PERANAN ABRI DALAM PEMBINAAN KEHIDUPAN DEMOKRASI DAN HUBUNGAN DGN. KEHIDUPAN KEPARTAIAN DI INDONESIA Bagian (3)

PERANAN ABRI DALAM PEMBINAAN KEHIDUPAN DEMOKRASI DAN HUBUNGAN DGN. KEHIDUPAN KEPARTAIAN DI INDONESIA Bagian (3) [1]

Oleh : Brigdjen TNI Mas Isman

Djakarta, Angkatan Bersendjata

III ABRI Dan Karyawan ABRI

DWI-FUNGSI ABRI mulai berwudjud setjara njata pada tahun 1956, dimana setjara perseorangan tetapi setjara resmi, unsur2 ABRI ditugaskan dibidang2 diluar bidang pertahanan dan keamanan.

Pada waktu itu setjara formil belum diuraikan setjara djelas missi dari para karyawan ABRI tersebut tetapi bisa dirasakan bahwa missi mereka itu ialah untuk turut serta mengamankan berbagai lembaga negara dari intrik2 politik jang merugikan dan untuk bisa menerobos kematjetan2 jang ada sebagai akibat dari kehidupan politik jg kurang sehat.

Meskipun tidak diberi pedoman jang djelas & terperintji oleh fihak atasan, namun berkat djiwa ABRI-nja “djiwa TNI-nja,” maka pada umumnja para karyawan ABRI mendjalankan tugasnja seperti jang diharapkan.

Bimbingan dari pimpinan ABRI kepada para karyawan jang pada waktu itu belum djelas dan terperintji tidak hanja disebabkan oleh karena belum diketemukannja sistim penugasan jang sebaik-baiknja, tetapi lebih banjak disebabkan oleh karena kondisi dan situasi politik pada saat itu belum mengizinkan.

Tetapi bagaimanapun kurang djelasnja peranan ABRI pada waktu itu sebagai unsur karyawan tidak bisa diingkari, bahwa peranan ABRI dalam bidang pemerintahan, politik, ekonomi dan sosial semakin terasa didalam masjarakat.

Lebih2 setelah kenjataan menundjukkan bahwa kehidupan politik oleh karena berbagai sebab semakin lama semakin dipengaruhi oleh golongan PKI malahan mulai ada kenjataan bahwa garis politik negara mau diselewengkannja, maka peranan ABRI dan terutama para karyawannja mendjadi lebih menondjol dan menarik perhatian orang.

Kita harus mengakui, bahwa para karyawan ABRI, disamping jang berhasil, tidak sedikit pula jang kurang memenuhi harapan, malah boleh dikatakan sampai menemui kegagalan.

Meskipun ada segi2 negatif jang tidak sedikit terdapat dalam pelaksanaan tugas ABRI, tetapi mengingat bahaja PKI jang semakin njata dan membahajakan, maka orang jang berfikir prinsipiil tetapi menaruh harapannja kepada ABRI.

Berkatalah setjara spontan seorang tokoh politik jang mempunjai penglihatan djauh:

“Meskipun banjak sekali melihat kesalahan dan kekeliruan, tingkah laku tentara, tetapi…,galslik klezen most tussen deze Tentara ende PKI, wel,…ik heb het voor mijzelf al uitgemaakt, ikkies de Tentara”.

Kemudian situasi makin meruntjing antara golongan PKI dengan para simpatisannja dan ABRI dengan supportersnja, dan sebagai puntjak dari peruntjingan ini meletuslah pemberontakan Gestapu/PKI.

Ketangkasan dari Djenderal Soeharto dan ABRI beserta rakjat dalam menghadapi pemberontakan tersebut, betul2 merupakan djawaban jg tjepat dan tepat hingga dalam waktu jang relatif pendek, Gestapu/PKI dapat ditumpas.

Peladjaran pokok apa jang bisa ditarik dari pengalaman2 ABRI sedjak diintroduksikannja pemikiran “karyawan ABRI” 10 tahun jang lalu?

  • PERTAMA, bahwa karyawan ABRI memang mempunjai hak hidup dan mempunjai fungsi dan peranan jang berharga bahkan jang “indispensible” dalam masjarakat.
  • KEDUA, bahwa organisasi politik sipil kurang mempunjai ketahanan dan kemampuan untuk bisa mentjegah penjelewengan terhadap garis revolusi Pantjasila dan bahwasanja tugas Bhayangkara dari kemurnian revolusi Pantjasila, tidak bisa lain djatuh dipundak ABRI.
  • KETIGA, bahwa karyawan ABRI harus diakui mempunjai kelemahan2 tertentu jang sumbernja tidak tjukup ditjari dalam watak pribadi masing2 sadja, tetapi harus ditjari lebih dalam lagi.

Kenjataan menundjukkan bahwa tugas karyawan belum diberikan bobot jang semestinja sehingga bidang kekaryaan sering tidak dipandang sebagai arena untuk melaksanakan missi jang berat; bahkan ada ketjenderungan untuk menganggapnja sebagai wadah penampungan dari unsur ABRI jang dianggap kurang kemanfaatannja dalam formasi organik-ABRI, atau jang sudah mendekati masa pensiun.

Selandjutnja kelemahan ini bersumber pada hal jang bersifat strukturil, jaitu karena para karyawan se-olah2 mempunjai kekebalan terhadap pertanggungan djawab menurut tata tertib dan prosedur sivil, sehingga membawa ketegangan2 dan kematjetan2.

Untuk mengatasi ketegangan2 dan kematjetan2 tsb, maka karyawan ABRI biasanja mengambil langkah jang dianggapnja tepat dan tegas, jaitu dengan makin memasukkan tjara2 militer dalam bidang2 sivil.

Hal tersebut tidak mengherankan, karena pengalaman dalam tugas angkatan menundjukkan bahwa tata-tjara militer membawa hasil jang tjepat dan konkrit, tanpa menjadari bahwa proses militerisasi bidang sivil bisa berakibat berkembangnja keadaan kesistim militerisme.

Tidak boleh dilupakan bahwa militerisme itu akan menekan inisiatif daja kreasi dan membunuh partisipasi jang ichlas dari tenaga2 sivil, dan dengan begitu mengurangi hasil kerdja sivil.

IV Golongan Karya Non-ABRI Dan Non Afiliasi

Golongan ini timbul sedjak 10 tahun jang lalu sebagai suatu hasil pemikiran tenaga2 pedjoang, karena terbukti bahwa masih banjak tenaga pedjoang jang belum termasuk dalam Orpol atau Ormas jang ada.

Kenjataan ini disebabkan oleh berbagai persoalan tetapi jang terpenting ialah oleh karena golongan pedjoang ini berpendirian bahwa sewaktu mereka ikut aktif dalam perdjuangan fisik, tidak ada pemikiran untuk masuk partai ini atau partai itu, dan sampai pada saat itupun tidak “kerasan” untuk memasuki rumah2 kepartaian jang tersedia dimasjarakat.

Tetapi golongan ini ingin memelihara kontinuitas dari missi pengabdiannja kepada rakjat dan tanah air.

Fikiran tsb kemudian diperkuat oleh kenjataan bahwa di dalam masjarakat banjak orang jg tidak termasuk dalam PARPOL, maupun ORMAS jang berafiliasi. (DTS)

Sumber: ANGKATAN BERSENDJATA (06/06/1967)

 

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku I (1965-1967), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 741-744.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.