PERTAHANKAN NILAI2 HIDUP LUHUR WARISAN SEJARAH

PERTAHANKAN NILAI2 HIDUP LUHUR WARISAN SEJARAH [1]

 

Jakarta, Suara Karya

Presiden Soeharto mengemukakan bahwa sekalipun ada yang mengatakan kepribadian nasional dan warisan kebudayaan lama itu telah tertinggal zaman dan kolot, tetapi tak dapat disangkal bahwa banyak nilai luhur yang kita warisi dari masa lampau. Karenanya, yang penting adalah mempertahankan nilai2 hidup yang kita pandang luhur dari kepribadian bangsa sendiri itu, kemudian kita perkuat dengan nilai2 baru yang dibutuhkan oleh zaman pembangunan modern.

“Kemampuan kita memadukan nilai2 itu merupakan jaminan berhasilnya pembangunan bangsa kita yang makin kokoh, bertambah maju dan bercorak Indonesia. “Demikian Kepala Negara ketika bersama Ny. Tien Soeharto ke Taman Ismail Marzuki kemarin petang untuk meresmikan kampus Lembaga pendidikan Tinggi Kesenian Jakarta (dulu bernama Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta). Peresmian itu dihadiri Wakil Presiden, beberapa Menteri perwakilan negara2 sahabat, Gubernur, DKI Jaya Ali Sadikin, serta undangan lainnya.

Menurut Presiden, dengan corak Indonesia kita akan tetap merasakan suasana Indonesia sendiri dalam kehidupan yang bertambah maju, suasana yang memberikan kita kebahagiaan lahirlah dan keindahan rohani. Dan oleh karenanya mengenal kebudayaan bangsanya sendiri adalah merupakan bagian yang penting dari pembangunan nasional.

Kepala Negara juga mengungkapkan peninggalan2 kebudayaan kita dari masa silam seperti bangunan candi Borobudur, yang dikatakan mempakan petunjuk bahwa pada suatu masa yang silam bangsa Indonesia telah memiliki kebudayaan dan kecerdasan yang tinggi dalam suatu masyarakat yang kokoh dan sejahtera.

Dalam hal ini yang penting, demikian Presiden Soeharto, sebagai bangsa yang besar kita boleh hanya merasa puas dengan warisan yang kita terima dari nenek moyang kita berabad-abad yang lalu

“Kita sendiri harus membuktikan bahwa sebagai bangsa, generasi kita juga mampu melahirkan kreasi2 seni dan budaya yang akan menjadi kebanggaan anak cucu kita diabad2 yang akan datang, “katanya.

Dikatakan selanjutnya tidak diragukan bahwa kesenian telah dapat menjadi penggerakan kesadaran kebangsaan kita. Kesusastraan nasional kita yang lahir dalam bahasa nasional kita, telah dan harus dapat mempakan unsur penggerak dalam pembinaan rasa kesatuan bangsa kita. Demikian pula lagu kebangsaan, music nasional, seni rupa, seni film dan cabang2 kesenian kita yang lain.

Pembinaan Kebudayaan Nasional

Menyadari betapa pentingnya peranan kesenian dan kebudayaan dalam kehidupan satu bangsa, maka masalah itu dicantumkan dalam GBHN yang menyatakan, bahwa pembinaan kebudayaan nasional harus sesuai dengan norma­norma Pancasila. Dalam hubungan ini Kepala Negara mengajak seluruh seniman dan budayawan kita serta Dewan Kesenian Jakarta untuk segera memikirkannya, mengingat Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup kita harus membimbing dan menjadi isi dari pembangunan Indonesia.

Sehubungan dengan pembangunan kita yang mengarah tidak saja kepada kesejahteraan kebendaan tetapi juga kepada kesejahteraan rohani. Presiden katakan arah dan bimbingan menuju kesejahteraan rohani itu sebenarnya telah kita miliki, yaitu yang bersumber pada ragam kebudayaan kita yang indah dan luhur.

Dikatakan kebudayaan yang lahir dan tumbuh dari sejarah bangsa kita sendiri itu merupakan suatu kebudayaan yang selalu mengelar keserasian dan keseimbangan antara manusia dengan manusia, antara manusia dan masyarakatnya, antara kemajuan lahiriah dan kepuasan rohaniah, bahkan juga antara manusia dengan alam sekitarnya. “Kehidupan yang penuh dengan keserasian itulah yang sesungguhnya yang dimaksudkan dalam masyarakat Pancasila yang kita cita2kan: ialah masyarakat yang kita tumbuhkan di atas kepribadian sendiri, “kata Presiden Soeharto.

Mengikuti Berita Surat Kabar

Sehubungan dengan pentingnya mengenai kebudayaan sendiri sebagai bagian dari pembangunan nasional. Presiden Soeharto menyatakan bahwa dalam rangka usaha untuk lebih mengenal dan mengembangkan kebudayaan sendiri itu, peranan Taman Ismail Marzuki dan Pusat Kesenian Jakarta sangat penting.

Dalam awal sambutannya, Kepala Negara menyatakan bahwa kegiatan para seniman dan budayawan kita di TIM selalu diikutinya lewat berita2 di surat2 kabar.

Rp.2,5 Milyar

Sementara itu Gubernur H. Ali Sadikin dalam laporannya mengemukakan bahwa berkat kerja Dewan Kesenian Jakarta, Jakarta menjadi pelopor perkembangan kesenian nasional, bahkan di Jakarta kesenian-kesenian daerah bisa berkembang. Lebih lanjut dikemukakan Gubernur, untuk kegiatan DKJ dengan Pusat Kesenian Jakarta dan LPKJ, pemerintah DKI harus mengeluarkan hampir 2,5 milyard rupiah. Kelihatan banyak, tetapi untuk kesenian yang tak bisa dinilai dengan uang, memang tidak menjadi besar.

Gubernur juga menguraikan sejarah berdirinya Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang dibentuk 8 tahun yang lalu atas inisiatif pemerintah DKI yang juga menjadi harapan para seniman, untuk menciptakan Jakarta menjadi kota budaya. Diundang 25 seniman se-Indonesia untukmembentuk lembaga Kebudayaan yang akhirnya menjadi DKJ yang diurus oleh para seniman sendiri. Itu dikemukakan karena seniman sulit diatur. Mereka bekerja dengan caranya sendiri membentuk Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki untuk menampung kreatifitas para seniman untuk disajikan kepada masyarakat dan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) yang didirikan 8 tahun lalu yang disediakan bagi pemuda yang ingin belajar kesenian.

LKPJ adalah tempat pendidikan tinggi seni yang paling lengkap se-Indonesia dengan 8 Akademi musik, tari, teater, seni rupa, dan sinematografi dengan kampus yang megah dan fasilitas yang memadai, ujar Gubernur selanjutnya. Minat menjadi mahasiswa LPKJ tiap tahun meningkat, akan tetapi Gubernur juga mengingatkan bahwa karyalah yang menentukan kesenimanan seseorang.

Ternyata dengan terbentuknya DKJ, daerah-daerah lain ikut terpengaruh untuk membentuk Dewan Kesenian dan pusat keseniannya. Kegiatan yang diselenggarakan DKJ, tidak bersifat lokal saja sebab tidak jarang melibatkan seniman-seniman dari seluruh pelosok Indonesia. Di samping bekerjasama dengan daerah lain. DKJ juga bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan, ujar Gubernur lebih lanjut.

Kampus Yang Diresmikan

Kampus Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta yang diresmikan Presiden Soeharto kemarin terletak dalam kompleks Taman Ismail Marzuki, dan bangunan megah yang dibangun di atas tanah seluas 3.140 M2 itu telah menelan biaya Rp.480 juta dan Pemda DKI Jaya. Untuk membiayai LPKJ ini Pemda DKI Jaya masih menyediakan dana Rp.1,6 juta setiap bulan.

LPKJ kini memiliki 255 mahasiswa kesenian dan 96 orang guru, sedang Rektornya adalah Taufik Ismail. Perlu diketahui bahwa kompleks Taman Ismail Marzuki terdapat LPKJ yang merupakan lembaga pendidikan. Dewan Kesenian Jakarta sebagai lembaga seniman dan Pusat Kesenian Jakarta sebagai perintis administratip.

Disamping untuk membangun kampus LPKJ tersebut, dalam tahun anggaran 1978/1977 Pemda DKI Jaya juga telah mengeluarkan biaya Rp.40,- juta untuk memperindah TIM. (DTS).

Sumber: SUARA KARYA (26/06/1976)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 235-238.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.