PENARIKAN PASUKAN RRC DARI VIETNAM SEGERA TEREALISIR

PENARIKAN PASUKAN RRC DARI VIETNAM SEGERA TEREALISIR

Indonesia – Thailand Berkesimpulan :

Presiden Suharto dan rekannya dari Thailand Perdana Menteri Kriangsak Chammansad, Sabtu pagi yang lalu membahas secara menyeluruh perkembangan di Indocina dewasa ini serta segala pengaruhnya terhadap kawasan ASEAN. Perundingan "empat mata" itu dilangsungkan di salah satu ruangan Gubernuran Sumatera Utara, kota Medan, selama lebih dari tiga jam.

Pada pertemuan yang dimulai sejakjam 09.50 sampai jam 13.00 itu, kedua tokoh ASEAN secara khusus juga mempergunakan waktu untuk saling tukar-menukar informasi.

Sementara itu di dalam ruangan depan pada gedung yang sama, Menteri Luar Negeri Mochtar Kusumaatmadja juga membicarakan secara terperinci perkembangan lndocina dengan rekannya Menteri Luar Negeri Dr. Upadit Pachariyangkun. Kedua Menteri ini berkesimpulan bahwa penarikan pasukan RRC dari Vietnam akan segera terealisir, sehingga tidak membutuhkan bantuan dari negara penengah dalam mengatasi sengketa mereka.

Hal inioleh Mochtar ditekankan berkat adanya pernyataan dari pihak Vietnam maupun RRC sendiri, melalui berbagai sumber yang dianggap berwenang.

Ketika ditanyakan oleh wartawan sikap Thailand yang kadang-kadang condong memihak pada RRC, Menteri Mochtar menyarankan agar ditanyakan pada Menteri Sudharmono.

Pada bagian lain Menteri Sudharmono yang bertindak selakujuru-bicara Kepala Negara menyebutkan, bahwa dua pimpinan negara tersebut bersepakat untuk lebih meningkatkan hubungan kerjasama antara Thailand dan Indonesia.

"Apakah Presiden dan PerdanaMenteri saling merasa cemas dengan situasi di lndocina," tanya wartawan. "Kalau melihat ketika keluar dari perundingan dimana tampak berseri-seri, tampaknya tidak mencemaskan" demikian Sudharmono.

Kriangsak Ucapkan Terima-kasih

Apakah isi seluruh pembicaraan Presiden Suharto, dan PM Kriangsak Chammanand dalam hubungan bilateral ini, Sudharmono belum bersedia mengutarakan secara terperinci. "Harus kita tunggu dulu", ujarnya

Namun demikian baikPM Kriangsakmaupun Presiden Suharto ketika mengupas hubungan bilateral kedua negara, berharap agar dimasa-masa mendatang akan timbul saling pengertian yang lebih mendalam.

Demikian juga secepatnya dapat direalisir langkah-langkah kerjasama yang lebih menguntungkan, baik didalam hubungan bilateral maupun dalam rangka memperkokoh kerjasama dilingkungan ASEAN akan lebih lancar.

PM. Kriangsak pada kesempatan itu mengucapkan rasa terima kasihnya pada Presiden Soeharto atas bantuan minyak dari Indonesia yang sedemikian cepatnya. Sehingga Thailand dapat terlepas dari krisis minyak, yang melanda selama dua minggu.

Tingkatkan Ketahanan Nasional

Pertemuan "empat mata " di kota Medan yang berlangsung dalam suasana persaudaraan, menurut Sudharmono juga membahas masalah-masalah yang sangat bermanfaat. Dikatakan dibahas juga bagaimana caranya negara-negara ASEAN ini dapat meningkatkan ketahanan nasional masing-masing. Sehingga ketahanan nasional yang dimaksud dapat memperkuat ketahanan regional. ”Yang penting bagaimana kita meningkatkan ketjasama dibidang ketahanan," tambah Sudharmono.

Presiden Suharto dalam kaitan inimenerangkan, bahwa pertemuan semacam itu, yakni yang dilakukan dalam kunjungan tak resmi, telah memberikan manfaat yang cukup besar dan effektip. Terutama dalam segi peningkatan pengertian antar kedua bangsa.

Menanggapi adanya kemungkinan rencana pertemuan kembali antara Presiden Suharto dan PM. Kriangsak dalam waktu dekat ini. Menteri Sudharmono menjawab bahwa pertemuan kelanjutan kedua pemimpin itu belum ditentukan.

Menjawab Pertanyaan wartawan tentang kemungkinan adanya perbedaan nuansa antara Suharto dan Kriangsak, dibandingkan dengan pertemuan antara Suharto dan Onn. Menteri mengutarakan pertemuan Medan ini sepenuhnya merupakan "businesstalk" sedangkan pertemuan Yogyakarta sedikit "relax".

Pertemuan "empat mata" antara Presiden Suharto dan PM. Kriangsak yang dianggap sangat mendadak ini, oleh kedua negarawan dianggap penting karena situasinya dinilai untuk segera melangsungkan pertemuan ”empat mata" itu. Pertemuan tersebut oleh Sudharmono dibenarkan merupakan rangkaian pertemuan antara kepala-kepala pemerintahan ASEAN, resmi beberapa waktu yang lalu.

"Sama-sama menganggap perlu dan prosesnya begitu cepat pertemuan ‘empat mata’ ini", ujar Sudharmono.

Sampai pertemuan berakhir di gedung gubernuran, tidak diperoleh keterangan resmi dari pejabat kedua belah pihak.

Menteri Sudharmono SH yang memberikan keterangan singkatnya di lapangan udara PoIonia Medan itu, juga atas desakan para wartawan Jakarta dan Medan.

Setelah perundingan "empat mata" berakhir, Presiden Suharto menyerahkan ukiran Jepara pada PM. Kriangsak berupa cukilan ceritera Ramayana. Sedangkan PM.Kriangsak menyerahkan bunga Anggrek untuk ibu Tien Suharto serta buah durian untuk Presiden.

Ibu Tien Suharto tak lupa menitipkankenang-kenangan untuk Ny.Chommanand serta puteranya Vrrat Chommanand yang pernah mengunjungi Indonesia secara resmi beberapa waktu yang lalu.

Seusai tukar menukar tanda mata, Presiden Suharto membawa rekannya dan seluruh rombongan inti kedua pemimpin untuk bersama sama menihmati santap siang. Lepas makan siang seluruhrombonganmenujulapangan udara Polonia. Jam 14.10 PM Kriangsak Chommanand dan rombongan tinggal landas dengan pesawat khusus ”Royal Thai Air Force”, setengah jam kemudian Presiden Suharto dan rombongan kembali ke Jakarta.

Sepuluh menit setelah pesawat udara F-28 milik Pelita Air Service yang membawa rombongan Presiden Suharto, maka Kepala Negara memanggil para pejabat tinggi yang mendampingi Presiden dalam lawatannya ke Medan.

Mereka itu Ialah Menteri Sudharmono, Menhankam Pangap Jenderal TNI Jusuf, Menteri Luar Negeri Mochtar Kusumaatmadja, Kepala Bakin Jenderal Yoga Suganta, Duta Besar Hasnan Habib, Seksmil Presiden Marsekal Muda Sugiri, Ditjen Yoop Ave dllnya. Kepada mereka Presiden Soeharto memberikan breifmg penjelasan yang memakan waktu lebih dari satu setengah jam.

Apa yang menjadi topik pembicaraan dalam pesawat itu, para wartawan yang mengikuti rombongan Kepala Negara tidak berhasil mendapatkannya. Menteri Mochtar yang dikejar para wartawan sampai ke mobilnya juga tidak bersedia mengungkapkan.

Thailand Sendiri Hadiri

Thailand telah menyatakan kesediaannya untuk turut hadir pada konperensi UNHCR – ASEAN dan negara penerima pengungsi Vietnam serta usul Indonesia itu disampaikan Menlu Dr. Upadit Paehariyangkun ketika mengadakan pembicaraan dengan Menlu Mocthar di Medan.

Kesediaan yang sama juga diminta oleh Menteri Mochtar kepada rekan-rekannya Menteri luar negeri dari negara ASEAN lainnya. Hal ini, kata Mochtar, sudah diajukan kepada yang bersangkutan melalui surat yang diberikan kepada para duta besar negara yang bersangkutan hari Jumat lalu.

Gagasan konperensi UNHCR – ASEAN negara penerima pengungsi itu datang dari lndonesia, jika pertemuannya dengan pihak UNHCR di Jenewa pada tanggal 27 mendatang, membawahasil yang menggembirakan.

Pertemuan tiga kelompok tersebut, menurut Mochtar telah didukung oleh Amerika, Kanada, Jepang, Austria dan New Zeland yang juga menyatakan kesediaannya untuk hadir dalam konperensi terbatas itu.

Sementara itu menghadapi pertemuan dengan UNHCR di Jenewa, Mochtar juga menantikan saran-saran dari anggota Negara ASEAN sebagai bahan untuk perundingan Jenewa itu.

Namun demikian Mochtar berpendapat bahwa sebelum berlangsungnya konperensi UNHCR – ASEAN – negara penerima pengungsi harus diadakan pertemuan sub ASEAN yang dimaksud secara khusus menangani para pengungsi Vietnam.

Dalam pembicaraannya dengan Dr.Upadit, Menlu Mochtar juga menandaskan prospek pertemuan Jenewa itu akan mencapai persesuaian. "Dan sesuai dengan prosedur ASEAN akan mengusulkan pertemuan sub ASEAN itu”, tambahnya.

Menjawab pertanyaan tentang rencana konperensi UNHCR-ASEAN negara penerima pengungsi itu, Menteri belum bersediamenjelaskan tanggal dan tempatnya." Karena harus menunggu berbagai saran, sedangkan saran yang masuk baru dari Thailand", ujar Mochtar sambil tertawa.

Seperti diketahui keberatan Menteri Mochtar ke Jenewa, untuk mengadakan pembicaraan dengan Komisioner UNHCR. Dengan agenda membahas syarat-syarat Indonesia dalam menanggapi para pengungsi yang memenuhi kawasan ASEAN.

Dr. Upadit juga meminta pada Indonesia agar yang ditampung dalam "processing centre" nanti bukan para pengungsi yang terdampar saja, tetapi juga para pengungsi yang sudah berada didaratan negara-negara ASEAN lainnya.

Saran-saran Indonesia tertanggal 11 Maret 1979 kepada UNHCR tentang pengungsi Vietnam, kata Mochtar merupakan statement resmi ASEAN dan mendaratkan tanggapan-tanggapan baik dari UNHCR. (DTS)

Medan, Berita Buana

Sumber: BERITA BUANA (19/03/1979)

Dikutipsesuaitulisandanejaanaslinyadaribuku "Presiden RI Ke II JenderalBesar HM SoehartodalamBerita", BukuV (1979-1980), Jakarta: AntaraPustakaUtama, 2008, hal. 42-45.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.