juta per orang pada tahun “96 atau naik dengan rata­ rata 4,9% per tahun.

Peningkatan produktivitas tenaga kerja pertanian ini telah melampaui sasaran REPELITA VI sebesar 2,4%. Menurunnya jumlah tenaga kerja di sektor pertanian dan meningkatnya produktivitas tenaga kerja di sektor pertanian. yang disertai dengan peningkatan penyerapan tenaga kerja di sektor industri dan jasa , menunjukkan terjadinya proses perubahan struktur perekonomian nasional. Perubahan struktur itu baik dan benar arahnya.

Pertumbuhan  sektor pertanian tidak terlepas dari pembangunan prasarana pengairan. Pembangunan pengairan telah meningkatkan luas areal sawah beririgasi dari 5,5 juta hektar pada akhir REPELITA V menjadi 5,9 juta hektar pada tahun keempat REPELITA VI. Sasaran akhir REPELITA VI seluas 6,3 juta hektar.

Untuk mempertahankan swasembada pangan,telah dibangun jaringan irigasi baru dan pencetakan sawah yang seluruhnya seluas 16 1 ribu hektar, berada di luar Pulau Jawa. Untuk mengatasi dampak kekeringan dan sekaligus menunjang peningkatan pendapatan penduduk di pedesaan telah dilaksanakan rehabilitasi jaringan irigasi pedesaan yang selama REPELITA VI mencapai 1,4 juta hektar. Selain itu . telah diperluas pembangunan jaringan rawa serta pengembangan lahan gambut sebagai lahan produksi baru di Kalimantan Tengah.

Kemajuan pembangunan pengairan dan irigasi erat kaitannya dengan kegiatan di bidang kehutanan, terutama dalam penyediaan sumber daya air secara lestari serta terkendalinya erosi dan sedimentasi. Sampai dengan tahun keempat REPELITAVI telah direhabilitasi hutan-hutan yang msak dan lahan hutan kritis seluas 2,6 juta hektar. Pembangunan hutan tanaman industri (HTI) meliputi lahan seluas 1,2 juta hektar atau mencapai sekitar 94% dari sasaran akhir REPELITA VI. Pembangunan hutan rakyat mencapai luas 474,4 ribu hektar, melebihi sasaran akhir REPELITA VI seluas 7,50 ribu hektar.

Pembangunan transportasi darat diperkirakan dapat mencapai sasaran REPELITA VI. Sebagian besar pembangunan transportasi darat ini adalah program pembangunan prasarana jalan.

Angkutan sungai, danau dan penyeberangan bertambah baik dengan bertambahya jumlah dermaga dan kapal penyeberangan. Angkutan sungai dan danau penting sekali sebagai alat transportasi di daerah pedalaman dan daerah terpencil.

Kemajuan-kemajuan berarti juga tercapai dalam pembangunan transportasi laut dan udara.

Sementara itu sektor pertambangan mengalami pertumbuhan rata-rata 6% per tahun selama empat tahun REPELITA VI.

Pertumbuhan ini melampaui sasaran pertumbuhan REPELITA VI. yaitu rata-rata 4% pertahun. Yang menonjol peningkatannya adalah produksi batubara, baik untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri maupun untuk: ekspor. Produksinya meningkat dari 28,6 juta ton pada akhir REPELITA V menjadi 54 juta ton pada tahun 1997 Peningkatan ini telah mengangkat Indonesia menjadi produsen batubara terbesar ke-3 di kawasan Asia Pasifik. dan pengekspor terbesar ke-3 di dunia. Ekspor batubara pada tahun keempat REPELITA VI yang berjumlah 39,3 juta ton telah melampaui sasaran akhir REPELITA VI, sebesar 39,1 juta ton. Produksi dan ekspor bahan tambang lainnya pada umumnya juga menunjukkan peningkatan ,meskipun harga di pasar internasional tidak selalu menggembirakan.

Produksi minyak dan gas bumi dapat dipertahankan sesuai dengan sasaran REPELITA VI. Selain karena penemuan lapangan baru,hal itu juga dari pemanfaatan teknologi maju seperti enhanced oil recovery.

 

GASARAN PANGSA MINYAK

Dalam REPELITA VI kita mengupayakan turunnya pangsa minyak bumi dalam penyediaan energi dan meningkatnya pangsa energi non-minyak bumi.Sasaran pangsa minyak bumi dalam penyediaan energi primer pada tahun 1977/98 adalah 53,2%. Sasaran ini telah tercapai, karena pada tahun itu pangsa minyak bumi telah turun menjadi  53,1%.

Pembangunan tenaga listrik diperkirakan dapat memenuhi keperluan pertumbuhan ekonomi. Kebutuhan listrik untuk: daerah perdesaan ditunjang oleh penggunaan tenaga mikrohidro dan energi surya.

Salah satu sektor unggulan dalam perekonomian nasional adalah pariwisata. Kemajuan kepariwisataan tampak dari meningkatnya jumlah penerimaan devisa dan dari jumlah kunjungan wisatawan dari luar negeri. Selanjutnya, selama 4 tahun terakhir kegiatan kepariwisataan telah membuka hampir 700 ribu lapangan kerja baru.

Kemajuan-kemajuan pesat juga tercapai dalam bidang pos dan telekomunikasi, yang besar sumbangannya bagi kemajuan pembangunan di sektor-sektor lainnya.

Peningkatan pembangunan di segala bidang memerlukan penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek),terlebih lagi dalam memasuki era globalisasi dan persaingan yang makin keras. Pembangunan iptek memerlukan biaya yang besar. Karena itu pelaksanaannya kita sesuaikan dengan kemampuan pem­biayaannya.

Penguasaan Iptek ini mencapai kemajuan yang sangat besar, yang dibuktikan oleh kemampuan putera-puteri Indonesia untuk merancang dan membuat sendiri pesawat terbang canggih dalam kelasnya, yaitu N-250.

Pemerataan merupakan segi penting dari pembangunan kita yang harus kita wujudkan. Karena itu kebijakan dan dorongan pembangunan perlu sekali memperhatikan laju pertumbuhan ekonomi regional. Selama tiga tahun pertama REPELITA VI rata-rata kinerja pembanguann daerah untuk semua provinsi telah mencapai sasaran REPELITA VI. Provinsi-provinsi di kawasan Indonesia sebelah timur ternyata tumbuh lebih tinggi dibanding dengan yang berada di kawasan sebelah barat. Selain itu, penurunan angka kemiskinan di kawasan sebelah timur ternyata juga lebih besar dibanding di kawasan sebelah barat.

Dalam pada itu, program transmigrasi dalam REPELITA VI telah memberi sumbangan yang penting terhadap penyebaran penduduk, pengentasan kemiskinan, peningkatan pemerataan pembangunan antardaerah, serta pengintegrasian masyarakat.

Untuk mewujudkan pemerataan, lebih-lebih untuk melaksanakan amanat Pasal 33 UUD ‘45, maka peran koperasi bertambah penting sebagai badan usaha dan wadah ekonomi rakyat. Bidang usahanya meluas di berbagai sektor produksi dan jasa , terutama dalam bidang usaha simpan pinjam. Di wilayah pedesaan koperasi telah berkembang menjadi lembaga ekonomi masyarakat yang utama.

Sampai dengan tahun keempat REPELITA VI telah terbentuk lebih dari 52.000 koperasi dengan nilai usaha Rp13,6 triliun dan jumlah anggota lebih dari 28 juta orang. Di antaranya, lebih dari 12.000 koperasi telah berkembang menjadi koperasi mandiri . Sekitar 4.700 koperasi-termasuk sejumlah koperasi simpan pinjam-telah berkembang menjadi usaha berskala menengah dan besar, dengan nilai usaha lebih dari Rp1 miliar setiap tahun.

Pembangunan tidak mungkin membawa kemajuan, bila tidak didukung oleh kemampuan aparatur negara yang memadai. Dengan segala kekurangannya, kemampuan aparatur negara kita jelas meningkat dalam bidang perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan tugas-tugas pemerintahan umum maupun tugas-tugas pembangunan.

 

TIBA-TIBA TERGOYANG

Sejak pertengahan kedua tahun lalu gelombang gejolak moneter datang menghantam. Seakan-akan semua yang kita bangun dengan susah payah, kadang­-kadang dengan kepedihan dan pengorbanan, tiba-tiba saja tergoyang-goyang. Kita bukannya tidak tahu akan kemungkinan yang ternyata datang itu.

Di waktu-waktu yang lalu saya beberapa kali mengatakan bahwa mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap, kita pasti merasakan pengaruh menjadi satunya perekonomian dunia. Pengaruh itu datang lebih cepat dari yang kita perkirakan. Akibat-akibat buruknya jauh lebih besar dari yang dapat kita bayangkan.

Ternyata ketahanan ekonomi kita tidak cukup kuat menghadap pukulan dari luar. Lagi pula, di samping pengaruh dari luar, sebagian dari kesulitan yang kita derita hari ini adalah juga karena kelemahan dalam tubuh kita sendiri.

Kita tidak perlu mencari kambing hitam. Juga tidak ada gunanya mencari kambing hitam. Jauh lebih berguna kita mawas diri. Kita mencari hikmah dari musibah ini.

Dengan penuh kesadaran kita harus berani melihat kelemahan dan kekurangan kita sendiri. Dari kelemahan itu kita cari kekuatan.

Jika kita berhasil keluar dari kesulitan ini, maka tubuh kita sebagai bangsa akan lebih kuat. Sebab, kelemahan-kelemahan yang ada selama ini akan terkikis.

Kita harus bersedia melakukan apa saja yang harus kita  lakukan untuk membebaskan bangsa kita dari krisis ini. Dengan penuh kesadaran kita harus mengutamakan kepentingan nasional dan kepentingan bersama di atas kepentingan kita masing-masing.

Dengan hati mantap seperti itu, bangsa kita pasti dapat mengatasi semua ujian berat yang sedang kita hadapi. Selanjutnya, kita dapat meneruskan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila.(T)

Sumber: BUSINESS NEWS (01/03/1998)

_____________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 35-50.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.