PERS ASIA BERSIKAP KRITIS ATAS PERGANTIAN PRESIDEN

PERS ASIA BERSIKAP KRITIS ATAS PERGANTIAN PRESIDEN[1]

 

Kuala Lumpur, AFP

Pers Asia Tenggara dan Jepang menyambut tampilnya Presiden BJ Habibie menggantikan Soeharto dengan sikap berbeda namun kritis. Ada yang menyerukan masyarakat Internasional segera mendukung Indonesia dan ada yang masih mempertanyakan kemampuan pemerintahan baru mengatasi krisis ekonomi.

Pers Malaysia menilai, pada masa pasca Soeharto ini, Indonesia butuh dukungan negara-negara tetangga, masyarakat Internasional pada umumnya dan komunitas finansial dunia.

“Kini saatnya bagi negara-negara tetangga, dengan semangat ASEAN, secara terbuka menunjukkan simpati dan pengertian untuk bangsa Indonesia dan membantu bangsa yang sedang menghadapi masalah.” demikian antara lain koran yang terbit di Kuala Lumpur, News Straits Times, melalui editorialnya kemarin.

Tugas membawa Indonesia melewati guncangan ekonomi dinilai menjadi sangat berat dan kompleks, karena resep Dana Moneter Internasional (IMF) telah menjadi obat yang sampai sejauh ini tidak mau diikuti oleh rakyat Indonesia. News Straits Times memuji keputusan Soeharto sebagai seorang negarawan yang mau mengundurkan diri, tapi mempertanyakan pengangkatan Presiden Habibie.

“Orang yang menjadi penggantinya (Presiden Habibie) mungkin tidak punya kekuatan seperti mantan jenderal itu (Soeharto).”

Koran ini tidak membantah penilaian bahwa kepala negara baru adalah orang dekat pemimpin sebelumnya. Juga tidak menyalahkan sepenuhnya kritik yang menyatakan bahwa perubahan lebih pada wajah, bukan sistem. Tapi New Straits Times menekankan, kritik mungkin punya landasan untuk mempertanyakan kemampuan Presiden Habibie di bidang ekonomi. Dalam kaitan ini, diakui bahwa mantan Wakil Presiden dan Menteri Riset dan Teknologi ini, pernah membuat beberapa kesalahan di masa lalu.

Komentar koran The Star, menyebutkan antara lain bahwa Presiden Habibie menghadapi tantangan raksasa.

“Banyak negara, secara tidak resmi menyerukan agar Soeharto mundur untuk menyelamatkan negara. Kini, dia (Soeharto) telah melakukan hal itu, dan kini waktunya bagi mereka (negara-negara lain) dan komunitas finansial Internasional menaruh uang di tempat yang selama ini menjadi sasaran mulut mereka.”

Koran Utusan Melayu yang pekan lalu secara terbuka mengkritik Soeharto, kali ini menyerukan kepada mahasiswa dan kelompok pro reformasi agar kembali ke rasionalitas karena sudah memenangkan ‘perang’.

“Indonesia sangat penting bagi stabilitas regional. Negara ini tidak boleh dibiarkan terus-menerus dalam keadaan chaos.” demikian koran ini melalui editorialnya kemarin.

“(Presiden) Habibie mungkin tidak sempuma. Tapi dalam situasi di ambang anarki, mungkin dia satu-satunya solusi. Pekerjaan dan tantangan yang harus dihadapi (Presiden) Habibie sangat berat dan rumit, karena dunia sedang memperhatikan Indonesia.” sambung Utusan Melayu.

Koran berbahasa Melayu lainnya, Berita Harian memuji Soeharto karena langkahnya yang menghormati konstitusi saat mengundurkan diri.

“Bisa saja kita membuat berbagai analisa tentang pengunduran dirinya yang diatur oleh kelompok-kelompok tertentu. Tapi kita tidak bisa menolak fakta bahwa Soeharto didorong keluar oleh tuntutan rakyat yang haus perubahan.”

Koran Straits Times (Singapura) menyatakan pengunduran diri Soeharto telah membuka ‘Peti Pandora’ dan banyak kekuatan yang saling bertentangan dalam masyarakat Indonesia mungkin muncul saat ini.

“Terlalu dini untuk menyatakan bahwa (Presiden) Habibie akan bertahan sampai akhir periode jabatan lima tahun pada 2003.”

Koran The Nation (Bangkok) menilai peralihan kekuasaan di Indonesia masih berbau nepotisme dan perubahan ini dinilai belum cukup.

The Bangkok Post bersikap senada dengan menyatakan bahwa Indonesia kini menghadapi masalah besar di bidang suksesi.

Pers Jepang mempertanyakan kemampuan Presiden baru mengatasi masalah sosial dan ekonomi yang sedang dihadapi bangsa Indonesia. Sejumlah koran memuji sikap Soeharto yang bersedia mundur. Tapi pujian ini diiringi dengan analisis yang menyimpulkan bahwa Indonesia kini menghadapi keadaan yang masih serba tidak pasti.

Koran Mainichi, melalui editorialnya menyatakan bila gagal membentuk sistem anti korupsi secepat mungkin, maka pemerintahan baru akan menjadi sasaran aksi­aksi anti pemerintah. Koran ini mengaku belum bisa memastikan apakah Presiden Habibie mampu menunjukkan kepemimpinan politik untuk menjawab sejumlah tantangan yang kini dihadapi bangsa Indonesia.

Sumber : MEDIA INDONESIA (23/05/1998)

___________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 526-527.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.