PENDAPAT KALANGAN DPR TENTANG HASIL SOEHARTO ­ LEE

PENDAPAT KALANGAN DPR TENTANG HASIL SOEHARTO ­ LEE

Ketua F-KP DPR Sugiharto menduga, wujud nyata kerjasama antar negara anggota ASEAN supaya Indonesia berbuat sesuatu yang lebih konkrit lagi, adalah kerjasama di bidang politik dan militer.

"Kalau memang ini yang dikehendaki, sayakira sesungguhnya bagi Indonesia tidak ada kesulitan," kata Sugiharto menjawab pertanyaan "Kompas" Rabu kemarin di DPR.

Menurut Sugiharto, hal itu disebabkan bahaya-bahaya nyata sekarang semakin kelihatan. Dan ini tidak bisa ditanggulangi hanya dengan kerjasama ekonomi dan kebudayaan.

"Tapi kita sangat hati-hati dalam bidang ini, sebab jangan sampai menyinggung perasaan teman-teman yang mungkin masih merasa khawatir, seperti akibat yang dialami Malaysia karena masa konfrontasi dengan Indonesia dahulu," tambah Sugiharto.

Ia menambahkan, kalau kerjasama di bidang politik, sesungguhnya selama ini sudah dilakukan, seperti adanya konsultasi dan koordinasi dalam bentuk-bentuk ringan menghadapi perundingan yang bersifat menentukan.

Militer, jelas akan mengundang pasukan negara lain di Asia Tenggara. Dan hal ini bertentangan pula dengan prinsip Indonesia yang menentang setiap pakta militer.

Kerjasama Militer

Sementara itu Ketua Komisi I DPR Chalid Mawardi menambahkan, kalau yang dimaksud PM Singapura itu kerjasama di bidang militer, sebetulnya sudah berjalan sekarang ini. Misalnya operasi bersama menumpas gerakan komunis, dan latihan bersama untuk meningkatkan kemampuan pertahanan masing-masing negara.

Dalam dua tahun belakangan ini, sudah dipikirkan juga bentuk kerjasama militer bagaimana yang harus ditingkatkan antar negara ASEAN, tanpa merobah ASEAN yang non-militer itu.

Sekarang kita harus memelihara citra ASEAN itu sebagai bukan pakta militer. Kalau mau ditingkatkan, harus tetap tidak merobah ASEAN sebagaimana semula. Demikian Ketua Komisi I dari F-PP itu.

Kata Mawardi, kalau yang Dimaksud itu Menuju suatu Pakta Mawardi sependapat, dalam peningkatan kerja sama militer, hendaknya berupa standarisasi persenjataan ASEAN, pertukaran pendidikan militer, atau membangun perakitan persenjataan ASEAN.

Tapi menurut pendapat Sugiharto, apakah kerjasama militer tersebut nanti menjurus kepada pakta atau bukan pakta militer, itu hanya soal nama saja. Sebab kerjasama militer tersebut, bisa saja dalam bentuk lain.

Ia berpendapat sekarang sudah semakin jelas dari mana datangnya ancaman tersebut. Bagi Indonesia, ancaman-ancaman tersebut sudah semakin mendekat, tambahnya.

Hendaknya Semua Negara

Chalid Mawardi sependapat agar semua negara anggota ASEAN berbuat sesuatu yang lebih konkrit, dalam memberi wujud nyata kerjasama ini.

"Tidak hanya Indonesia, tetapi harus semua negara anggota ASEAN”, tambahnya.

ASEAN yang sudah berdiri sekitar 12 tahun, menurut Mawardi memang belum banyak memberikan hasil nyata. Itu sudah sama-sama diketahui oleh kita semua. Akan tetapi tidaklah adil kalau kunci ketidak berhasilan itu dibebankan kepada Indonesia saja.

"Indonesiapun bisa memandang negara lainnya seperti dituduhkan kepada kita," kata Chalid. Sebagai contoh, misalnya dalam pelaksanaan beberapa proyek ASEAN, seperti pabrik pupuk di Aceh yang kini sedang digarap.

Menurut konsensus, semua anggota harus memberikan 10 pct dari modal yang diperlukan. Ternyata Singapura hanya mau memberikan 1 pct saja.

"Kita melihat bahwa Singapura juga tidak menunjukkan partisipasi yang kongkrit dalam masalah ini. Jadi peningkatan partisipasi itu harus oleh semua negara-negara ASEAN!" tambahnya.

Kata Chalid Mawardi, meskipun tidak begitu jelas apa yang dimaksudkan oleh Perdana Menteri Lee Kuan Yew seperti yang dikemukakan oleh Sudharmono, tapi kalau timbul semaeam keragu-raguan, adalah karena prioritas dan kepentingan nasional masing-masing negara berbeda.

Kepentingan nasional tiap negara itu belum bisa disubordinasikan menjadi kepentingan bersama. Singapura merasa tidak berkepentingan dengan pabrik pupuk di Aceh. Karena negaranya bukan negara agraris. Sehingga tidak bersedia memberi 10 pct dari modal yang telah disepakati bersama.

"Pokoknya belum semua negara ASEAN itu secara optimal waktu ini, karena kepentingan nasional yang tidak sama."

Sampai sekarang, belum juga ada kesepakatan mengenai mesin diesel berkekuatan berapa PK yang akan diproduksi pabrik diesel proyek ASEAN di Singapura itu, supaya tidak menyaingi pabrik milik Indonesia.

"Semuanya ini serba mengundang keragu-raguan," ujar Mawardi.

Muangthai dan Filipina menginginkan minyak mentah Indonesia yang akan dibeli dengan beras yang dibutuhkan Indonesia. Akan tetapi hal ini tidak semudah di atas kertas. Karena minyak mentah Indonesia telah diborong negara lain dalam kontrak jangka panjang.

Membuka sumber baru tentu memerlukan modal besar. Sebaliknya, kata Mawardi, Muangthai tidak begitu saja dapat menjual berasnya dibawah harga, karena iniakan merusak harga berasnya di pasaran dunia.

Kesan Sementara

Mengenai tawaran PM Lee Kuan Yew tentang bentuk kerjasama dan partisipasi Singapura dalam membangun Pulau Batam, bagi Sugiharto menimbulkan kesan sementara, seolah-olah pulau tersebut bisa terjual.

"Tetapi saya belum tahu persis bagaimana isi pembicaraan Presiden Soeharto dan PM Lee Kuan Yew itu," tuturnya.

Karena itu, F-KP akan meminta penjelasan dari pemerintah. Tetapi memang harus diakui bahwa seringkali cara-cara kita berusaha sulit untuk dimengerti oleh orang luar. Keuntungan-keuntungan yang dapat dilihat oleh orang Indonesia. Sebagai contoh, Sugiharto menunjuk kepada cara pengelolaan hutan yang HPH-nya diberikan begitu saja.

Ia menilai apa yang ditawarkan PM Lee Kuan Yew tersebut menunjukkan ada rasa kekhawatiran.

"Itu memang bisa dimengerti," tambahnya.

Tetapi dalam pembangunan Pulau Batam, Sugiharto lebih condong supaya diserahkan saja kepada pihak swasta, agar bisa berkembang tanpa mendapatkan hambatan-hambatan birokrasi pemerintah.

Tawaran Singapura itu pada pokoknya berupa permintaan, agar Singapura diberi kesempatan membangun prasarana di Batam, dengan jaminan modal yang ditanamkannya itu pasti kembali. Dan untuk kepastian kembalinya modal tersebut, Singapura menghendaki agar manajemen Batam dipegangnya.

Hal-hal yang Konkrit

Sugiharto menilai, sebetulnya sudah ada hal-hal yang konkrit dalam keljasama ASEAN yang menitikberatkan kepada masalah ekonomi dan kebudayaan. Sebagai contoh, pengiriman tenaga guru dan dokter oleh Indonesia ke Malaysia.

Begitu juga di bidang ekonomi sudah banyak rencana-rencana yang pelaksanaannya terlihat, tapi belum dapat direalisir. Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh tradisi masing­masing negara, yang lebih suka bekerjasama dengan negara bekas penjajahnya. Demikian Sugiharto.

Selain itu, Sugiharto menunjuk masalah pertukaran mahasiswa antara negara ASEAN. Mestinya hal ini sudah bisa dilakukan antar kelima negara ASEAN untuk memupuk sating pengertian.

"Saya sendiri tidak mengerti, mengapa justru pekerjaan­pekerjaan yang sesungguhnya bisa dikonkritkan, tidak dilaksanakan," kata Sugiharto. (DTS)

Jakarta, Kompas

Sumber: KOMPAS (20/09/1979)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 169-172.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.