PERJALANAN ANAK DESA YANG JADI PRESIDEN

PERJALANAN ANAK DESA YANG JADI PRESIDEN[1]

 

Jakarta, Bisnis

Soeharto akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden. Jenderal Besar yang dijuluki The Smiling General oleh O.G. Roeders itu ternyata masih ‘tersenyum’ saat melepas jabatannya.

Berikut kronologis Soeharto saat dia mulai menjadi Presiden hingga mundur dari jabatannya :

30 September 1965, Enam jenderal dan satu kapten Angkatan Darat (AD) dibunuh dalam aksi makar yang kemudian dikenal dengan peristiwa Gerakan 30 September PKI. Situasi tersebut memberikan peluang Mayjen Soeharto yang saat itu menjabat Pangkostrad mengambil alih tampuk pimpinan AD untuk memberantas G-30SPKI.

11 Maret 1966, Presiden Soekarno mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) yang merupakan pelimpahan wewenang kekuasaan dari Soekarno kepada Soeharto.

12 Maret 1967, Soeharto membubarkan dan menyatakan PKI sebagai organisasi terlarang di Indonesia.

21 Maret 1967, Soeharto secara formal dinyatakan sebagai Pejabat Presiden oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Setahun kemudian, Soeharto dipilih sebagai Presiden dan menyatakan pemerintahannya sebagai Orde Baru (Orba) menggantikan apa yang disebut Orde Lama (Orla).

Maret 1973, Soeharto kembali terpilih sebagai Presiden oleh MPR. Dia juga terpilih kembali menjadi Presiden pada 1978,1983, 1988, 1993, dan 1998.

November 1994, Pemerintah melalui Menpen Harmoko memberangus tiga media massa, Tempo, Detik, dan Editor.

27 Juli 1996, Ratusan orang terbunuh di Jakarta akibat kerusuhan massa menyusul diambil alihnya gedung DPP PDI di Jl. Diponegoro Jakarta, oleh kelompok Soerjadi.

8 Juli 1997, Mata uang rupiah mulai melemah terhadap dolar dari Rp.2.300/dolar AS menjadi Rp.2.600/dolar AS.

8 Oktober 1997, Indonesia mulai meminta bantuan finansial kepada International Monetary Funds (IMF) untuk mengatasi krisis moneter.

10 Maret 1998, Soeharto kembali terpilih sebagai Presiden RI yang ke-7 kalinya berdasarkan Sidang Umum MPR untuk periode 1998-2003.

11 Maret 1998, Soeharto disumpah sebagai Presiden RI. Dia mengatakan rakyat harus mengencangkan ‘ikat pinggang’ tapi tidak mengungkapkan program yang jelas guna mengatasi krisis yang terjadi. Mahasiswa pun protes.

14 Maret 1998, Soeharto mengumumkan anggota Kabinet Pembangunan VII yang di antaranya adalah putri tertuanya Ny. Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut) dan konglomerat yang dekat dengan keluarga istana Muhammad ‘Bob’ Hasan.

16 April 1998, Ribuan mahasiswa mengadakan unjuk keprihatinan di seluruh kampus di Indonesia. Mereka menyebut Soeharto sebagai dalang dari segala bencana.

1 Mei 1998, Soeharto mengatakan reformasi politik harus dilakukan secara konstitusional dan tidak dapat dilakukan sebelum 2003.

4 Mei 1998, Pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) sebesar 71% dan tarif dasar listrik (TDL) 20%.

12 Mei 1998, Enam mahasiswa Universitas Trisakti tewas ditembak dalam unjuk rasa di kampus itu.

14 Mei 1998, Soeharto menyatakan setiap perubahan yang terjadi harus dengan cara konstitusional. Namun, kerusuhan, penjarahan, perampokan, dan pembakaran terjadi di seluruh Indonesia. Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi, misalnya, lumpuh total.

15 Mei 1998, Soeharto kembali dari Mesir sehari lebih awal dari rencana. Dia memerintahkan jajaran kabinetnya untuk bertindak tegas kepada perusuh. Pemerintah juga menurunkan kembali harga BBM dan TDL.

16 Mei 1998, Kerusuhan yang terjadi di Jabotabek menyebabkan lebih dari 500 orang tewas.

18 Mei 1998, Ribuan mahasiswa yang berasal dari Jabotabek dan beberapa kota di Indonesia mulai menduduki Gedung DPR/MPR. Mereka menuntut agar Soeharto mengundurkan diri. Menanggapi tuntutan itu, Ketua DPR/MPR Harmoko meminta Soeharto untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden RI. Tapi, Menhankam/Pangab Jenderal Wiranto menyatakan permintaan Harmoko itu merupakan pendapat individu.

19 Mei 1998, Setelah mengundang beberapa ulama, Soeharto menyatakan akan segera membentuk Komite Reformasi dan mengadakan Pemilu secepatnya. Namun, dia tidak mau mengundurkan diri.

20 Mei 1998, Peringatan hari Kebangkitan Reformasi urung diadakan untuk mencegah terjadinya pertumpahan darah lebih lanjut.

21 Mei 1998, Soeharto mengundurkan diri sebagai Presiden Republik Indonesia.

Sumber : BISNIS INDONESIA (22/05/1998)

___________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 467-469.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.