PERDAMAIAN DUNIA BUKAN HANYA HAK DAN TANGGUNG JAWAB BEBERAPA NEGARA BESAR

PERDAMAIAN DUNIA BUKAN HANYA HAK DAN TANGGUNG JAWAB BEBERAPA NEGARA BESAR [1]

 

Jakarta, Kompas

Terwujudnya perdamaian dunia bukan hanya hak dan tanggungjawab beberapa negara besar saja. Tapi semua negara, besar maupun kecil dengan sistim sosial atau politik apapun yang dianutnya, punya hak dan tanggungjawab tersebut. Bahkan, terwujudnya perdamaian itu merupakan hak ummat manusia. Demikian Presiden Soeharto ketika melantik dua Dubes RI yang baru, masing-masing Mayjen Kharis Suhud untuk Kerajaan Muangthai, dan Letjen Pol. Drs. Soekahar untuk Republik Sosialis Rumania. Acara itu berlangsung hari Sabtu, di Istana Negara.

Kepala Negara mengingatkan, di wilayah ini hal tersebut mulai diusahakan dengan membentuk ASEAN. Dengan perhimpunan ini, diusahakan untuk melaksanakan tanggungjawab bersama terhadap stabilitas dan perdamaian di wilayah ini, mengembangkan kerjasama yang saling menguntungkan bagi kemajuan masing-masing negara tanpa kehilangan kepribadian masing-masing.

Dan dalam jangka panjangnya wajib membentuk Asia Tenggara yang “berwajah baru”, yakni Asteng yang mengenal dirinya sendiri, percaya kepada diri sendiri serta bertanggungjawab kepada dirinya sendiri pula. Dan hal ini bukanlah untuk membentuk kekuatan baru di dunia, tapi untuk memberi sumbangan kepada perdamaian dunia dan kemajuan ummat manusia.

Makin Nyata

Presiden berpendapat, wujud perdamaian pada waktu ini tampak makin nyata dibanding tahun-tahun sebelumnya. Meskipun yang dilihat itu barulah permulaan dati pertanda-pertanda perdamaian dan peningkatan pembangunan bangsa-bangsa ini.

la menambahkan, perang Indocina yang telah berakhir merupakan kesempatan baru yang harus dimanfaatkan semua bangsa di kawasan ini. Yakni menyongsong jaman baru dengan saling pengertian, saling percaya dan kerjasama.

“Hanya dengan jalan itu, akan terciptalah perdamaian dan stabilitas yang membuka kesempatan bagi pembangunan rakyat masing-masing menuju apa yang mereka anggap baik bagi kehidupannya,” demikian Presiden.

Dubes Kharis Suhud (50 tahun) adalah bekas Ketua Misriga di Vietnam (1974) dan Ketua G-1 Hankam/Intel. Perwira tinggi AD kelahiran Madiun ini juga telah banyak pengalaman lain di dalam maupun di luar negeri, antara lain sebagai Atase Militer di AS. Sebagai dubes untuk Muangthai, ia menggantikan Mayjen Sutarto Sigit yang telah kembali ke Hankam.

Dubes untuk Rumania, Letjen Pol Soekahar (54 tahun) tadinya adalah pati yang diperbantukan pada Kapolri disamping menjadi anggota MPR sejak 1972. la pernah menjadi Pangdak VII/Jakarta Raya serta Komandan Jendral Akabri. Perwira tinggi Polri kelahiran Pati itu menggantikan Dubes Laksamana Muda Moersalin Daeng Mamanggung yang baru kembali lagi ke Hankam. (DTS)

Sumber: KOMPAS (23/06/1975)

 

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku III (1972-1975), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 565-566.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.