PERSPEKTIF BISNIS SOEHARTO TURUN JANGAN LUPA REFORMASI

PERSPEKTIF BISNIS

SOEHARTO TURUN JANGAN LUPA REFORMASI[1]

 

Jakarta, Kontan

Diasuh Wimar Witoelar, perintis acara Talk Show dan Perspektif di televisi Indonesia, konsultan dari PT Inter Matrix untuk manajemen, corporate development, dan public affairs.

Menyaksikan pengunduran diri Soeharto, rasanya merinding kita. Perasaan tercampur-baur, tapi dalam satu kata, kita lega. Lega bahwa kita terhindar dari kekerasan yang rasanya siap menerkam dalam hari-hari menjelang Hari Kebangkitan Nasional. Lega bahwa kita bisa bernafas setelah ketegangan minggu-minggu terakhir, bulan-bulan terakhir. Lega bahwa kita lolos dari frustrasi, lolos kepedihan mengalami penyengsaraan rakyat oleh penguasa yang semakin keras dan serakah. Jangan lupa juga, hilang beban kita sebagai bangsa yang harus malu dilihat luar negeri, sebagai bangsa yang membiarkan diri dijajah oleh penguasa yang meningkat terus dalam korupsi, kolusi dan nepotisme. Jadi jangan salah, kita lega kita berterima kasih pada mahasiswa, pada Amien Rais, yang begitu berani memulai perjuangan ke arah suksesi dan reformasi ini.

Walaupun perkembangan ini sangat baru, ternyata banyak pertanyaan mengenai dampak turunnya Soeharto, yang datangnya dari pembaca. Saya ingin menjawab secara singkat beberapa pertanyaan, baik yang dikirim lewat telepon maupun email pada hari Kamis siang. Berikut pertanyaan dan jawaban saya, sebagai pengasuh rubrik Perspektif Bisnis di KONTAN ini.

TANYA : Sebagai orang yang selama ini gencar menginginkan agar Soeharto mundur, atau kalau boleh saya sebut anti Soeharto, Anda senang sekali dong mendengar pengumuman pengunduran diri itu.

WIMAR : Sebetulnya saya biasa-biasa saja pada Soeharto, kenal juga tidak. Tapi perilaku publik beliau sebagai penguasa sangat membuat kita sengsara, takut, dan tidak berdaya. Kalau rezim pengganti Soeharto juga menunjukkan tanda-tanda yang sama jeleknya, pasti kita juga tidak senang.

TANYA : Apa itu

“tanda-tanda yang sama jeleknya?”

WIMAR : Kalau memakai slogan reformasi, ya KKN lah : korupsi, kolusi, nepotisme. Intinya, yang merusak pemerintahan Soeharto dalam tahun-tahun terakhirnya adalah hilangnya kendali etis. Anak pejabat dibiarkan berbisnis menggunakan pengaruh bapaknya. Bahkan bukan cuma dibiarkan saja, tapi justru dibanggakan. Anak baru selesai sekolah sudah punya bisnis mentereng. Padahal bisnis yang bagus itu harus bagus dalam proses pertumbuhannya, Lihat saja sisa-sisa bisnis pejabat era Soeharto, pasti akan berantakan karena tidak memberikan nilai tambah. Jadi, percuma Soeharto diganti Habibie, kalau pergantian ini merupakan persekongkolan elite politik untuk melanjutkan kebiasaan jelek.

TANYA : Memangnya, apakah ada tanda-tanda kebiasaan jelek itu berlanjut?

WIMAR : Belum ada tanda-tanda, kalau kita ingin optimistis. Tapi secara realistis kita melihat bahwa jabatan presiden dialihkan kepada BJ Habibie, yang kita ketahui juga tidak banyak didukung rakyat. Apalagi budaya KKN yang melekat pada zaman pemerintahan Soeharto juga menjadi bagian besar dari perilaku nilai-nilai publik Bapak BJ Habibie.

Kita lihat saja nepotisme yang mengambil bentuk jabatan bagi anaknya, kontrak bisnis, pengelolaan perusahaan atas dasar kolusi, penunjukan adiknya menjadi Kepala Otorita Batam, dan banyak lagi. Ditambah lagi, sebagai pejabat publik, sebetulnya Pak Habibie tidak banyak menunjukkan prestasi bahkan banyak menghabiskan uang negara untuk proyek yang tidak produktif.

TANYA : Bukankah terlalu idealis mengharapkan KKN hilang sama sekali?

WIMAR : Tentu tidak bisa KKN hilang sama sekali. Hampir semua orang sudah ketularan sedikit atau banyak, selama 32 tahun ini. Tapi, sekurang-kurangnya, sistem dan budaya politik yang menumbuhkannya harus diganti. Kalau tidak, apa artinya reformasi?

TANYA : Secara praktis, di mana kita harus mulai?

WIMAR : Paling praktis dan paling strategis adalah menghidupkan kebebasan pers. Pers cetak, radio, dan terutama televisi. Kalau kita biasa melihat TVRI sebagai tempat siaran membosankan dan menutupi kesalahan pemerintah, kasarnya membodohi rakyat, cobalah kita ubah menjadi pers yang cerdas. Lucunya, TVRI bisa berubah dari yang paling jelek menjadi yang lumayan bagus, kalau pemerintah baru memang memperhatikan kepentingan reformasi. TVRI bisa menjadi TV rakyat, panggung untuk mahasiswa, untuk pakar, untuk adu pikiran, untuk pendidikan politik, dan tentunya untuk hiburan sehat untuk membebaskan kita dari belenggu indoktrinasi era sebelumnya.

Dari pers, kita bisa mengontrol semua kegiatan dan kecenderungan. Kita bisa memantau apakah masih berkelanjutan bisnis keluarga yang memanfaatkan koneksi. Banyak bisnis yang sehat, susah tumbuh karena terdesak oleh koneksi dan nepotisme. Tidak banyak gunanya menghimbau moralitas dan etika, kalau tidak ada sangsi. Sementara sangsi hukum diupayakan dengan caranya sendiri, kita mulai dengan sangsi sosial yang dipelopori oleh pers. Jangan membenarkan nepotisme atau mencitrakan bisnis anak pejabat sebagai hal yang penuh glamour. Bisnis keluarga telah membuat iklim bisnis menjadi busuk.

Pers bebas bisa diawali dengan menghilangkan SIUPP, mencabut larangan bagi wartawan yang independen untuk masuk berbagai organisasi pers seperti AJI, meninjau kembali lisensi televisi yang diberikan kepada konco dan keluarga Pak Harto, dan membuka akses bagi kelompok profesional. Lebih penting lagi, jangan ada pengendalian isi acara, biarlah kritis dan bebas.

Langkah lain dalam ekonomi, hukum, pendidikan sudah banyak disiapkan oleh kelompok reformasi dan jauh sebelumnya oleh para pakar yang betul-betul independen, bukan pakar pesanan seperti yang sering kita lihat.

TANYA : Lalu bagaimana dengan krisis moneter yang sudah membuat ekonomi kita macet total?

WIMAR : Itu sekarang menjadi lebih gampang. Ingat bahwa masalah utama bukanlah moneter atau fiskal atau institusional. Masalah utama adalah kepercayaan kepada pemerintah. Dengan mundurnya Soeharto, indeks bursa pasti naik pesat, nilai rupiah naik, perdagangan luar negeri menjadi lebih mudah, investasi asing akan disiapkan untuk masuk lagi. Mungkin paket IMF harus dirancang kembali untuk mengatasi situasi yang sudah semakin memburuk akhir-akhir ini. Bantuan bilateral mungkin bisa diharapkan lagi. Tapi ingat, ini tergantung pada pemerintahan baru, apakah bebas dari KKN atau tidak. Kalau hanya terbatas pada pergantian Soeharto oleh Habibie tidak akan banyak kemajuan. Keyakinan pasar hanya akan diraih kalau pemerintah baru ini betul-betul bersih.

TANYA : Jadi, kita sebagai orang biasa, harus bagaimana?

WIMAR : Sebetulnya sederhana, karena kita sudah punya agenda reformasi. Bukan yang dari Pak Harto dan Pak Yusril Ihza Mahendra, tapi yang dari mahasiswa, civitas akademika UI, UGM, dan pakar lain. Belum lagi program IMF. Semua program itu menjadi acuan kelanjutan pembangunan bangsa, dan kita sebagai rakyat harus mendukung yang mendengar dan menolak semua penyimpangan. Ingat, semua perjuangan kita bukanlah untuk melawan Soeharto, tapi untuk menciptakan masyarakat yang lebih bersih, lebih lembut, dan lebih produktif.

TANYA : Menurut Pak Wimar, bagaimana kepercayaan dari rakyat maupun dunia atas tampilnya Presiden Habibie ini?

WIMAR : Seperti tadi saya sebutkan, syaratnya penguasa yang sekarang mesti bersih dan mendengarkan suara rakyat. Kita lihat saja perkembangan selanjutnya, apakah Pak Habibie didukung oleh rakyat atau tidak. Juga, kita lihat apakah Pak Habibie mampu memulihkan kepercayaan Indonesia di mata dunia Internasional. Kepercayaan dari rakyat dan dunia itu sangat diperlukan saat ini untuk menyelamatkan Indonesia dari kemelut selama ini.

Harapannya, sih, Pak Habibie mau mendengarkan jeritan rakyat atau tidak? Kita bisa lihat dalam waktu dekat ini komposisi kabinetnya. Mampukah kabinet yang baru nanti menyelamatkan bangsa ini dari berbagai krisis itu?

Sumber : KONTAN (25/05/1998)

_______________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 740-743.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.