PENDUDUK LERENG MERAPI JUGA DAPAT PRIORITAS UNTUK TRANSMIGRASI

Presiden Tinjau Krasak:

PENDUDUK LERENG MERAPI JUGA DAPAT PRIORITAS UNTUK TRANSMIGRASI [1]

 

Yogyakarta, Kompas

Penduduk lereng Gunung Merapi yang sewaktu-waktu terancam bahaya sebenarnya memperoleh prioritas untuk lebih dulu ditransmigrasikan, seperti halnya para korban banjir di Lumajang. Hal ini dinyatakan Presiden Soeharto, Rabu siang, di atas jembatan baru sungai Krasak, ketika meninjau pembangunan jembatan itu serta daerah yang terkena hantaman lahar dingin di sekitarnya.

Kepada Wakepda D.I. Yogyakarta Paku Alam dan Bupati Magelang Drs. Achmad, Presiden mengemukakan yang penting sekarang adalah menjelaskan kepada penduduk arti maupun manfaat transmigrasi. Ia membenarkan keterangan Bupati, bahwa penduduk daerah subur biasanya sulit diminta pindah tempat. “Mereka yang dipucuk-pucuk gunungpun demikian”, kata Presiden, ketika Bupati menjelaskan bahwa penduduk selalu kembali jika dirasa keadaan agak aman…

Menurut keterangan, penduduk sekitar aliran sungai Krasak yangjadi korban amukan lahar – dingin tanggal 26 Nopember sekitar 600 KK. Banyak di antara mereka yang ladang atau sawahnya tertutup pasir. Bupati memperkirakan sawah itu dapat dihidupkan lagi dalam waktu 18 bulan sampai dua tahun, jika aliran sungai terbendung tanggul. “Tapi siapa yang memberi makan mereka selama waktu itu?” tanya Presiden. “Karena itulah yang terbaik inereka diberi penerangan tentang transmigrasi”.

Bedol Desa

Presiden berpendapat, penduduk dapat disadarkan mengenai keterbatasan tanah mereka sekarang. Misalnya setiap KK punya seperempat hektar sawah seperti yang umumnya terjadi, maka sekalipun dengan program KB, mereka tak mampu menghidupi keluarganya dalam satu turunan lagi. “Dengan seperdelapan hektar, mana bisa hidup”, kata Presiden.

Ia tambahkan, cara baik bagi pelaksanaan transmigrasi adalah dengan “bedol desa”, seperti dilakukan para penduduk Wonogiri yang ke Sitiung. Menurut Presiden, cara iniakan membuat penduduk yang bertransmigrasi cepat kerasan di tempat bam, tak asing dengan sekitarnya dan merasa tentram.

Kepada Bupati, Presiden menanyakan jumlah kerugian dan korban akibat banjir Krasak tersebut. Ternyata sawah yang rusak mencapai 167 hektar, berarti dimiliki lebih dari 600 KK. Menurut keterangan, gunung Merapi kini mengeluarkan tumpukan larva di puncaknya sampai 10.000 meter kubik setiap harinya. Dinas Vulkanologi pemah memperkirakan, tahun 1975 lava yang terkumpul mencapai 7,5 juta kubik.

Jembatan Segera Rampung

Dari atas jembatan Krasak yang sedang dibangun itu, Presiden jelas dapat melihat jembatan lama yang kini masih berfungsi, tapi sungainya sudah begitu meninggi dasarnya, mendekati lantai jembatan. Presiden mendapat penjelasan bahwa jembatan bam itu diharapkan selesai sesuai rencana, yaitu akhir Desember ini. Pembangunannya telah dimulai sejak April yang lalu, yakni sembilan bulan kerja.

Menurut Bupati Achmad, dasar sungai yang meninggi itu tidak hanya disekitar jembatan tersebut. Tapijuga sampai daerah pertemuan Krasak dengan sungai Progo, sekitar 2 Km sebelah barat jembatan Krasak, Selain itu banyak desa baik dilereng gunung maupun disepanjang sungai yang letaknya kini “di bawah” dasar sungai. Sehingga mengkhawatirkan.

Jembatan baru ini 6 meter lebih tinggi dari jembatan lama. Panjang seluruhnya 206 meter, diantaranya 120 meter terletak di D.I. Yogyakarta dan 88 meter di daerah Magelang/Jateng. Lebar 9 meter dan kerangka besinya didatangkan dari Inggris (sistim Callendar Hamilton). Biaya sekitar Rp. 1,2 milyar, termasuk untuk pembebasan tanah sekitarnya.

Ketika ditinjau kemarin, para pekerja yang jumlahnya ratusan sibuk dengan pekerjaan masing-masing, seperti merapikan pinggiran semen, membuat tiang

pengaman dan lain-lainnya. Lantai jembatan itu masih berupa jaringan-jaringan besi yang segera akan diisi adukan semen. Jembatan ini terletak pada Kilometer 19 dari Yogyakarta. Presiden dan Ny Tien Soeharto meninjau jembatan itu sebelum bertolak ke Jakarta, setelah paginya melantik para perwira remaja ABRI. (DTS)

Sumber: KOMPAS (091/12/1976)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 270-272.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.