PENGHINA PRESIDEN DIGANJAR SATU TAHUN PENJARA

PENGHINA PRESIDEN DIGANJAR SATU TAHUN PENJARA[1]

 

Dili, Antara

Terdakwa penghina Presiden Soeharto, Joao Do Rosario Pires AI Joao (24), dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Dili, Senin, oleh Majelis Hakim yang diketuai Agustinus L Rungu, SH diganjar satu tahun penjara potong tahanan sementara dan membayar biaya perkara Rp. 500,-.

Putusan majelis hakim tersebut sesuai dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) BudiArdiyanto, SH. Menurut Majelis Hakim maupun JPU dakwaan primer pasal 134 Jo pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP tidak dapat dibuktikan dalam persidangan, maka JPU menjaring terdakwa dengan dakwaan subsider pasal 137 Jo pasal 55 ayat (1) ke 1 yang dapat dibuktikan secara sah dan meyakinkan.

Hal-hal yang memberatkan terdakwa di antaranya adalah perbuatan terdakwa tersebut menurunkan wibawa pemerintah dan telah merusak nama baik Uskup Belo yang pacta saat itu (25 November 1996-red) sedang memberikan penjelasan kepada wartawan mengenai isi wawancaranya dengan majalah Der Spiegel.

Penghinaan terhadap Presiden Soeharto itu dilakukan terdakwa dengan menggelar spanduk yang menghina Presiden. Gelar spanduk itu sendiri dilakukan terdakwa ketika Uskup Diosis Dili Mgr. Carlos Filipe Ximenes Belo saat memberikan keterangan mengenai wawancaranya dengan majalah Der Spiegel yang dihadiri oleh wartawan dalam dan luar negeri (25/11/96).

Pacta saat itu terdakwa berdiri berdekatan dengan Hanibal yang membawa spanduk berwarna putih berukuran sekitar dua meter. Terdakwa mengakui dirinya sempat menggelar spanduk tersebut selama lima menit walaupun massa pacta saat itu mengatakan bahwa gambar spanduk itu jelek dan tidak baik.

“Massa memang sempat mengatakan bahwa spanduk itu gambarnya jelek, namun saya tetap memegangnya selama kurang lebih lima menit sekalipun saya tidak mengerti makna dari gambar tersebut.” katanya.

Pacta kesempatan itu ia juga mengakui bahwa dia dan teman-temannya sempat meneriakkan yel-yel “Viva Xanana dan Viva Uskup Belo” walaupun hanya ikut-ikutan dan tidak tahu apa arti kata-kata tersebut.

Tetapi, katanya, selama Uskup memberikan keterangan wawancaranya dengan majalah Der Spiegel tidak ada teriakan massa yang menghina Presiden.

“Saya tidak tahu kalau gambar Presiden yang berdampingan dengan Xanana itu dikategorikan penghinaan terhadap martabat Presiden. Saya sekarang benar-benar menyesal karena saya melakukan hal-hal yang tidak saya ketahui dan akhirnya merugikan diri saya sendiri.” ujarnya.

Sementara itu saksi Suryadi Sasmita dalam keterangannya mengatakan, terdakwa melakukan gelar spanduk tersebut dibantu oleh kedua rekannya yakni Hanibal dan satu orang lainnya hingga saat ini belum diketahui identitasnya.

Atas putusan majelis hakim tersebut baik terdakwa maupun penasehat hukumnya Aniceto Gutteres Lopez, SH menyatakan pikir-pikir.

(U.DLI-002/DLI-001/B/SBY-002/31/03/9713:23/RU1)

Sumber: ANTARA (31/03/1997)

____________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 490-491.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.