PEMILU RI THN 1987 DANA PRESIDEN UTK KONTESTAN

PEMILU RI THN 1987 DANA PRESIDEN UTK KONTESTAN

 

 

Presiden Soeharto di Bina Graha hari menyerahkan langsung sumbangan Pemerintah sebesar Rp 750 juta kepada Partai Persatuan Pembangunan, Golongan Karya, dan Partai Demokrasi Indonesia.

Ketiga kontestan pemilihan umum itu masing-masing menerima Rp 250 juta. Sumbangan Pemerintah untuk kegiatan kampanye pemilihan umum itu diterima masing-­masing oleh Ketua Umum PPP Dr. H.J. Naro, Ketua Umum Golkar Sudharmono, S.H, dan Ketua Umum PDI Drs. Suryadi.

Presiden Soeharto mengatakan, sumbangan Pemerintah untuk ketiga kontestan Pemilu kali ini jumlahnya naik dari Rp 200 juta menjadi Rp 250 juta untuk masing­-masing kontestan. Presiden menjelaskan, dana Bantuan Presiden berbeda dengan dana Instruksi Presiden (Inpres).

Dana Inpres termasuk dalam anggaran pembangunan, sedangkan dana Bantuan Presiden tidak termasuk dalam anggaran (APBN) melainkan berasal dari penerimaan tata niaga cengkeh.

Selama 20 tahun sejak 1967, dana Banpres yang terkumpul dari tata niaga cengkeh ini mencapai sekitar Rp 251 miliar dan yang dikeluarkan sampai Januari 1987 berjumlah sekitar Rp 244 miliar, kata Presiden.

Ia menjelaskan, dana Banpres digunakan untuk mendorong kegiatan-kegiatan pembangunan di berbagai bidang, antara lain pertanian, kesehatan (Keluarga Berencana), pendidikan, agama, perkebunan, Operasi Maduma di Sumatera Utara, Operasi Makmur di Lombok (Gogo Rancah) dan masih banyak lagi lainnya.

Presiden menegaskan, penggunaan dana Banpres juga dipertanggungjawabkan dan diperiksa oleh Badan Pengawas Keuangan (BPK) maupun oleh Wakil Presiden sebagai Ketua Koordinator Bidang Pengawasan Pembangunan.

Ujian

Presiden mengatakan, pemililian umum yang akan datang merupakan ujian bagi ketiga kontestan sampai di mana mereka melaksanakan Pancasila sebagai satu­satunya asas dalam kehidupan bernegara, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

“Rakyat akan menilai sampai di mana kesungguhan dan penghayatan Pancasila yang diterima sebagai satu-satunya asas tersebut,” kata Presiden.

Dia mengatakan, pemilihan umum kali ini sangat penting karena merupakan pemililian umum pertama setelah diterimanya Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Langkah-langkah dan tindakan dalam kampanye pemilu itu nanti hendaknya tidak bertentangan dengan Pancasila, demikian diingatkan oleh Kepala Negara.

Presiden mengharapkan agar penerimaan Pancasila sebagai satu-satunya asas itu tidak hanya di atas kertas saja tetapi betul-betul dilaksanakan dalam kenyataan dan tingkah laku sehari-hari. (RA)

 

 

Jakarta, Antara

Sumber : ANTARA (18/02/1987)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 391-392.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.