PENCAIRAN DANA SWKP TAHUN 1994 SEBESAR Rp 42,02 MILIAR

PENCAIRAN DANA SWKP TAHUN 1994 SEBESAR Rp 42,02 MILIAR[1]

 

Jakarta, Antara

Pencairan dana Simpanan Wajib Khusus Petani (SWKP) cengkeh sebesar Rp 42,02 miliar, masih mengacu pada hasil penelitian “Tim Pengendali SWKP” sehingga diharapkan petani menerima SWKP sesuai dengan haknya.

Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil (Menkop/PPK) Subiakto Tjakrawerdaya mengemukakan hal tersebut, di Jakarta, Sabtu, usai acara penyerahan dana SWKP tahun 1994 oleh Ketua Umum Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BBPC) Hutomo Mandala Putra kepada Dirut Inkud Jeff Mustopha Atmaja.

Penyerahan SWKP tersebut dilakukan dihadapan Presiden Soeharto yang melakukan peninjauan ke Pusat Perkulakan Goro Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Siaran pers Inkud di Jakarta, Minggu, merinci SWKP itu dibagikan masing-masing kepada DI Aceh Rp 121,22 juta, Sumatera Utara Rp 7,21 juta, Sumatera Barat Rp 38,11 juta , Sumatera Selatan Rp 82,92 juta, Kalimantan Barat Rp 587,11 juta, Kalsel Rp 61,32 juta, Jabar Rp 2,69 miliar, Jateng Rp 4,34 miliar, Jatim Rp 997,59 juta, Sulsel Rp 4,35 miliar, Sulteng Rp 11,52 miliar, Sultra Rp 609,84 juta, Sulut Rp 114,76 juta.

Selebihnya adalah Ambon Rp 9,88 miliar, Halmahera Jaya Rp 4,25 miliar, NTB Rp 24,73 juta , NTT Rp 625,08 juta, Bali Rp l,66 miliar dan Irian Jaya sebesar Rp 29,89 juta.

Menurut Menkop/PPK, berdasarkan evaluasi, kerja Tim Pengendali Pencairan SWKP baik di tingkat pusat, propinsi maupun kabupaten cukup baik dan pemerintah tidak punya alasan untuk membuat peraturan baru.

Pada pertemuan khusus dengan para Ketua dan Manajer Puskud yang menangani Tata Niaga Cengkeh (TNC), Subiakto minta kepada Puskud untuk bekerja lebih baik dalam pengembalian SWKP kepada petani atau SWKP tidak jatuh kepada petani melainkan KUD.

“Saya tidak mau lagi mendengar atau membaca di koran tentang kemelut pencairan SWKP.” tegasnya.

Sementara itu sejumlah pengurus dan Direksi Puskud mengatakan , SWKP yang sekarang ini berada di rekening Inkud jangan terlalu lama dan segera ditransfer ke rekening Puskud.

Menurut Dirut Puskud Hasanuddin HM Nurd in Kha lid, apabila dana tersebut telah berada di rekening Puskud, akan membuat pijakan bagi Tim Pengendali SWKP tingkat daerah untuk bekerja dan menyenangkan petani cengkeh yang selama ini benar-benar menjual cengkehnya ke KUD.

Harapan senada juga disampaikan Ketua Umum Puskud Sultra H.M.Hamundu, dengan dana itu berada di Puskud akan membuat kerja tim lebih cepat, dan dana itu tidak boleh dipotong-potong, sedangkan untuk dana operasional diambil dari bunga bank.

Tidak Ada Alasan

Menurut Dirut lnkud Jeff Mu stopha Atmaja, pencairan SWKP 1994 akan diserahkan sepenuhnya kepada Tim Pengendali SWKP, namun tetap mengacu pada ketentuan yang berlaku.

“Bagi Inkud, tidak ada alasan untuk menahan dana tersebut.” kata Jeff dan menambahkan semestinya pencairan SWKP 1994 lebih baik karena administrasi di tingkat KUD dan petaru telah lebih baik pula. Ia mengharapkan dalam pencairan SWKP tidak banyak menjumpai masalah.

“Sepanjang proses pencairannya mengacu pada ketentuan yang ada, maka saya yakin pencairan SWKP tersebut berjalan dengan lancer.” tambahnya.

Pengadaan cengkeh tahun 1994 mencapai 127.000 ton. SWKP 1994 itu lebih kecil dibanding SWKP tahun 1992 dan 1993, SWKP tahun 1992 sebesar Rp 157,7 miliar dari pengadaan sebanyak 117.000 ton, dan SWKP tahun 1993 sebesar Rp 93,5 miliar dari pengadaan sebanyak 53.864.192 ton.

Kecilnya nilai SWKP tahun 1994, menurut Sekjen BPPC, IDGS Putra, karena para petani pada umumnya menjual cengkeh dalam bentuk asalan.

“Padahal untuk mendapatkan SWKP sebesar Rp 1.900/kg, petani harus menjual cengkeh dengan kualitas 10 persen kadar air dan tiga persen kadar kotoran, sedangkan toleransi yang diberikan oleh pelaksana TNC adalah kadar air dan kotoran tidak lebih dari 25 persen dengan pembagian SWKP berdasarkan rafaksi.” Katanya.

Sumber : ANTARA (27/10/1996)

______________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 474-476.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.