PERNYATAAN YANG PATUT DIRENUNGKAN

PERNYATAAN YANG PATUT DIRENUNGKAN[1]

 

Jakarta, Media Indonesia

Pernyataan Presiden Soeharto kemarin patut kita renungkan dalam-dalam.

“Bangsa kita tidak menganut sikap siapa yang kuat dialah yang menang. Dan kemudian menindas kelompok yang kalah.” kata Pak Harto dalam pidato di acara pembukaan Musyawarah Nasional Keluarga Besar Kader Pembangunan itu.

Sebagai tokoh nasional yang berperan dalam meraih kemerdekaan republik ini dan mempertahankan keutuhannya dari berbagai rongrongan, Pak Harto selalu menganjurkan agar musyawarah dijadikan landasan dalam mengambil keputusan bersama. Sebab, kata Kepala Negara,

“Demokrasi Pancasila yang kita kembangkan Iebih mengutamakan musyawarah untuk mencapai mufakat.”

Dalam musyawarah semua pihak diberi kesempatan yang sama untuk mengemukakan pandangan dan pendapatnya. Setelah semua pandangan dikemukakan, maka dapatlah dirumuskan kesepakatan bersama yang memuaskan semua pihak, tanpa ada yang merasakan dimenangkan atau dikalahkan. Dalam budaya nasional orang Jawa menyebutnya dengan falsafah menang tanpa ngasorake ngurug tanpa bala dan dalam teori manajemen modem konsep ini disebut sebagai win-win solution.

Kita berpendapat konsep musyawarah untuk mufakat ini memang merupakan konsep paling tepat dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan benegara. Terutama karena Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri atas ratusan suku bangsa, yang berarti pula secara teoritis mempunyai potensi disintegrasi yang selalu harus diwaspadai.

Salah satu upaya menjaga integrasi nasional ini adalah dengan terus-menerus menanamkan rasa kebangsaan yang tinggi, yang melihat keanekaragaman anak bangsa ini sebagai sebuah kekuatan dan bukan sebagai kelemahan. Yang hanya dapat dilakukan jika semua pihak di Indonesia merasa memiliki republik ini. Yaitu yang suara dan kepentingannya selalu diperhitungkan dalam pelaksanaan kehidupan berbangsa dan benegara tanpa peduli besar kecilnya pihak tersebut. Sebuah sistem yang selalu menjaga keseimbangan antara dominasi mayoritas dan tirani minoritas. Yang mendahulukan kepentingan bersama di atas kepentingan individu. Yang setiap individunya menjalankan falsafah yang disebut mendiang President Kennedy dengan kata-kata mutiara “Ask not what your country can do for you but what you can do for your country”.

Kita yakin bahwa bila konsep musyawarah untuk mufakat ini dijalankan secara konsekuen, maka keutuhan dan kemajuan tanah air tercinta ini akan selalu terjaga. Oleh karena itu, menjadi kewajiban semua warga Indonesia untuk menjalankannya. Sayangnya, hal ini belum terlaksana dalam kehidupan kita sehari-hari. Ricuhnya Partai Demokrasi Indonesia (PDI) belakangan ini adalah salah satu contoh kongkrit bila sebuah organisasi meninggalkan konsep musyawarah untuk mufakat ini. Demikian pula maraknya berbagai organisasi tandingan yang dibentuk oleh para anggota organisasi yang merasa kepentingannya tak terindahkan adalah contoh yang lain. Kita yakin bahwa semua gejala negatif  ini tak akan terjadi seandainya semua pihak menjalankan konsep musyawarah untuk mufakat secara konsekuen. Kita menyesalkan bahwa keinginan yang menggebu-gebu untuk menang sendiri, untuk menindas kelompok yang kalah, telah menjadi kecenderungan yang mengkhawatirkan dalam berbagai organisasi kemasyarakatan kita.

Kita prihatin bahwa perbedaan kepentingan diantara saudara sebangsa dan setanah air kini mudah meletup menjadi pertentangan yang berbuntut kepada adu kekuatan. Seakan-akan kita telah melupakan pelajaran pahit masa lalu tentang perpecahan di antara kita yang menyebabkan mudahnya penjajahan berlangsung di bumi ini. Tentang peribahasa yang sering diucapkan para Bapak Bangsa bahwa “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”.

Kita menghimbau kepada semua pihak yang sedang bersengketa untuk tidak melupakan upaya musyawarah untuk mufakat. Untuk meluangkan waktu mendengar pendapat semua pihak dan mengambil keputusan yang terbaik bagi kepentingan bersama. Kita ingin mengisi masa kemerdekaan dengan upaya membangun bangsa yang sejahtera, adil dan makmur. Dan tak rela untuk membiarkannya menjadi sekedar pentas untuk saling sengketa.

Sumber : MEDIA INDONESIA (25/06/1996)

_________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 122-123.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.