PENILAIAN PERS AS SOAL JATUHNYA SOEHARTO PARA PERAMAL PUN MENINGGALKANNYA

PENILAIAN PERS AS SOAL JATUHNYA SOEHARTO PARA PERAMAL PUN MENINGGALKANNYA[1]

 

Jakarta, Merdeka

Transisi politik di Indonesia berjalan begitu cepat. Karena perubahan itu berlangsung begitu cepat sehingga pemerintah AS harus meminta bantuan pejabat di Australia dan Singapura untuk membantu memantau situasi di Indonesia.

Jatuhnya Soeharto dinilai sebagai contoh klasik gerakan people power. RANGKAIAN peristiwa yang mewarnai perjalanan terakhir kepemimpinan Soeharto memang tergambar dramatis di sejumlah media massa Amerika.

Mingguan US News & World Report menggambarkan suasana itu sebagai Leaving Danger Year of Living Dangerously. Sebagai salah satu majalah terkemuka AS, US News mengirim wartawannya Erica Goode untuk menyaksikan saat-saat menegangkan itu.

“Dalam jangka waktu satu pekan semua berjalan begitu cepat. Setiap kejadian seolah menjadi sebuah keledoskop, dengan gambar yang lebih mengejutkan atau bahkan mengerikan daripada sebelumnya. Pengunduran diri Soeharto tampaknya menjadi tujuan setiap warga Indonesia mulai pedagang kaki lima hingga pengusaha di Jakarta Selatan. Namun banyak orang yang tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kamis itu, beberapa menit setelah pukul 09.00 pagi, perubahan itu tidak lagi diragukan.” tulis Goode.

“Beberapa hari terakhir, Pak Harto lebih banyak menghabiskan waktunya di Istana. Soeharto yang telah uzur ini berdiri dengan tenang di depan mikrofon di bawah lampu kristal. Di luar istana, ayam piaraan di dalam kandangnya berkotek-kotek. Seorang tentara bersandar pada mobil jipnya. Di dalam istana, Pak Harto membetulkan letak kaca matanya, tersenyum sebentar, siap menyampaikan kata-kata terakhirnya setelah memerintah selama tiga dekade dibawah orde baru,” lanjut Goode.

Pengunduran diri Pak Harto ini memang berjalan begitu cepat daripada yang diharapkan oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Itu menunjukkan sebuah gambaran luar biasa yang bisa dimasukkan dalam waktu dua pekan terakhir ini, kerusuhan aksi mahasiswa di atas gedung DPR dengan jaket warna-warninya, mayat-mayat korban pembakaran juga tank-tank dan kawat berduri dijalan-jalan Jakarta.

Laporan Newsweek tentang Indonesia lebih dramatis dengan judul A Bloodless Coup, liputan beberapa wartawannya, seperti Ron Moreau dan Maggie Ford dari Jakarta. Liputan itu juga didukung para wartawannya di AS. Seperti Melinda Liu, Rod Nordland, dan Dorinda Elliot.

Pesaing News week, TIME, juga mengirim wartawannya, seperti Terry Mc Cathy, John Colmey dan David Liebhold ke Jakarta yang dibantu Jay Branegan dan Douglas Waller dari Washington.

News week juga menggambarkan hari-hari terakhir Pak Harto dengan cukup dramatis.

“Dia mencoba menyusun kabinet baru, namun tidak satu pun yang ingin bergabung. Dia mencoba menyusun dewan independen para pakar, namun mereka justru berjanji akan mundur. Dia mencoba menerapkan undang-undang darurat, namun para jenderal tidak menyukainya. Pada akhirnya, bahkan para peramal (soothsayers) telah meninggalkan Pak Harto” tulis Noreau dan Nordland.

“Ketika dia berusaha memasukkan para tokoh mistik Jawa ke dalam stafuya belakangan ini, sebagian besar menolak. Akhirnya, penguasa negara terpadat keempat di dunia ini muncul di televisi, tangannya gemetar namun wajahnya yang khas penuh senyum masih tampak, dan mundur segera setelah pidato pengunduran dirinya ini selesai.” tulis Noreau dan Nordland lagi.

News week menilai, akhir pemerintahan Soeharto berjalan mulus. Namun, transisi ini hanyalah sebuah permulaan. Dan, mungkin saja masa depan justru akan semakin memburuk.

“Bagi orang luar, termasuk para staf Gedung Putih, jatuhnya Soeharto merupakan contoh klasik people power yang berhasil dengan baik.

“Begitu pentingnya peristiwa ini, para staf Gedung Putih pun harus meminta bantuan para pejabat di Australia dan Singapura untuk memantau perkembangan yang begitu cepat itu.” tulis News week.

Di Jakarta, lanjut majalah terkemuka AS ini people power tetap milik sebagian besar mereka yang berbaju seragam. Menurut beberapa sumber orang dalam yang dikutip News week, para jenderal berusaha melakukan manuver untuk menjatuhkan Soeharto dengan tujuan menghindari tindak kekerasan dan ancaman kudeta yang bisa menggoyahkan pemerintah. Ketika polisi anti huru-hara menembak empat mahasiswa Trisakti, 12 Mei lalu, sebagian besar menuntut Soeharto mundur (Irawan Nugroho)

Sumber : MERDEKA (01/06/1998)

_______________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 813-815.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.