PEMULIHAN HUBUNGAN RI-RRC PASTI JADI KENYATAAN

PEMULIHAN HUBUNGAN RI-RRC PASTI JADI KENYATAAN

Presiden Soeharto menyatakan keyakinannya bahwa pemulihan hubungan antara Indonesia dan RR Cina pada suatu waktu di masa mendatang pasti akan menjadi kenyataan.

Kepala Negara mengemukakan keyakinannya itu kepada Dubes Republik Federasi Jerman (RFJ) untuk Indonesia Gunther Schoedel, yang datang menemui Presiden di Bina Graha, Jakarta, Senin pagi, sehubungan dengan tugasnya yang baru sebagai Dubes RI untuk RR-Cina.

Gubernur Schoedel akan memangku jabatan baru yang diberikan pemerintahnya itu dalain waktu dekat ini dan akan berangkat menuju Peking 29 Pebruari mendatang.

Selesai di terima presiden selama satujam, Dubes Gunther Schoedel menjelaskan gagasan dan pandangannya mengenai perkembangan politik internasional terutama yang menyangkut kepentingan nasional Indonesia.

Presiden mengemukakan, bagaimana dia melihat perkembangan situasi politik internasional, juga yang menyangkut hubungan antara Indonesia dan RRCina yang sekarang ini masih belum pulih dan alasan apa yang melatarbelakangi belum pulihnya hubungan tersebut.

Ketika ditanyakan, usaha apa yang dapat dilakukannya dalam tugasnya yang barum nanti dalam membantu normalisasi hubungan Indonesia – RR Cina sebagai bekas Dubes untuk Indonesia, Gunther Schoedel menyatakan bahwa dia tidak ingin campur tangan dalam hubungan bilateral antara kedua negara.

Namun dia mengatakan bahwa sebagai sahabat Indonesia yang baik karena sudah lama bertugas di negeri ini akan berusaha menjelaskan kepada para pemimpin RRCina bagaimana situasi yang sebenarnya di Indonesia.

Lebih Seimbang

Presiden menyatakan pula kegembiraannya dengan akan ditandatangani kerjasama antara Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dan Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) di Kuala Lumpur, 7 Maret mendatang.

Presiden menganggap ketjasama ASEAN-MEE ini sangat penting artinya bagi menciptakan keseimbangan di kawasan ini.

Situasi di kawasan ini akan lebih seimbangjika keseimbangan itu diciptakan tidak hanya antara kekuatan-kekuatan besar (super power) tapi juga antara kekuatan lainnya seperti Australia, Jepang dan negara-negara Eropa.

Keseimbangan semacam ini, kata presiden seperti dituturkan Gunther Schoedel, sangat penting artinya bagi usaha menjadikan kawasan Asia Tenggara kawasan damai, bebas dan netral.

Usaha ini yang dilakukan Presiden sekarang ini dengan terlebih dahulu mengusahakan kestabilan ekonomi dan politik di Indonesia semula.

Tidak Hapuskan

Dalam pertemuan itu, Dubes Gunther Shoedel dan Presiden juga membahas hubungan bilateral antara Indonesia dan RFJ terutama dalam tahun-tahun terakhir ini di mana kerjasama ekonomi telah semakin tumbuh dan berkembang.

Kedua negara saling membutuhkan, saling tergantung dan Indonesia mempunyai sumber kekayaan alam yang besar. Selain itu, Indonesia mempunyai kemampuan pula untuk mengembangkan industri kecil dan menengah.

Di lain pihak, RFJ dapat melakukan pengalihan teknologi untuk Indonesia, melakukan penanaman modal dalam bentuk usaha patungan (Joint venture) yang dapat dikembangkan bersama oleh kedua negara.

Dalam usaha mengembangkan kepentingan bersama ini, antara Indonesia dan RFI baru-baru ini telah ditandatangani kerjasama pengembangan teknologi dan ilmu pengetahuan.

Perkembangan kerjasama ekonomi ini telah pula dibuktikan dengan diselenggarakannya Pekan Industri Indo-German di Jakarta, tahun lalu, yang telah menimbulkan perhatian dari kedua belah pihak secara ekonomi.

Gunther Schoedel mengemukakan pulakesannya ketika berkunjung ke negerinya belum lama ini. Dari pembicaraan, diperoleh kesimpulan semakin banyak perhatian dari kalangan luas tidak hanya dari dunia usaha, tapi juga kalangan pers dan politik terhadap kerjasama antara Indonesia dan RFJ.

Ketika menjawab pertanyaan bagaimana pendirian pemerintahnya Inggris, dan Swiss menghapuskan hutang lama Indonesia, Guther Shoedel menyatakan bahwa pemerintahnya berpendirian bahwa hutang akan dapat dihapuskan jika negara penerima pinjaman tidak mampu lagi membayamya tapi bagi negara-negara yang secara ekonomi dan keuangan mampu membayamya tidak ada penghapusan hutan

Pemerintah RFJ, menurut Guther Schoedel juga telah menghapuskan pinjaman dan hutang sejumlah negara miskin dan yang hasil ekspor tidak mencukupi untuk membayar kembali hutang-hutangnya,

”Ini tidak dilakukan dalamhubungannya dengan Indonesia," kata Guther Schoedel.

Sebagai salah satu negara kelompok IGGI, RFJ secara teratur setiap tahunnya memberikan pinjaman yang disediakan RFI untuk Indonesia beljumlah 120 juta Dm atau kurang lebih US$ 70 juta.

"Jumlah ini akan dapat ditambaah, jika pemerintah Indonesia menginginkannya. Lni sama sekali tergantung pada pemerintah Indonesia,” kata Dubes RFJ itu.

Bantuan pengembangan daerah terpencil mengenai arah dan penekanan bantuan yang akan diberikan RFJ kepada Indonesia, Gunther Schoedel mengatakan bahwa dalam memberikan bantuan akan lebih banyak memberikan dorongan bagi pengembangan daerah-daerah terpencil dan terbelakang.

Mengenai kelanjutan bantuan di masa mendatang, Pemerintah RFJ berpendirian dalam memberikan bantuan tidak melihat batas-batas negara secara keseluruhan tapi lebih cenderung memperhatikan keperluan akan bantuan tersebut bagi pengembangan suatu daerah di suatu negara.

Kedua hal ini dikemukakan dengan contoh bahwa Pemerintah RFJ tidak akan tertarik memberikan bantuan untuk pembangunan di pulau Jawa misalnya untuk pembangunan proyek-proyek listrik dan jalan tol.

Proyek-proyek listrik di Jawa ini dapat dibangun dengan pinjaman komersial atau dengan anggaran Pemerintah Indonesia sendiri.

"Setelah meningkatkan harga minyak, saya percaya Indonesia akan dapat melakukan hal itu dengan mudah," kata Gunther Schoedel

Dia membandingkan pula daerah Selatan Italia dan daerah Utaranya. Daerah Selatan merupakan daerah terpencil, sedang daerah Utara merupakan daerah industri yang sudah jauh lebih maju.

Dalam hal ini, di RFJ ada pendapat yang secara jujur mempertanyakan mengapa harus membantu negara-negara anggota OPEC yang sampai sekarang masih melakukan keljasama ekonomi dan keuangan dengan RFJ.

Tapi di lain pihak ada pula pendapat yang menyatakan bahwa seharusnya tidak melihat kepada batas-batas negara dalam memberikan bantuan ini.

Jawa dan beberapa wilayah lainnya di Indonesia, sudah jauh lebih maju perkembangannya, sedang bagian lain dari wilayah Indonesia belum begitu banyak terjangkau oleh usaha pembangunan.

Daerah-daerah terpencil inilah yang harus dibangun. Dalam hal ini dapat bekerjasama dengan Pemerintah Indonesia dalam membangun berbagai proyek dan memberikan bantuan keuangan.

"Ini benar dan kami sudah melaksanakan,” kata Dubes Gunther Schoedel.

Pemerintah RFJ telah memberikan bantuan bagi pengembangan wilayah Kaltim dan wilayah bagian Barat Sumbar.

"Bantuan tidak diberikan dalam mengembangkan wilayah maju seperti Bukittinggi dan Padang," katanya.

Dalam mengembangkan wilayah Kaltim misalnya, Pemerintah RFJ secara tidak langsung dan dalam arti luas memberikan bantuan pada pelaksanaan program transmigrasi, dengan terciptanya peluang bagi pelaksanaan transmigrasi.

Menurut Gunther Schoedel, pemerintahnya puas atas penggunaan bantuan yang diberikan kepada Indonesia karena proyek-proyek yang mendapat bantuan ditentukan kedua belah pihak. (DTS)

Jakarta, Suara Karya

Sumber: SUARA KARYA (26/02/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 547-550.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.