PEMERINTAH UPAYAKAN PROGRAM PADAT KARYA

PEMERINTAH UPAYAKAN PROGRAM PADAT KARYA[1]

 

 

Jakarta, Kompas

Presiden Soeharto meminta semua pihak memperhatikan pelaksanaan pemutusan hubungan kerja (PHK), dan masalah pengangguran bagi para pekerja harian dan pekerja harian lepas di sektor kontstruksi. Diharapkan, krisis moneter yang terjadi sekarang ini tidak mengganggu mereka dalam menghadapi masa puasa dan Lebaran nanti. Untuk itu, pemerintah mengupayakan program kerja padat karya.

Hal itu disampaikan Menteri Tenaga Kerja Abdul Latief kepada wartawan, usai diterima Presiden Soeharto bersama Mensesneg Moerdiono, Menkop/PPK Subiakto Tjakrawerdaya, Menneg Kependudukan/Kepala BKKBN Haryono Suyono, dan Menpera Akbar Tandjung di kediaman Jalan Cendana, Jakarta, Senin (15/12).

Menyinggung masalah pengangguran yang terjadi sebagai salah satu dampak terjadinya krisis moneter, menurut Latief, Presiden Soeharto menekankan perlunya memperhatikan masalah penyelesaian dengan cara PHK, juga masalah pengangguran yang terjadi pada para pekerja harian dan pekerja harian lepas di sektor konstruksi. Hal itu penting, terutama menghadapi adanya proyek yang tertunda dan menjelang masa puasa dan Lebaran.

Latief mengatakan, Presiden sangat memperhatikan rakyat kecil. Presiden tidak ingin menjelang puasa dan Lebaran rakyat kecil terganggu.

Kepada Presiden, ia melaporkan basil pembicaraannya dengan Ketua Bappenas Ginandjar Kartasasmita. Menurut Mennaker, Bappenas sudah menyiapkan dana untuk menyelesaikan masalah tersebut. Antara lain, melalui proyek padat karya, seperti pembuatan selokan, perbaikan tanggul, dan saluran air, terutama dalam menghadapi musim hujan, perbaikan lingkungan daerah kumuh, serta penyediaan air bersih.

Dikatakan, pola penyelesaian seperti itu akan dilakukan terutama untuk wilayah Jakarta dan Surabaya, karena kedua wilayah itu banyak menampung tenaga kerja dari daerah sekitarnya. Misalnya, Jakarta banyak menampung pekerja dari Karawang, Indramayu, Cirebon, Purwakarta, Pekalongan, dan Banten.

“Ini masalah pengangguran jangka pendek, mesti cepat diselesaikan. Kita ingin sebelum puasa dan Lebaran, sudah dapat dilakukan langkah-langkahnya. Depnaker sudah meminta Kanwil dan pemda untuk melakukan inventarisasi, dari pola Jakarta ini akan cepat kita mulai bekerja sama dengan Pemda DKI Jaya,” jelas Latief.

Selain itu, diupayakan pula mengatasi masalah di daerah yang terkena kekeringan. Menurut Latief, Bappenas juga telah menyediakan dana mengatasi masalah tersebut. Untuk itu, sambil terus melakukan koordinasi dengan Bappenas, Depnaker mengumpulkan data tentang masalah tersebut.

Menjawab pertanyaan tentang nasib karyawan yang terkena PHK setelah pemerintah melikuidasi 16 bank, Mennaker mengatakan, masalah itu masih terus dirundingkan. Selain itu, pemerintah memberi dana talangan. Menurut Latief, tidak akan ada karyawan bank yang dirugikan.

Dikatakan pula, Depnaker telah menyelesaikan masalah beberapa perusahaan yang mengalami kesulitan dalam melaksanakan PHK.

“Sudah 10 perusahaan yang terselesaikan, atau sel atar 7.196 orang, Dan dalam proses 22 perusahaan,” jelas Latief.

Namun Latief tidak menjawab pasti tentang dana yang dialokasikan Bappenas untuk proyek padat karya.

“Ini sedang dihitung karena proyeknya sedang diinventarisasi. Karena pekerja harian lepas ini kan tidak ada datanya. Ini yang sedang kita kaji, dan InsyaAllah minggu ini bisa selesai,” katanya.

Tentang kemungkinan dana itu berkaitan dengan bantuan luar negeri, Mennaker menegaskan,

“Saya pikir nggak. Ini kan crash program dan tidak begitu banyak.”

Sedang tentang perkembangan dana bantuan untuk usaha kecil sebesar Rp 2 triliun yang disalurkan melalui enam bank pemerintah, Latief mengatakan, pemerintah terus memonitor pelaksanaan penyaluran dana tersebut, meski baru dimulai 1 Desember 1997. (rie)

Sumber: KOMPAS (16/12/1997)

______________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 816-817.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.