PENILAIAN 4 MENTERI: BUKITTINGGI KOTA WISATA

PENILAIAN 4 MENTERI: BUKITTINGGI KOTA WISATA

 

Bukittinggi, Antara

Empat Menteri Kabinet Pembangunan V masing-masing Menparpostel Soesilo Soedarman, Mendagri Rudini, Menhub Ir. Azwar Anas dan Menteri KLH Emil Salim menilai strategis dijadikannya Bukittinggi sebagai kota wisata di Sumatra Barat.

Kota itu terletak ditengah-tengah dan dipersimpangan lalulintas darat di Sumatra, memiliki obyek wisata alam dan budaya tersebar di sekelilingnya dan penerbangan langsung ke luar negeri sudah bisa dilakukan melalui Bandar Udara Tabing, Padang.

Hal itu diungkapkan Walikota Bukittinggi Drs.B. Burhanuddin kepada pers Kamis sebagai hasil pertemuannya dengan ke empat menteri itu sesaat setelah menerima penghargaan Adipura dari Presiden Soeharto, Selasa lalu.

Ia mengatakan, dipandang dari berbagai segi, para menteri itu menilai cocok dijadikannya Bukittinggi sebagai kota wisata di Sumatra Barat. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan baik di sektor pemerintah maupun swasta dan masyarakat, yang ada kaitannya dengan kepariwisataan, akan memberikan dampak positif kepada daerah ini.

“Masalahnya sekarang,bagaimana kita memelihara dan meningkatkan apa yang telah dicapai selama ini,” kata Burhanuddin, yang selanjutnya menambahkan bahwa Bukittinggi ditetapkan sebagai kota wisata tanggal 11 Maret 1984 lalu oleh Ir. Azwar Anas, yang ketika itu menjabat Gubernur/KDH Sumbar.

Menurut dia, hal ini mendorong dan merangsang Bukittinggi bisa meraih penghargaan Adipura yang pada penilaian terakhir memperoleh kelebihan 18 angka dari kota Magelang, Jawa Tengah. Bukittinggi memperoleh nilai total 753 dan Magelang 735, katanya menambahkan.

Prestasi yang dicapai warga kota Bukittinggi selama ini diakui dan dihargai oleh pemerintah pusat yang sekaligus mengangkat harkat serta martabat kotanya. Namun ini semua harus dipelihara bahkan harus ditingkatkan.

 

 

Sumber : ANTARA (10/06/1988)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku X (1988), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 591.

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.