PENGUSAHA AS TAKUT INDONESIA AMBIL TINDAKAN BALASAN

PENGUSAHA AS TAKUT INDONESIA AMBIL TINDAKAN BALASAN[1]

 

Jakarta, Antara

Para pengusaha Amerika Serikat mulai merasa khawatir bahwa Indonesia akan melancarkan tindakan balasan terhadap mereka karena AS sering mengeritik Indonesia di bidang HAM dan demokratisasi.

Setelah bersama Mensesneg Moerdiono mendampingi Presiden Soeharto menerima Wakil Menlu AS Urusan Asia Timur dan Pasifik, Stanley Owen Roth di Jalan Cendana, Rabu, Dubes Indonesia untuk AS, Arifin Siregar mengatakan kepada pers, keputusan Indonesia membeli pesawat tempur Sukhoi dari Rusia juga mengecewakan mereka.

Arifin Siregar mengatakan, pada dasarnya hubungan kedua negara selama ini cukup baik, di bidang politik maupun ekonomi. Namun sejak satu setengah tahun terakhir ini, hubungan bilateral itu menghadapi masalah.

Masalah yang disebut “kerikil” oleh mantan Menteri Perdagangan itu antara lain adalah munculnya isu bahwa kelompok Lippo telah memberikan sumbangan kepada Partai Demokrat menjelang pemilihan umum di sana.

“Lippo dituduh memberikan sumbangan kepada Partai Demokrat untuk mempengaruhi kebijaksanaan Presiden Clinton terhadap Indonesia.” katanya.

Sekalipun isu Lippo ini telah beru bah menjadi pemikiran bahwa sumbangan itu diberikan guna mempengaruhi kebijaksanan AS terhadap pemerintah RR China, nama Lippo tetap dikaitkan dengan Indonesia.

Belo dan Timtim

Ia juga mengatakan pemberian hadiah Nobel kepada Uskup Belo telah membuka kembali masalah Timor Timur di kalangan AS terutama Kongres-nya apalagi kemudian mereka menyoroti masalah HAM, demokratisasi serta lingkungan hidup.

Dubes Arifin mengatakan, hubungan di tingkat pemerintahan pada dasarnya tidak menghadapi masalah, sehingga kendala itu timbul dari kalangan Kongres sekalipun jumlah mereka itu hanya beberapa orang.

“Akibatnya kalangan pemerintahan takut jika disebut mereka terlalu dekat dengan Indonesia.” katanya.

Keputusan Indonesia untuk membatalkan pembelian sembilan pesawat tempur F-16 yang ditawarkan langsung Clinton kepada Presiden Soeharto serta ditolaknya bantuan militer di bidang pendidikan (International Military on Education anf Training/ IMET) akhirnya menyadarkan mereka bahwa Indonesia tidak bisa ditekan.

Arifm mengatakan, baru-baru ini ia dihubungi sebuah perusahaan besar AS yang khawatir dikalahkan sebuah perusahaan Jepang dalam memenangkan tender sebuah proyek swasta di sini.

KemudianArifin menghubungi pengusaha nasional itu, dan diperoleh keterangan bahwa kemungkinan besar tender itu dimenangkan Jepang karena tawarannya lebih menarik.

“Karena itu, Amerika Serikat khawatir seolah-olah ada tindakan balasan dari pemerintah Indonesia akibat sikap Amerika sendiri.” Kata Arifin.

Ketika ditanya apakah keputusan pemerintah Indonesia untuk mengambil alih salah satu ladang minyak mentah Pf Caltex Pacific Indonesia (CPI) yaitu ladang CPP juga menambah kekhawatiran para pengusaha AS, Arifin hanya mengatakan ia belum mengetahui perkembangan terakhir.

Di tempat yang sama, Kepala Negara kemudian menerima Menlu Ali Alatas yang melaporkan rencana keberangkatannya ke Venezuela, Kuba guna meningkatkan hubungan bilateral serta kehadirannya pada Sidang Medis Umum PBB di New York.

Alatas mengatakan kepada pers bahwa ia juga pernah mendengar kekhawatiran para pengusaha AS itu.

“Mereka tahu bahwa mungkin tidak dapat kontrak. Tapi harus diingat bahwa kontrak diputuskan atas dasar merrit(hal yang paling menguntungkan, red).” kata Alatas.

Sumber : ANTARA (10/09/1997)

____________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 437-438.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.