PERTAMINA TOLAK PERPANJANGAN KONTRAK LADANG MINYAK CALTEX

PERTAMINA TOLAK PERPANJANGAN KONTRAK LADANG MINYAK CALTEX[1]

 

Jakarta, Antara

Pertamina menolak perpanjangan waktu pengoperasian ladang minyak PT Caltex Pacific Indonesia (CPI) di Blok Coastal Plain Pekanbaru (CPP) di Riau, yang kontraknya akan berakhir tahun 2001.

Pemutusan kontrak itu menjadikan ladang minyak yang diduga masih mempunyai cadangan 1.480 juta barel minyak tersebut setelah tahun 2001 akan dioperasikan Pertamina, kata Dirut Pertamina Faisal Abda’oe pada raker Mentamben dengan Komisi VI DPR di Jakarta, Senin.

Ladang minyak CPP merupakan satu dari empat wilayah kerja operator minyak PT CPI yang telah beroperasi di wilayah Kepulauan Riau sejak 1971 melalui sistem Kontrak Bagi Hasil (PSC) dengan Pertamina. Tiga lainnya adalah Rokan, Mountain Front Kuantan dan Siak.

Dari seluruh wilayah kerjanya itu, PT CPI memproduksi hampir 50 persen dari total produksi minyak mentah Indonesia yang mencapai 1,5 juta barel per hari (bph).

Menurut Faisal Abda’oe, penolakan Pertamina atas permohonan perpanjangan kontrak Caltex di wilayah kerja CPP karena BUMN inidinilai telah mampu menguasai teknologi di bidang migas dan memiliki dukungan dana yang memadai.

Selain itu, pihak PT CPI tidak bersedia memenuhi syarat yang diajukan Pertamina untuk perpanjangan kontrak ladang minyak CPP, katanya. Persyaratan itu berupa penyerahan 10persen dari total hasil produksi minyak CPI kepada Pertamina.

Atas penolakan CPI itu, Pertamina pada 6 Juni 1997 memutuskan untuk mengakhiri kontrak PT CPI sebagai operator blok CPP yang luasnya mencakup 34 persen dari total wilayah kerja CPI di Riau.

Keputusan itu kemudian dilaporkan kepada Menteri Pertambangan dan Energi dan selanjutnya disampaikan kepada Presiden Soeharto 9 Juni lalu, kata Faisal Abda’oe.

Pihak Pertamina sendirijuga telah menyampaikan keputusan itu kepada PT CPI pada 23 Juni 1997.

“Disusul pacta 4 Juli lalu melaporkan ke sidang Dewan Komisaris Pemerintah di Pertamina (DKPP) antara lain menyangkut soal kesiapan pendanaan, sumber daya manusia dan transportasi.” ujarnya.

Untuk menghadapi pengalihan operator ladang minyak CPP, Pertamina telah menyiapkan sekitar 50-an tenaga ahlinya antara lain di bidang optimalisasi sumur minyak (Enhanced Oil Recovery), geologi dan migas.

Dikatakannya, pengoperasian ladang minyak tersebut minimal masih dapat dieksploitasi hingga 20 tahun setelah habisnya kontrak CPI pacta tahun 2021.

Untuk memproduksi ladang minyak tersebut selama periode 2001-2021, investasi yang dibutuhkan mencapai 1,3 miliar dolar AS atau rata-rata 60 juta dolar tiap tahun.

Sementara untuk tiga ladang minyak Caltex lainnya sudah diperpanjang beberapa waktu lalu. Blok Siak, misalnya, perpanjangan kontraknya sudah berlangsung sejak tahun 1991. Begitu pula dengan Blok Rokan dan Mt. Front Kuan tan yang sudah diperpanjang selama 20 tahun terhitung tahun 2005.

Meski sudah diperpanjang, katanya, split Kontrak Bagi Hasil ketiga blok tersebut disepakati menjadi 88:12 atau 88 persen bagi pemerintah dan 12 persen Caltex. Sebelumnya split tersebut masih 85:15.

Sumber : ANTARA (21/07/1997)

_____________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 412-413.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.