PERLU BANYAK INISIATIF MELAKSANAKANNYA DG KREATIF

PERLU BANYAK INISIATIF MELAKSANAKANNYA DG KREATIF

Catatan Dari Jalan Cendana:

Oleh: Emesto M.Bardelona

Duta besar Indonesia untuk Malaysia, Makmun Murod nampaknya hati-hati sekali menjawab pertanyaan pers selesai ia diterima Presiden Soeharto di kediamannya di jalan Cendana.

“Tanya saja nanti sama Pak Sudharmono”, jawabnya mengelak pertanyaan wartawan ketika ditanya tentang rencana pertemuan Presiden Soeharto dengan PM Malaysia, Hussein Onn.

Ketika didesak ia malahan balik bertanya: “kapan waktunya disebutkan dalam berita di surat kabar?”

”Tanggal 4 sampai 6 Maret yad di Yogya”, jawab wartawan. “Saya tidak ingin membantahnya”, ujarnya kembali.

“Apa yang akan dibicarakan nanti?”, tanya wartawan lagi.

Makmun Murod sekali mengatakan ia tidak bisa memberikan penjelasan mengenai hal tsb. “Kalau begitu, sampai ketemu di Yogya tgl. 4 nanti”, ujar seorang wartawan.

“Saya akan berada di sana sebelumnya”, tukas Makmun Murod dengan cepat.

Tanggapi Secara Rasionil

Anggota DPR-RI dari Fraksi PDI, Drs. T.A.M. Sumatupang ketika ditemui di gedung DPR Senayan menyatakan, pertemuan secara tidak resmi antara kedua pimpinan pemerintahan itu memang perlu diadakan sewaktu-waktu untuk membicarakan bersama-sama kepentingan regional Asia Tenggara.

Hanya ia mengingatkan, kita tidak perlu terlalu terpengaruh oleh perkembangan yang begitu cepat berubah baik intemasional maupun regional. Disebutkan antara lain dibukanya hubungan AS – RRC, jatuhnya Kamboja ke tangan pemimpin komunis pro Vietnam dan konflik2 RRC – Vietnam.

Sehubungan dengan dibukanya hubungan AS – RRC menurut Simatupang tidaklah dengan sendirinya kita harus ikut punyahubungan dengan RRC. AS membuka hubungan dengan RRC adalah dalam kerangka kepentingan nasionalnya yang belum tentu sama dengan kepentingan nasional Indonesia.

Perkembangan hubungan kedua negara yang dulu bermusuhan itu belum begitu jelas jadi haruslah diikuti lebih dahulu dengan seksama.

Barangkali dalam hubungan jatuhnya Kamboja ke tangan pimpinan komunis pro Vietnam, Simatupang berpendapat kita harus menanggapinya secara rasionil. Ini sangat penting karena dewasa ini terdapat dua pola pemikiran. Pertama, ada yang sangat kuatir perkembangan itu membenarkan teori domino bahwa satu persatu negara Asia Tenggara akanj atuh ke tangan komunis. Kedua, adanya pendapat yang terlalu optimis bahwa Vietnam tidak akan meneruskan ekspansinya karena sibuk dengan masalah dalam negeri setelah sekian puluh tahun terus menerus terlibat dalam perang saudara. “Kedua pendapat yang berlebihan itu tidak tepat, yang penting menanggapi secara rasionil untuk kepentingan nasional Indonesia dan ASEAN’, katanya.

Untuk itu diperlukankeberanian interospeksi ke dalam lingkungan masing-masing agar dapat memperbaiki kekurangan masing-masing.

“Artinya kita harus meningkatkan kepercayaan pada diri sendiri dan pada rakyat kita sendiri, bukan menggantungkan diripacta kekuatan lain”, katanya dengan tegas.

Menurut Simatupang, menciptakan kondisi inilah hendaknya menjadi pokok pembicaraan kedua kepala pemerintahan itu nanti. Antisipasi yang tepat menanggapi perkembangan di Indocina.

Sementara itu anggota DPR-RI dari Fraksi Persatuan, Drs. H. Ridwan Saidi mengemukakan, kita mempunyai banyak harapan menjelang pertemuan Soeharto – Hussein Onn.

“Kiranya pertemuan pemimpin-pemimpin kedua bangsa serumpun itu dapat melahirkan suatu pemikiran ke arah kemantapan stabilitas regional Asia Tenggara”, ia berucap.

Dalam hubungan ini iamengemukakan lahirnya pemikiran, khusus dalam antisipasi terhadap perkembangan terakhir di Indocina. Menurut Ridwan, agaknya pertemuan tsb. diselenggarakan karena beberapa hal, tidak mungkin diadakannya suatu pertemuan puncak atau KTT ASEAN yang santer disebut-sebut sebelumnya.

Dialog bilateral ini merupakan rangkaian dari dialog sebelumnya antara PM Muangthai, Kriangsak Chamanand dengan PM Malaysia Hussein Onn belum lama ini di Chiang Mei. Bukan mustahil akan menyusul pula pembicaraan-pembicaraan dengan kepala­kepala pemerintahan lainnya seperti Singapura dan Pilipina.

Hal ini dilakukan secara intensif dengan pertimbangan bahwa ASEAN pada dasarnya adalah wadah kerjasama sosial, ekonomi dan budaya yang sejauh ini menghindari penampilan sebagai wadah kerjasama politik. Walaupun dalam hal-hal tertentu pendirian politik tidak bisa dihindarkan untuk dikemukakan, seperti terlihat dalam statemen para Menlu ASEAN menanggapi perkembangan terakhir di Kamboja.

Selain dari itu, Ridwan Saidi juga mengatakan, dialog ini akan bermanfaat mengingat tidak sedikit negara anggota ASEAN “menanggung getah” dari peristiwa yang terjadi di Indocina. Misalnya pengungsi-pengungsi Vietnam yang mengalir dengan derasnya ke selatan.

Pertemuan kedua kepala pemerintahan nanti diharapkan dapat menggalang sikap dasar politik yang sama menghadapi masalah dan ekses dari permainan, pertarungan kekuasaan di kawasan Asia Tenggara daratan.

“Kita cukup prihatin dengan kerepotan yang hams dialami dengan negara anggota ASEAN seperti Muangthai yang mempunyai perbatasan langsung dengan Indocina yang komunis”, katanya.

Karena bukan mustahil Federasi Indocina dengan dominasi Vietnam benar­ benar terwujud maka naluri ekspansi padakomunis akan pertama kali ke Muangthai. Apalagi hila rezim Heng Samrin yang sekarang berkuasa di Pnomp-pen dengan dukungan Vietnam dapat melakukan konsolidasi kekuatannya. Mereka akan membuat urusan pula di perbatasan dengan Muangthai. Walaupun sebenarnya sementara ini rezim Heng Samrin belum sepenuhnya mengatasi perlawanan bekas PM Pol Pot yang digulingkannya, ditambah lagi dengan kondisi Vietnam sekarang yang terpaksa membagi kekuatannya menghadapi serbuan RRC.

Bagaimanapun juga, kata Ridwan, suatu Indocina yang monolith berkiblat ke Moskow atau monolith berkiblat ke Beijing secara potensil akan menampilkan situasi yang tidak stabil di kawasan Asia Tenggara.

Menghadapi kemungkinan-kemungkinan hila dalam rangka antisipasi dari pada sikap politik ASEAN, kecenderungan situasi di Indocina harus dikaji dengan memperhitungkan “variable factors” atau berbagai macam faktor yang ada di kawasan tsb. maupun ambisi negara-negara besar.

“Kita jangan sampai salah dalam pengkajian masalah, karena dengan kesalahan itu berarti pula salah melakukan antisipasi”, ujarnya.

Tokoh muda Partai Persatuan itu akhimya mengharap, perlunya Indonesia mempunyai banyak inisiatif dalam pelaksanaan politik luar negeri yang bebas dan aktif dan mampu melaksanakannya dengan kreatif.

Jakarta, Pelita

Sumber: PELITA (24/02/1979)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 29-31.

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.