PERNYATAAN PRESIDEN TUNJUKKAN KONSISTENSI SIKAP YANG TERBUKA

PERNYATAAN PRESIDEN TUNJUKKAN KONSISTENSI SIKAP YANG TERBUKA

 

 

Jakarta, Suara Karya

Ketegasan tekad dan harapan Presiden Soeharto agar dilakukan koreksi terhadap akibat-akibat sampingan yang tidak menguntungkan pembangunan perlu ditanggapi dengan kepekaan dan keberanian organisasi-organisasi kekuatan sosial politik sebagai wadah penampung dan penyalur aspirasi rakyat.

Akibat sampingan pembangunan itu bisa bersifat negatif berupa penyimpangan-penyimpangan, tetapi dapat juga berupa peningkatan tuntutan-tuntutan yang semakin kualitatif dari rakyat yang belum terpenuhi.

Menjawab pertanyaan wartawan di DPR kemarin, anggota FKP Thea Sambuaga mengatakan, pernyataan yang tegas dari Presiden itu menunjukkan konsistensi sikap Kepala Negara yang terbuka terhadap koreksi-koreksi yang konstruktif

“Dinamika pembangunan yang semakin maju memang menuntut suatu keterbukaan untuk menampung dan menyalurkan aspirasi rakyat yang semakin meningkat dan tuntutannya yang lebih besar untuk berpartisipasi sebagai subyek pembangunan. Akibat-akibat sampingan semacam inilah yang memerlukan penyaluran agar tidak menjadi endapan­endapan tuntutan yang bisa bersifat eksplosif,” katanya.

Kepala Negara di depan Pimpinan Pusat Legiun Veteran RI di Istana Negara, Kamis menegaskan. “Kita harus berani mengadakan koreksi terhadap akibat-akibat sampingan yang tidak menguntungkan pembangunan agar pembanguaan kita berjalan lurus pada tujuannya semula.” Presiden Soeharto juga menyatakan, dinamika masyarakat yang menghasilkan aspirasi, harapan serta insptrasi baru harus ditampung, disalurkan sebaik-baiknya sehingga menjadi kekuatan pembangunan dan bukannya justru menjadi penghambat pembangunan.

Menurut Theo, penegasan itu menunjukk:an sikap konsisten Presiden terhadap pembangunan bidang politik dengan mengembangkan demokrasi Pancasila sesuai dengan perkembangan dinamika masyarakat.

“Disinilah Parpol dan Golkar harus bersikap tanggap dengan menggelorakan serta menyemarakkan partisipasi rakyat seluas mungkin secara aktif melalui mekanisme yang telah disempurnakan bersama,” ujar politisi muda dari Golkar itu.

Pernyataan yang disampaikan di depan forum legiun veteran itu, menurut anggota Komisi I DPR itu, juga mengandung makna strategis tersendiri. Forum itu menunjukkan bahwa generasi tua bertekad memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara irti serta peka juga terhadap usaha-usaha pembaruan. Hal itu menunjukkan tekad untuk mengembangkan kerjasama yang erat antara kearifan generasi tua serta dinamika generasi baru.

Pernyataan Presiden itu, kata Theo, juga merupakan suatu petunjuk yang perlu diperhatikan secara serius oleh aparatur pemerintah dalam melaksanakan tugas-tugas pembangunan agar tidak terjebak dalam rutinisme tetapi perlu memperhatikan harapan dan kebutuhan masyarakat yang semakin berkembang.

“Para pelaksana pengawasan perlu tanggap terhadap dinamika masyarakat tersebut agar kita dapat meminimalisir ekses-ekses pembangunan dan dapat mengantisipasinya,” ujarnya.

 

 

Sumber : SUARA KARYA(27/05/1989)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XI (1989), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 166-167.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.