PERKEBUNAN NEGARA JANGAN MEMATIKAN PERKEBUNAN RAKYAT

PRESIDEN: PERKEBUNAN NEGARA JANGAN MEMATIKAN PERKEBUNAN RAKYAT [1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto mengatakan, perusahaan2 perkebunan milik negara di samping mengemban tugas mengelola kekayaan bumi untuk memberikan hasil yang sebesar­-besarnya bagi rakyat dan negara, juga bertanggungjawab untuk turut membantu mendorong perkembangan perkebunan rakyat.

Kepala Negara mengemukakan hal tersebut ketika meresmikan pabrik minyak sawit PNP (Perusahaan Negara Perkebunan) Tinjowan dan PTP (Perusahaan Terbatas Perkebunan) IX Pagar Merbau, pabrik fraksionasi dan rafmasi minyak sawit serta sekolah2 pertanian pembangunan/pusat latihan pegawai di Sumatera Utara hari Senin.

Presiden mengatakan, perusahaan perkebunan harus terus berusaha meningkatkan usahanya agar dapat lebih banyak memberikan penghasilan negara.

Ia mengingatkan, perusahaan2 perkebunan negara ditugasi untuk memelopori pengembangan industri pengolahan hasil perkebunan, seperti pabrik kelapa sawit ini serta industri hasil perkebunan lainnya, seperti gula, teh dan sebagainya.

Presiden juga mengharapkan, agarperkebunan negara harus menjadi pusat untuk pelaksanaan kegiatan intensifikasi usaha perkebunan rakyat yang ada di sekitar perkebunan negara, dengan melaksanakan pembinaan budidaya, pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan rakyat dan sebagainya.

“Dengan demikian maka perkebunan negara akan dapat mendorong perkembangan perkebunan rakyat, dan malahan tidak menjadi saingan ataupun mematikan usaha perkebunan rakyat tersebut,” kata Presiden.

Fungsi Sosial

“Perkebunan negara”, katanya lebih jauh, “memang tidak hanya menjadi alat ekonomi bagi negara, melainkan juga mengembang tugas sosial”.

“Beberapa kali telah saya tegaskan bahwa fungsi sosial disini tidak berarti bahwa perkebunan negara harus lantas berobah menjadi “badan sosial” yang memberikan sumbangan kesana-kemari melainkan menjalankan fungsinya untuk membuat perkebunan rakyat tumbuh secara sehat dan kuat”.

Presiden mengingatkan, perusahaan perkebunan negara juga berfungsi sebagai sumber kehidupan bagi masyarakat sekitarnya. Usaha perkebunan memberikan lapangan pekerjaan yang cukup luas, karena sifat usahanya yang memerlukan banyak tenaga manusia. Dengan demikian maka sektor ini sangat vital artinya bagi kesejahteraan rakyat, terutama penduduk di sekitarnya.

Dalam masalah tenaga ketja ini Kepala Negara minta agar diperhatikan, bahwa dengan semakin banyaknya ragam dan teknologi yang digunakan, maka banyak pula tenaga2 kerja yang trampil dan bermutu yang harus disediakan.

Oleh karena harus diusahakan untuk menciptakan tenaga2 kerja yang memenuhi syarat tersebut secepatnya dan dengan cara2 yang praktis dan efektif

“Pada masa pembangunan sekarang ini, gerak yang serasi antara bidang pembangunan dan pendidikan memang patut kita perhatikan. Karena itu saya menyambut gembira didirikannya Sekolah2 Pertanian Pembangunan dan Pusat Latihan Pegawai Departemen Pertanian di berbagai penjuru tanah air”, kata Presiden.

Ia mengatakan, bahwa pembangunan pabrik2 eli perusahaan2 perkebunan milik negara merupakan langkah maju dalam rangka pelaksanaan pembangunan nasional. Makin banyak usaha2 perkebunan yang mengolah hasil2 perkebunan dari bahan mentah menjadi bahan baku, bahkan juga menjadi bahan jadi, makin besarlah kemampuan nasional Indonesia untuk makin dapat berdiri di atas kaki sendiri, dan makin banyak pula penghasilan rakyat dari industri tersebut, demikian antara lain Presiden dalam sambutannya itu. (DTS)

Sumber : ANTARA (04/04/1977)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 460-462.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.