PENGAMAT UGM : RANCANGAN APBN 97/98 CERMINKAN SIKAP PERCAYA DIRI

PENGAMAT UGM : RANCANGAN APBN 97/98 CERMINKAN SIKAP PERCAYA DIRI[1]

 

Yogyakarta, Antara

Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 1997/98 yang diajukan Presiden Soeharto sebesar Rp 101,08 triliun mencerminkan sikap percaya diri Pemerintah yang sangat besar untuk menjamin stabilitas kesinambungan pembangunan.

“Menjelang Pemilu 97 semula banyak pengamat meramalkan APBN 97/98 akan ekspansif, tetapi ternyata kenaikannya hanya 11,6 persen dibanding APBN tahun lalu, ini mencerminkan sikap percaya diri yang luar biasa karena pemerintah tidak terpengaruh ambisi politis.” kata Staf Pengajar UGM Yogyakarta Drs. Tony Prasetiantono, MSc, Senin.

Dalam acara diskusi di Pusat Antar Universitas (PAU), Pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) itu lebih jauh mengemukakan, usulan Pemerintah untuk memilih bersikap konservatif seperti itu juga mencerminkan sikap waspada Pemerintah untuk mengantisipasi timbulnya gejolak ekonomi yang tidak menentu.

Menurut dosen Studi Pembangunan FE-UGM itu, karakter rumusan RAPBN seperti itu sangat tepat untuk menjamin adanya kesinambungan pembangunan berkelanjutan yang stabil yang sangat diperlukan para pelaku ekonomi.

Dengan adanya APBN yang tumbuh secara konsisten dan tidak melonjak-lonjak, para pelaku ekonomi akan memperoleh kepastian bahwa suhu dan situasi perekonomian Indonesia untuk masa yang akan datang akan tumbuh secara wajar.

“Jadi RAPBN 1997/98 yang diajukan Presiden Soeharto itu dapat dikatakan akan menjadi semacam garansi bagi para pelaku ekonomi, khususnya bagi para investor asing, untuk menanamkan modalnya di Indonesia.” katanya.

Gaji PNS

Menyinggung tentang pengeluaran rutin pasca RAPBN 1997/98 yang mengalami kenaikan 10,8 persen dibanding APBN tahun lalu, Tony menyatakan, hal itu merupakan salah satu isyarat gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan ABRI akan mengalami kenaikan.

“Meskipun tidak secara eksplisit Pak Harto tidak mengumumkan kenaikan gaji PNS dan ABRI, tapi dilihat dari angka kenaikan belanja pegawai saya yakin akan ada penyesuaian.” katanya.

Sementara itu pengamat ekonomi lainnya dari UGM, Dr. AR Karseno menyatakan, pemerintah hendaknya tidak cepat puas dengan hasil-hasil pembangunan ekonomi yang telah dicapai selama ini.

Menurut dia, dalam era global seperti sekarang untuk melihat hasil-hasil pembangunan ada baiknya pemerintah banyak bercermin dari hasil-hasil pembangunan negara lain yang juga merupakan pesaing dalam era kompetisi yang akan semakin ketat.

Dalam hal menarik investasi asing misalnya, sekalipun di Indonesia angkanya cukup besar yang telah disetujui namun dalam realisasi nya masih kalah dengan negara tetangga seperti Malasyia, Thailand dan Singapura, demikian pula dalam hal pengoptimalan perolehan pajak serta kualitas pelayanan bagi para investor.

“Jadi sebaik apapun prestasi ekonomi yang telah dicapai, jangan cepat berpuas diri sebab bila dibandingkan dengan prestasi negara tetangga, kita masih sering tertinggal.” kata Karseno yang juga peneliti ekonomi PAU-UGM.

Menurut dia, pembandingan itu tak dapat dihindari karena bangsa Indonesia akan memasuki era global yang dengan sendirinya akan dibanding-bandingkan dengan negara lain oleh para investor untuk melihat negara mana yang iklim ekonomi nya lebih kondusif.

Sumber : ANTARA (06/01/1997)

_________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 192-193.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.