PERLU UPAYA PSIKOLOGIS UNTUK ATASI EKONOMI

PERLU UPAYA PSIKOLOGIS UNTUK ATASI EKONOMI[1]

 

Jakarta, Media Indonesia

Pengamat ekonomi Mari Pangestu menekankan perlunya upaya psikologis yang intensif untuk mengatasi ekonomi rakyat di tengah terjadinya ketidakseimbangan permintaan dan penawaran saat ini.

Ketika diminta tanggapannya mengenai peralihan jabatan presiden dan rencana pembentukan kabinet baru, Mari di Jakarta, Kamis mengatakan, pemerintah harus mampu menenangkan rakyat bahwa semua kebutuhan dasar dapat terpenuhi.

“Tanpa ketenangan dari segi psikologi, rakyat akan terus resah dan kemungkinan buruk seperti pembelian besar-besaran akan terjadi lagi. Kondisi ini tidak akan menyelesaikan masalah.” kata Mari yang juga Direktur Eksekutif Pusat Studi Strategi Internasional (CSIS).

Tentang kepemimpinan baru dengan naiknya B J Habibie sebagai presiden, hal itu dinilainya belum menjawab persoalan krisis kepercayaan di tengah masyarakat terhadap kepemimpinan nasional. Kalau krisis kepercayaan itu belum terjawab, ujarnya, berarti permasalahan ekonomi yang sedang dihadapi bangsa Indonesia juga belum akan terselesaikan.

“Apakah hanya dengan mengganti orangnya akan menjawab permasalahan ekonomi. Kalau sistem dan kebijakan ekonomi yang diterapkan akan tetap sama dengan yang dijalankan presiden yang lama, hal itu tidak mengatasi masalah.” katanya.

Masyarakat dalam dan luar negeri, menurut Mari, sebenarnya tidak lagi mengharapkan pemimpin nasional yang berasal dari Orde Baru (Orba) karena memandang orang-orang dari Orba sudah sulit untuk dipercaya lagi.

Titik terang ke arah pemulihan ekonomi nasional akan dapat dicapai apabila muncul orang-orang baru yang baik dan berkemampuan, terutama di tubuh kabinet. Mari masih mempertanyakan apakah Presiden yang baru mampu mengubah sistem dan mampu menciptakan sistem yang tepat untuk melepaskan diri dari krisis sosial ekonomi secepat mungkin.

Perdagangan Internasional

Mengenai solusi yang tepat bagi perdagangan Internasional Indonesia, Mari mengatakan, di tengah tidak dipercayanya letter of credit (L/C) bank-bank nasional di luar negeri, sistem barter merupakan salah satu alternatif yang bisa dimanfaatkan pengusaha dan esportir.

Dia menilai, cara itu cukup efektif karena pada dasarnya Indonesia memiliki banyak sumber daya alam (SDA) yang bisa dibarter dengan produk-produk impor yang memang sangat dibutuhkan.

“Kita punya minyak dan gas serta kayu dalam jumlah besar. Produk-produk itu harus dimanfaatkan.” katanya.

Sementara Ketua Majelis Pertimbangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) AA Baramuli menegaskan perlu segera dilakukan upaya konkret untuk meyakinkan pihak luar negeri terhadap kondisi perekonomian nasional. Langkah-langkah yang harus ditempuh oleh Presiden BJ Habibie adalah dengan segera menyusun kabinet transisi serta melaksanakan reformasi ekonomi secara total dan menyeluruh.

“Kita harus percaya kepada Presiden BJ Habibie bahwa beliau mampu segera mengatasi persoalan ekonomi yang sudah sangat amburadul ini.” tandas Baramuli kepada Media be kaitan dengan mundurnya HM Soeharto sebagai Presiden.

Menurut Baramuli, pelaku pasar luar negeri sudah tidak lagi percaya terhadap perekonomian Indonesia menyusul krisis moneter hingga timbulnya gejolak sosial politik dalam negeri. Kekhawatiran para investor dan pelaku pasar asing ini semakin menjadi­ jadi dengan terjadinya peristiwa kerusuhan di berbagai daerah, khususnya Ibu kota Negara.

Sumber : MEDIA INDONESIA (22/05/1998)

_______________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 734-735.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.