PERTAMINA NAIKKAN PRODUKSI BENSIN TANPA TIMBAL

PERTAMINA NAIKKAN PRODUKSI BENSIN TANPA TIMBAL[1]

 

Jakarta, Antara

Pertamina dalam waktu dekat segera meningkatkan jumlah produksi bensin jenis Super Tanpa Timbal dari 1.890 kilo liter pertahun saat ini menjadi 5.000 kilo liter pada 1997/1998.

Bersamaan dengan itu, pada November akan dibangun pula dua Stasiun Pengisian Bahan bakar Gas (SPBG) di Jakarta sehingga total jumlah SPBG yang ada pada akhir 1996 menjadi 13 unit di seluruh Jawa, kata Dirut Pertamina Faisal Abda’oe di Jakarta, Rabu.

Penjelasan itu dikemukakan Faisal Abda’oe menanggapi pernyataan Presiden Soeharto untuk menghentikan penggunaan zat tambahan/adiktif timah hitam pada pembuatan bensin.

Timbal (Plumbun-Pb) merupakan suatu zat adiktif yang digunakan untuk menaikkan kadar oktan dalam bensin. Makin tinggi kadar oktan maka akan mengoptimalkan kemampuan kerja mesin.

Penambahan produksi bensin Super Tanpa Timbal itu, menurut Faisal Abda’oe, sudah masuk dalam rencana jangka pendek BUMN ini dalam mendukung program Langit Biru. Rencana jangka pendek itu mencakup peningkatan produksi bensin Tanpa Timbal secara bertahap hingga 1999.

Sementara untuk bensin premium dan premix yang masih memiliki kadar timbal sekitar 0,45 gram perliter akan segera dikurangi sehingga menjadi 0,15 gram perliter.

Dalam jangka menengah dan jangka panjang kadar timbal itu akan dihilangkan sama sekali melalui pembangunan unit pengolahan (reformer) di Kilang Pertamina Musi, Sumatera Selatan dan Cilacap.

Penghapusan kadar timbal dalam bensin premium dan premix tersebut memang tidak dapat dilakukan dalam waktu dekat, karena investasi untuk membangun kilang “reformer” itu butuh dana sekitar 100 juta dolar AS (sekitar Rp 230 miliar) untuk tiap kilang.

Oleh karena itu, pembangunan “reformer” baru dapat dilakukan dalam jangka menengah dan panjang yaitu sekitar tahun 2003, kata Faisal Abda’oe.

Pertamina sendiri sejak beberapa waktu lalu sudah berupaya mengurangi polusi akibat gas emisi dari kendaraan bermotor yang menggunakan bensin produksi BUMN ini, ditandai dengan penghentian produksi bensin Super 98 pada 1990 yang mempunyai kadar timbal cukup tinggi dan menggantikannya dengan premix.

Sedang solar dan minyak tanah tetap dipertahankan karena tidak mengandung timbal.

Dengan penggantian tersebut maka sejak saat itu rata-rata kadar timbal yang ada di bensin produksi Pertamina menurun dari 2,5 CC per US Galon menjadi 1,5CC per US Galon atau setara dengan 4,5 gram timbal per liter bensin.

Tersendat-sendat

Menurut Direktur Pemasaran dan Pembekalan Dalam Negeri (PPDN) Pertamina Judosumarjo, pemasaran bensin Tanpa Timbal itu memang agak tersendat-sendat. Terbukti dari permintaan pasar yang hanya sekitar 150 kilo liter per bulan atau separuh dari yang diproduksi Pertamina.

Hal itu karena bensin jenis ini hanya cocok dipakai oleh kendaraan baru. Selain itu harga jualnya mencapai Rp 1.000/liter, relative lebih tinggi dibanding premium Rp 700/ liter atau premix Rp 875/liter.

Karena itu tidak heran jika Pertamina baru dapat memasok kebutuhan bensin tanpa Timbal tersebut hanya di tujuh stasiun pengisian bensin umum (SPBU) di Jakarta.

Atas dasar itulah, pihak Pertamina, menurut Judosumarjo, menitikberatkan kepada pemasaran Bahan Bakar Gas (BBG) yang kebutuhannya terus meningkat setiap tahun.

Untuk tahun 1996/1997, Pertamina akan menambah produksi BBG dari 15.200 kiloliter pada tahun lalu menjadi 21.500 kiloliter. Tambahan pasokan diharapkan didapat dari penambahan SPBG sepanjang tahun 1997 yaitu 16 buah oleh Pertamina dan tujuh SPBG oleh swasta.

Pada awalnya memang penggunaan BBG ini mengalami berbagai kendala seperti pengadaan lahan untuk SPBG, jaringan pipa gas, dan sarana peralatan nya yaitu conversion kit.

Secara bertahap, katanya, bekerjasama dengan beberapa perusahaan angkutan umum maka pasarnya terus meningkat.

Ia mengakui investasi untuk SPBG memang relative lebih mahal ketimbang pompa bensin biasa. Untuk membangun satu unit SPBG minimal butuh dana sekitar Rp 1,2 miliar di luar aset lahan. Sementara untuk satu unit SPBU hanya butuh sekitar Rp 400- Rp 500 juta di luar aset lahan.

Oleh karena itu, Pertamina mengimbau instansi terkait juga ikut membantu program pemasyarakatan pemakaian BBG, misalnya dengan memangkas birokrasi perijinan lahan dan insentif lainnya.

Sumber : ANTARA (31/10/1996)

______________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 480-482.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.