PERBAIKAN NERACA PEMBAYARAN DIHARAPKAN DARI EKSPOR NON MIGAS

PERBAIKAN NERACA PEMBAYARAN DIHARAPKAN DARI EKSPOR NON MIGAS[1]

 

Jakarta, Antara

Kinerja neraca pembayaran Indonesia yang terlihat kurang menggembirakan dalam tahun anggaran 1996/1997 mengharuskan pemerintah untuk memfokuskan peningkatan kemampuan ekspor produk-produk non migas yang dinilai lebih mempunyai harapan.

Menurut lampiran pidato Presiden Soeharto pada penyampaian Nota Keuangan dan RAPBN tahun anggaran 1996/1997 pada Sidang Paripurna DPR-RI di, Jakarta, Kamis, walaupun pertumbuhan ekspor non migas melamban, namun secara keseluruhan neraca perdagangan menunjukkan angka yang positif.

Meskipun kondisi serupajuga terjadi di negara-negara berkembang lainnya, pemerintah menilai sangat menyadari perlunya terus diupayakan langkah-langkah pemecahan yang menyeluruh termasuk peningkatan kinelja ekspor produk non migas.

Dalam tahun anggaran 1996/1997 nilai ekspor secara keseluruhan mencapai 51.726 juta dolar AS yang terdiri dari ekspor migas 10.238 juta dolar dan ekspor non migas 41.488 juta dolar.

Total nilai ekspor itu merupakan merupakan peningkatan 3,972 juta dolar atau sebesar 8,3 persen dari nilai ekspor tahun anggaran 1995/1996 sebesar 47.754 juta dolar.

Perkembangan nilai ekspor migas yang terus menurun merupakan alasan lain penekanan harapan dari sektor non migas untuk meningkatkan nilai ekspornya di masa-masa mendatang.

Dari perkembangan kinerja ekspor nasional selama ini diperkirakan laju pertumbuhan ekspor non migas akan terus meningkat walaupun pada tahun anggaran 1997/1998 hanya diperkirakan sebesar 11,7 persen.

Pemerintah menyadari perkembangan ekspor nasional selama ini tidak terlepas dari faktor-faktor yang bersumber dari dinamika ekonomi internal dan eksternal seperti tingkat efisien dan daya saing ekonomi dalam negeri di sektor internal serta merosotnya harga dan volume komoditi dan munculnya negara pesaing baru di pasar Internasional disektor eksternal.

Penekanan peningkatan nilai ekspor non migas itu tidak hanya dibebankan pada produk-produk industri tetapi juga produk-produk pertanian yang realisasi ekspornya dalam tahun anggaran 1995/1996 menunjukkan hasil yang menggembirakan.

Antisipasi yang dilakukan pemerintah untuk menghadapi tantangan yang ada dalam perdagangan Internasional disebutkan berupa tindak lanjut dan penyempumaan kebijaksanaan deregulasi dan debirokratisasi untuk menyongsong era pasar bebas dunia.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dalam tahun berjalan kebijaksanaan deregulasi dan debirokratisasi itu dikeluarkan per sektor dan tidak bersifat keseluruhan yang dimaksudkan untuk mempercepat proses implementasinya di lapangan.

Dengan semakin tajamnya persaingan di pasar Internasional maka pemerintah memandang penting untuk melakukan analisa yang intensif dan berkelanjutan terhadap keadaan dan perkembangan negara-negara mitra dagang yang dilakukan oleh Tim Pengkajian Strategi Ekspor (TIPSE).

Selain itu, Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) yang telah dibentuk akan dimaksimumkan keberadaannya untuk mengantisipasi dan mengatasi tuduhan-tuduhan dumping yang dilontarkan oleh negara-negara pengimpor terhadap produk nasional karena tuduhan itu saat ini sudah dinilai mengganggu kelancaran pemasaran produk­produk nasional di pasar Internasional.

Sumber : ANTARA (06/01/1997)

_____________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 198-200.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.