PERANAN PARPOL2 MASIH SUPLEMENT – DIMANA PERANAN MENENTUKAN BERADA DITANGAN ABRI

Sjaichu Didepan Tjalon2 Diplomat

PERANAN PARPOL2 MASIH SUPLEMENT – DIMANA PERANAN MENENTUKAN BERADA DITANGAN ABRI [1]

 

Djakarta, Nusantara

Kurang lebih 20 orang pedjabat2 dari Deplu jang merupakan para peserta dari Seminar tentang kedudukan Indonesia dalam hubungannja dengan negara2 Asia Tenggara, kemarin pagi telah menghadap Ketua DPR-GR Sjaichu untuk diminta memberikan tjeramahnja mengenai kehidupan politik di Indonesia baik jang mengandung aspek2 dalam negeri maupun luar negeri.

Sjaichu jang juridis formil masih mendjabat sebagai Ketua DPR-GR (sampai 10 Oktober 1971 nanti, menurut rentjana) dalam memberikan tjeramahnja jang berdjudul “Kehidupan Politik di Indonesia”, telah membagi dua bagian jakni tentang “effektifitas politik” dan “Sedjarah lembaga Perwakilan Rakjat”. Mengenai hal jang pertama, Sjaichu telah mengupasnja sedjak permulaan dari berdirinja partai2 politik sampai sekarang ini. Demikian pula mengenai hal jang kedua, sedjak adanja KNIP sampai DPR hasil pemilu jbl.

Peranan Parpol2

Menjinggung soal peranan partai2 politik, diakui oleh Sjaichu bahwa sedjak lahirnja Dekrit Presiden 5 Djuli 1959 dulu, maka peranan parpol2 sebenarnja hanja suplement sadja. Dan setelah Pemilu 1971 pun, oleh Sjaichu disadari bahwa peranan parpol2 masih bersifat suplement sadja, dimana jang mendjadi faktor decision adalah ABRI. Sadar atau tidak begitulah keadaannja.

Penjederhanaan Parpol

Tentang penjederhanaan partai2, sesuai dengan Tap MPRS memang dikehendaki oleh semua pihak. Berapa djumlahnja belum bisa ditentukan. Hanja, kata Sjaichu, lebih ketjil djumlahnja adalah lebih baik. Demikian pula halnja didalam DPR, lebih sedikit djumlah fraksi2 itu adalah lebih baik, sebab berarti akan lebih mudah dalam memutuskan sesuatu.

Berbitjara tentang Dwi Partai, chususnja tentang partai Oposisi dan partai Pemerintah, sekaligus menanggapi pendapatnja Bung Hatta, Sjaichu menggambarkan bahwa situasi dan kondisinja belum bisa ditrapkan dewasa ini. Apakah dengan beroposisi itu nantinja tidak ditafsirkan “menentang” terhadap Pembangunan Pemerintah? Dalam hubungan ini Sjaichu tjenderung untuk tidak terlalu dipaksakan, biarkan proses berkembang dari bawah sementara mendjadi tanggung-djawab pemimpin2 untuk mendidik rakjat dalam soal2 pengertian berdemokrasi UUD 45 sendiri.

Seperti Theologi Filosofi Hukum, Sociologi, Seni Budaja, Sastra dan sebagainja. Namun perkembangan ini dibandingkan dengan perkembangan natural-science, berdjalannja tidak begitu lantjar, malahan sangat lambat, dan tidaklah begitu erat hubungannja satu sama lain.

Oleh karena itu, oleh Crame Brinton Social Sciences ini diberi nama: Non­ – Cummulative Knowledge.

Perbedaan antara kedua sifat ilmiah itu njata sekali. Kalau dalam natural science orang dapat melihat dan menjaksikan benarnja teori itu sesudahnja teori itu di-test dalam praktek, maka dalam social sciences, tidaklah terdapat satu pendapat terhadap problema-problema jang dihadapinja, sehingga berbagai teori timbul untuk menerangkan dan menemukan penjelesaian suatu problema dibidang sosial dan bidang-bidang lain, dibidang hukum, dan dibilang pada social sciences itu.

Dilihat dari sudut ilmiah maka perdjuangan kemerdekaan Indonesia tergolong dalam ilmu sosial-politik dan tak dapat dipisahkan dari proses sedjarah dunia, bahkan berhubungan sangat erat dengan perobahan2 dalam struktur dunia sedjak awal abad ke – 20.

Dalam pada itu nampak sekali the rule of ideas jang saja sebut tadi. Seperti saudara2 maklum ide2 jang mendjadi landasan dan dorongan gerakan dynamis dalam masjarakat dunia dalam abad ke 18, berasal dari buah pikiran para filsof Perantjis, Inggris dan Amerika, Jean Jaques Rousseau, Voltaire, Montesquieu august comte di Perantjis; Loeke, Hobbes, Hubert – Spenser, Thomas Paine di Inggris : Thomas Jefferson, Benjamin Franklin, Hamilton di Amerika. Buku2 jang ditulis oleh mereka mengenai kenegaraan menguasai alam pikiran masjarakat di Eropah dan Amerika pada waktu itu.

Ide2 dari para Filsuf Perantjis menggontjangkan masjarakat feodalisme dan absolutisme di Perantjis, sehingga meletuskan Revolusi dasjat dalam mana rakjat Perantjis dapat meruntuhkan sistem keradjaan Perantjis jang bertjorak otokratis, Feodalis dan absolut. Di Amerika pengaruh ide2 para filsuf Perantjis Inggeris dan Amerika sendiri demikian besarnja, sehingga rakjat Amerika memproklamirkan Kemerdekaannja pada tahun 1776 dengan memisahkan dirinja dari Keradjaan Inggris dibawah radja George III.

Dalam Revolusi Amerika, rakjat bertindak atas Hak untuk menentukan nasib sendiri (Righ of Self-determination) sedangkan Revolusi Perantjis mewudjudkan hak2 Asasi Manusia dan orde hukum (Rule of Law) menggantikan Pemerintahan se­wenang2 dari Radja2 Perantjis ber-abad2 lamanja.

Tidak dapat disangkal lagi bahwa pengaruhnja Revolusi Amerika dan Revolusi Perantjis adalah sangat besar dan menentukan dalam perombakan struktur masjarakat di Eropa dan perkembangannja, sehingga terwudjudlah konstitusi2 di Eropa dan Amerika berdasarkan ide2 jang asalnja dari Revolusi Amerika dan Revolusi Perantjis.

Pendidikan mengenai ke-tatanegaraan di Eropa Barat dan Amerika dan di daerah2 djadjahannja berdasar atas prinsip2 jang berasal dari dua revolusi besar di Amerika dan Perantjis itu.

Intisari dari prinsip2 itu adalah kebebasan perseorangan mentjari kebahagiaan bagi dirinja berdasarkan rules of law seperti jang dijatakan dalam Declaration of Independence Amerika tahun 1776:

All men are created equal: that among these rights are life, liberty and the pursuit of Happiness. That to secure these Rights Government are instituted among Men deriving their just powers from the Governed”.

Baik di Amerika maupun di Eropa Barat dasar Konstitusi negara2 didasarkan atas kepentingan perseorang, individual rights, individual interests De Grondreethen van de mensch, the fundamental laws for the individual, Hak2 azazi Manusia. ltulah hasil daripada Revolusi Amerika dan Perantjis.

Dan aktivitas manusia jang bebas dalam pikiran dan tindakannja menjebabkan revolusi dibidang tehnik dan industri sehingga terlalu sempitlah wilajah Eropa dan Amerika. (DTS)

Sumber: NUSANTARA (07/10/1971)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku II (1968-1971), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 772-774.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.