Perlu Era Baru Yang Segar Dan Bersih

Yogyakarta, 26 Mei 1998

Kepada

Yth. Bapak Soeharto

Jl. Cendana No. I Menteng

Jakarta Pusat

PERLU ERA BARU YANG SEGAR DAN BERSIH [1]

 

Bapak Soeharto yang terhormat,

Saya memberanikan diri menulis surat dengan-harapan dapat sampai kepada Pak Harto. Sebelumnya saya haturkan rasa simpati yang besar atas kesediaan Pak Harto melepas jabatan presiden Republik Indone­sia. Pengorbanan tersebut meneerminkan kearifan dan kebijaksanaan Pak Harto untuk mengatasi gejolak dan perpeeahan di antara bangsa Indonesia. Saya dan banyak orang sangat menghargai itu dan tahu bahwa Pak Harto mencintai bangsa dan negara ini.

Saya berharap Pak Harto berkenan memaafkan banyak hal, termasuk rakyat Indonesia yang menghendaki Pak Harto turun dari jabatan. Namun demikian kami tidak membenei Pak Harto seeara pribadi. Yang rakyat tidak suka adalah sistem dan kebijakan pemerintah periode akhir­akhir ini, yang menyebabkan para pejabat orang kaya konglomerat dan elite lain semakin bertindak leluasa. Aktivitas, kekuasaan, kesuksesan dan kekayaan yang seolah dipertontonkan seeara menyolok kepada rakyat.

Rakyat dan kalangan bawah semakin merasa bahwa Indonesia hanya diperuntukkan bagi si pejabat, konglomerat, yang kaya dan yang kuasa. Pada akhirnya sistem dan kelunakan pemerintah terhadap mereka tak dapat lagi mengendalikan muneulnya musibah-­musibah dan bencana demi bencana yang membuat sebagian besar rakyat yang belum sejahtera semakin menderita.

Saya minta maaf kalau berterus terang begini.

Tapi, betul rakyat Indonesia tidak membenci Pak Harto yang telah membimbing bangsa Indonesia dalam pembangunan. Ini tak bisa dipungkiri. Tapi rakyat ingin Nahkoda dan awak kapal baru untuk selamatkan kapal Indonesia yang mulai karam. Kita ingin era baru yang segar dan bersih. Segar hanya bisa dicapai dengan sistem dan kebijaksanaan baru, yang Iebih berpihak kepada rakyat banyak dan tidak membebani rakyat. Bersih hanya bisa didapat dengan kontrol yang ketat sejak awal, agar tidak terjadi kelalaian-kelalaian.

Tentunya Pak Harto dapat memahami rakyat yang akhirnya tak dapat diam, apalagi kalau melihat para pejabat bebas bicara. Banyak rakyat Indonesia yang mulai jenuh. Mereka tak mau lagi dilarang­larang, tak mau diam, tak takut lagi dicekal atau dibredel, tak mau lagi hanya jadi penonton kemajuan negara dan kekuasaan serta kesuksesan kekayaan kelompok atas, serta tak kuat lagi kembali menjadi miskin.

Di sekitar saya sudah banyak orang PHK/menganggur Saya yakin suatu hari mereka akan mendatangkan suatu masalah. Banyak pula orang yang merana karena harga kebutuhan yang mahal dan beban­beban lain yang semakin tinggi. Itu kebijakan pemerintah rakyat bisa apakah? Pak Harto, banyak rakyat dan keluarga di dekat saya mulai menjadi miskin karena kesejahteraan yang menurun. Para mahasiswa mulai lapar karena uang wesel tidak cukup kalau harus sering-sering makan. Minta tambahan uang kepada orangtua pada kondisi sekarang adalah tidak mungkin.

Demikian juga dengan keluarga saya. Kami sedang dalam kesulitan karena anak-anak mulai akan masuk SMA. Tetapi saya dan keluarga masih bersyukur karena masih dapat makan rutin 3 kali walau sederhana.

Lepas dari semua itu, saya dan banyak orang masih berharap dapat sering mengetahui kabar Pak Harto dengan senyumnya. Sebagai sesepuh ABRI dan bangsa, semoga Pak Harto masih berkenan tampil dalam kegiatan sosial bagi orang banyak. Dan semoga masih mau mendengar keluhan orang kecil, walau tidak lagi menjadi presiden. (DTS)

Ny. Lusi Triharto

Yogyakarta

[1]     Dikutip langsung dari dalam sebuah buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998”, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 455-456. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.