PENYUSUNAN REPELITA IV HARUS BERDASARKAN DATA OBYEKTIF

PENYUSUNAN REPELITA IV HARUS BERDASARKAN DATA OBYEKTIF

PRESIDEN :

Presiden Soeharto mengatakan, data statistik lingkungan hidup Indonesia diperlukan khususnya untuk menyusun Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) IV mendatang, karena Repelita tersebut harus disusun berdasarkan data yang obyektif.

Presiden mengatakan hal itu ketika menerima Menteri Negara Kependudukan/Lingkungan Hidup Emil Salim bersama pimpinan Biro Pusat Statistik di Bina Graha, Selasa.

Emil Salim mengatakan kepada pers, statistik lingkungan hidup Indonesia 1982 sebagian besar berasal dari sensus, survai dan catatan-catatan lain yang sudah ada, tetapi hasil angka-angkanya memberi gambaran tentang berbagai segi dan kondisi lingkungan hidup negeri ini sampai akhir 1982.

Menurut statistik lingkungan hidup Indonesia 1982, pulau Jawa hanya memiliki hutan (tanaman kayu-kayuan dan hutan negara) seluas 19,6% dari luas seluruh pulau ini. Sumatera 47,80%, Kalimantan 65,11%, Sulawesi 53,10% dan kepulauan lainnya hanya29,12%.Seluruhlndonesia,hutannya 51,51%.

Berbagai data menunjukkan meningkatnya kegiatan yang memiliki potensi sebagai sumber pencemaran, misalnya sektor pertambangan dan perindustrian. Karenanya, pencatatan intensitas kegiatan pertambangan penting untuk memonitor perkembangan keadaan lingkungan hidup.

Contoh di bidang lain disebutkan Emil Salim bahwa dalam sektor perhubungan, tampak peningkatan kepadatan kendaraan bermotor dari 12,2 kendaraan per kilometer panjangjalan pada tahun 1973 naik menjadi 26,4 kendaraan per km pada 1930.

Intensitas erosi dan sedimen transpor menunjukkan tingkat yang mulai mengkuatirkan di berbagai sungai seperti Cimanuk, Cisanggrung dan Cacaban.

Mengenai kepadatan penduduk dikatakan Pulau Jawa meningkat dari 576/km2 pada 1971 menjadi 690 pada 1980, jauh diatas kenaikan angka rata-rata seluruh Indonesia dari 62/km2 menjadi 77/km2 pada kurun waktu yang sama.

Ia mengatakan, kenaikan kepadatan juga mulai kelihatan di Nusa Tenggara dari 75/km2 menjadi 96/km2 dan di Sumatera dari 44/km2 menjadi 59/km2.

Urbanisasi meningkat dari 17,29% pada tahun 1971 menjadi 22,38% pada 1980. Khusus di Jawa dari 17,99% menjadi 25,13% pada kurun waktu yang sama.

Di pedesaan, kegiatan penduduk mulai meningkat di bidang kerja di luar pertanian misalnya di industri-industri, jasa dan perdagangan.

Mengenai angkatan kerja terlihat bahwa perkembangannya menunjukkan angka yang menurun dmi 54,1 % tahun 1961 menjadi 51,3%padatahun 1971 dan menjadi 49,9% pada 1980.

Penduduk yang bukan angkatan kerja, meningkat menjadi 50,1% tahun 1980, demikian Emil Salim.

Dalam pertemuan dengan Presiden Soeharto itu, Emil Salim disertai ketua BPS, Drs. Azwar Rasjid dan wakil ketua Sucipto. (RA)

Jakarta, Antara

Sumber : (ANTARA)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VII (1983-1984), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 153-154.

1 Comment
  1. us123456 says

    pin ri seharusnya sudah aktip di dunia indonesia untuk menjaga keutuhan nkri dan koripsi

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.