PERDAGANGAN LANGSUNG RI IRAN DAPAT DIPERLUAS

PERDAGANGAN LANGSUNG RI IRAN DAPAT DIPERLUAS

 

 

Perdagangan Indonesia-Iran di masa datang diharapkan meningkat dengan dibukanya perdagangan langsung ke dua negara yang selama ini dilakukan melalui negara ketiga.

Hal tersebut dikemukakan Menteri Perdagangan Rachmat Saleh SE dalam percakapannya dengan ANTARA di Jakarta, Senin sesaat selesai menerima delegasi dagang Iran yang dipimpin Menteri Perdagangan Hassan Abedi Jafari.

Menperdag Iran mengatakan kunjungannya yang dimulai sejak 18 Januari adalah dalam upaya mengadakan hubungan dagang langsung dengan Indonesia.

Dikatakan, komoditi non-migas Indonesia selama ini masuk ke Iran melalui Singapura dan Dubai, tetapi dengan adanya kunjungan misi dagang ini diharapkan perdagangan langsung ke dua negara dapat lebih ditingkatkan dengan lebih menguntungkan.

Hambatan utama yang merintangi upaya peningkatan perdagangan langsung adalah transportasi. Komoditi yang banyak dibutuhkan Iran a.l. tekstil, termasuk pakaian jadi, timah, karet dan ban kendaraan bermotor.

“Sedang Iran mengharapkan Indonesia dapat membeli minyak dari Iran. Dengan demikian penjualan komoditi non­migas Indonesia dapat lebih ditingkatkan,” katanya.

Rachmat Saleh mengatakan volume perdagangan ke dua negara masih relative kecil dan selama ini neraca perdagangannya selalu menguntungkan pihak Indonesia, kecuali tahun 1983 defisit bagi Indonesia sebesar 0,28 juta dolar AS.

Menurut data Biro Pusat Statistik, nilai ekspor Indonesia ke Iran tahun 1982 tercatat 892.052 dolar AS, sedang impor Indonesia dari Iran 17.873 dolar atau surplus untuk Indonesia sebesar 874.179 dolar AS.

Tahun 1983 nilai ekspor ke Iran naik menjadi 1,09 juta dolar AS, sedang impor melonjak menjadi 1,37 juta dolar AS ,atau defisit bagi Indonesia sebesar 0,28 juta dolar AS.

Nilai ekspor tahun 1984 turun sedikit menjadi 1,07 juta dolar AS, sedang impor anjlok menjadi 0,36 juta dolar AS, atau surplus untuk Indonesia sebesar 0,71 juta dolar AS.

Tahun 1985 nilai ekspor anjlok menjadi 0,38 juta dolar AS, sedang impor turun menjadi 0,08 juta dolar AS, atau surplus untuk Indonesia sebesar 0,30 juta dolar AS.

Dalam semestarpertama 1986,nilai ekspor Indonesia ke Iran kembali melonjak menjadi 2,96 juta dolar AS, sedang impor naik menjadi 0, 62 juta dolar AS, atau surplus untuk Indonesia sebesar 2,34 juta dolar Komoditi yang diperlukan Iran a.l. teh, kopi, rempah-rempah, lada, coklat, makanan dalam kaleng, minyak nabati, karet, kayu lapis, kayu gergajian, minyak atsiri, pupuk, timah, batu bara, rokok dan barang-barang elektronika.

Kunjungan Menperdag Iran ke Indonesia diharapkan juga dapat merealisasi “letter of intent” yang telah ditandangi beberapa waktu lalu ketika delegasi dagang Indonesia ke Iran.

Nilai kontrak letter of intent yang sudah ditandatangi tersebut mencapai sekitar 20 juta dolar AS meliputi berbagai komoditi antara lain pupuk, kayu lapis, tekstil dan ban mobil.

Menperdag Iran, selama empat hari di Indonesia di samping akan mengadakan kunjungan kehormatan kepada Presiden Soeharto, juga akan bertemu dengan beberapa menteri. (RA)

 

 

Jakarta, Antara

Sumber : ANTARA (19/01/1987)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 371-372.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.