PERJUANGAN PEMBANGUNAN TIDAK LEBIH RINGAN DARI MEREBUT & MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN

PERJUANGAN PEMBANGUNAN TIDAK LEBIH RINGAN DARI MEREBUT & MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN

PRESIDEN PADA KONGRES KE 5 LVRI

Presiden Soeharto di depan peserta Kongres ke-5 Legiun Veteran Republik Indonesia untuk kesekian kalinya mengingatkan bahwa perjuangan pembangunan tidaklah lebih ringan dibanding dengan perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Menyampaikan sambutan pada pembukaan kongres tersebut di Markas Daerah Legiun Veteran RI, Medan, Sumatra Utara Rabu pagi, Kepala Negara selanjutnya mengatakan, banyak tantangan dari godaan yang dihadapi dalam melaksanakan pembangunan.

Tantangan itu datangnya baik dari luar maupun dalam diri kita sendiri. Tantangan dan godaan yang sering timbul dari dalam diri kita sendiri menurut Kepala Negara ialah kecenderungan untuk cepat menikmati hasil, hidup dalam gaya mewah tanpa menenggang rasa pada sebagian masyarakat yang masih kekurangan serta godaan-godaan lainnya.

Tantangan yang dihadapi dalam tahun mendatang akan sangat berat dan sulit mengingat keadaan perekonomian dunia yang sudah bertahun tahun dilanda kesulitan. Kesulitan ini akan masih terasa berat lagi mengingat saat saat ini kita akan memasuki Repelita IV.

Kepala Negara berharap agar sebagai pejuang, semangat pengabdian veteran tidak pemah padam. Meskipun seorang veteran tidak aktif lagi dalam lingkungan kesatuan ABRI ataupun organisasi lainnya, namun ini tidaklah berarti bahwa pengabdian untuk perjuangan bangsa selanjutnya telah selesai dan berhenti sebab, demikian kata Kepala Negara perjuangan adalah panggilan dan pengabdian, dan sama sekali bukan profesi atau pekerjaan.

Perjuangan adalah amal bakti kita kepada tanah air yang tidak mengenal akhir. "Oleh karena itulah, kita semua bangsa Indonesia harus mengobarkan semangat juangnya dan terus merenungkan kembali apa yang kita tuju dengan kemerdekaan."

Dalam kaitan itu veteran Republik Indonesia menurut Kepala Negara dapat memberikan sumbangan besar dalam membangkitkan semangat rakyat terutama kaum mudanya.

Konsolidasi Organisasi.

Untuk lebih mengerahkan dan menzarahkan potensi Veteran RI pada masa-masa yang akan datang, Kepala Negara berharap kongres dapat melakukan konsolidasi organisasi.

Dengan konsolidasi organisasi dan pengerahan setiap potensi yang ada Kepala Negara juga yakin bahwa veteran akan berhasil melaksanakan tugasnya dan membangkitkan semangat rakyat, dan menyiapkan kaum muda untuk meneruskan pembangunan dengan semangat perjuangan.

Pada bagian lain sambutannya, Kepala Negara mengemukakan bahwa melihat perjuangan bangsa sebagai proses sejarah adalah hal yang sangat penting, karena dengan melakukan yang demikian kita akan makin dewasa dan matang.

Kita menganggap perjuangan pembangunan yang sekarang-tidak hanya untuk masa depan, yang mungkin membuat kita begitu saja melupakan masa kini dan masa lalu, dan dapat membuat kita kehilangan kepribadian dan kekuatan sendiri.

Kita juga tidak menganggap pembangunan itu hanya sebagai persoalan masa kini saja, yang karena itu, mungkin akan meninggalkan keadaan yang buruk bagi generasi yang akan datang.

Kita juga tidak hanya melihat perjuangan ini sebagai kebesaran masa lampau saja, yang mungkin mengakibatkan kita hanya hidup dalam lamunan.

Proses Bersambung

Oleh karena itu menurut Kepala Negara kita harus melihat perjuangan bangsa sebagai proses bersambung yang tidak terputus-terputus, suatu proses perjuangan dengan landasan masa lampau untuk membangun hari ini dan hari nanti, untuk generasi yang sekarang dan generasi yang akan datang.

Sebagai proses yang demikian, makajalannya pembangunan akan bertambah kuat dan mantap, tidak akan kehilangan semangat dan arahnya semula.

Arah pembangunan semangat dan arah pembangunan itu adalah pembangunan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Ini tidak dapat lain karena perjuangan merebut dan menegakkan kemerdekaan memang juga dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat.

Semangat dan arah perjuangan tidak lain adalah membangun masyarakat yang berdasarkan prinsip-prinsip yang kita junjung tinggi, yaitu Pancasila dan UUD 45.

Karena itu demikian kata Kepala Negara dalam seluruh gerak pembangunan yang sekarang dan yang akan datang kita harus tetap berpegang kepada Pancasila dan UUD 45.

"Hal ini disebabkan karena Pancasila dan UUD 45 merupakan kebulatan daripada kepribadian bangsa kita, merupakan puncak dan cita-cita dari pada seluruh perjuangan bangsa. Karena itu pula memelihara semangat perjuangan, memelihara dan memperkokoh kepribadian bangsa, merupakan bagian dan tujuan tersendiri daripada pembangunan bangsa Indonesia.” (RA)

Jakarta, Sinar Harapan

Sumber : SINAR HARAPAN (14/12/1983)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VII (1983-1984), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 365-367.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.