PEMERINTAH SEDIAKAN Rp300 MILIAR SEBAGAI DANA BERGULIR

PEMERINTAH SEDIAKAN Rp300 MILIAR SEBAGAI DANA BERGULIR[1]

 

 

Jakarta, Antara

PRESIDEN SOEHARTO menegaskan, pemerintah menyediakan anggaran sebanyak Rp300 miliar sebagai dana bergulir yang akan memperkuat dana yang diperoleh  dari  masyarakat  sendiri. Kepala Negara dalam penjelasan mengenai RAPBN  1997/98 dalam sidang paripurna DPR RI, di Jakarta, Senin menambahkan, anggaran sektor kependudukan dan keluarga sejahtera naik sebanyak 110 persen yang merupakan kenaikan tertinggi menjadi Rp690 miliar.

Kenaikan itu diperlukan untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan dengan pendekatan keluarga sejahtera yang akan diterapkan di desa-desa luar IDT, katanya.

Sektor dengan kenaikan kedua terbesar adalah sektor politik, hubungan luar negeri, penerangan, komunikasi dan media massa. Penggunaannya terutama untuk mendukung kegiatan Pemilu dan SU MPR mendatang.

Kenaikan sektor itu sebesar 56 persen dengan jumlah anggaran Rp286 miliar, katanya. Kenaikan terbesar ketiga adalah dalam sektor yang mencakup bidang kesehatan dan sosial dengan kenaikan 53 persen. Anggarannya mencapai Rp2 triliun lebih dengan kenaikan terbesar pada subsektor wanita, anak dan remaja.

Dari jumlah itu, anggaran terbesar adalah untuk subsektor kesehatan dengan nilai Rp1,5 triliun. Sektor tenaga kerja mengalami kenaikan anggaran terbesar keempat yaitu sebanyak 44 persen dengan jumlah hampir Rp270 miliar. Kegiatannya terutama ditujukan untuk mengatasi masalah pengangguran dengan meningkatkan pelatihan.

Wahyu Nusantara Aji , nama yang diberikan Presiden Soeharto, lahir dari pasangan suami istri,Akhmad Riyadi , SE (28) dan Rohana (26) di Dusun Sepapan, Desa Jerowaru , Kecamatan Keruak, Kabupaten Lombok timur, NTB , Selasa (4/2).

Kelahiran Wahyu di Sepapan, yang berjarak sekitar 80 km timur Mataram itu, dibantu oleh bidan praktik, Siti Mujahadah (25) dan dukun beranak Inaq Nasrudih (42).

Menurut Marwan, untuk menjaga kesehatan bayi ke-200 juta tersebut telah diberikan suntikan imunisasi berupa polio nol dan hepatitis.

Bupati Lombok Timur, H. M.Sadir telah menugaskan kepada BKKBN bekerja sama dengan Dinas Kesehatan setempat untuk secara bergiliran memantau sekaligus memberikan perawatan kepada Wahyu.

Wahyu, katanya, sejak lahir hingga sekarang belum diberikan makanan baik berupa,tepung nasi maupun lainnya, tetapi ia selalu minum ASI.

Kehadiran bayi yang menjadi penduduk ke-200 juta itu, sungguh membawa rizki bagi keluarganya dan dirinya sendiri, sebab disamping mendapat hadiah nama dari Presiden juga ditangung biaya pendidikan setinggi-tingginya oleh pemerintah melalui PT Pos.

Sementara hadiah dari berbagai pihak antara lain Bupati Lombok Timur, Kepala BKKBN NTB serta dari masyarakat setempat tersusun rapi di rumah Wahyu.

Kehadiran Wahyu di tanah air, khususnya di Lombok Timur, diharapkan mampu membawa perubahan dalam masalah kependudukan, karena penduduk Lombok Timur tertinggi di NTB mencapai lebih dari 950 ribu jiwa dengan kepadatan 594 jiwa perkm.

Untuk itu, pemilihan warga ke-200 juta tersebut antara lain dengan tingginya angka kelahiran dan kematian di daerah ini , walaupun kini telah dapat ditekan.

Nama yang diberikan Presiden tersebut amat bagus, karena Wahyu artinya rahmat, Nusantara artinya Indonesia dan Aji, keberuntungan, kata Bupati Lombok, oleh karena itu, dengan lahirnya Wahyu tersebut diharapkan dapat membawa keberuntungan bagi dirinya sendiri, keluarga dan daerahnya.

Karena generasi Wahyu adalah generasi kini, berbeda dengan generasi sebelumnya, hal ini akibat dari berbagai perkembangan kehidupan sosial, tambahnya.

 

Akekah

Wahyu yang lahir di dusun terpencil dan tanpa kehadiran ayahnya itu, menurut rencana akan “diakikahkan” pada 19 Februari 1997 di Pendopo Kantor Bupati Lombok Timur.

Akikah, merupakan sunnah Rasul yang dianjurkan kepada umat Islam, apabila ia melahirkan bayi laki-laki maka ia disunatkan memotong dua ekor kambing, tapi kalau wanita satu ekor.

Acara akekah tersebut, kata Marwan, akan dihadiri tiga Menteri Kabinet Pembangunan VI, yakni Menteri Kependudukan /Kepala BKKBN, Dr. H. Haryono Suyono, Menko Kesra, Ir. H. Azwar Anas dan Menstran dan PPH, Ir. H. Siswono Yudohu sodo. Untuk semua itu kini sedang dilakukan berbagai persiapan.

Di samping itu, akan dihadiri pula oleh pemuka-pemuka agama, para tuan guru (ulama) serta tokoh-tokoh masyarakat, tambahnya.

Sementara itu, Ny. Rohana (ibu bayi itu) ketika dijumpai di rumahnya mengatakan sangat bersyukur dengan kelahiran bayinya yang kedua ini serta berterima kasih atas perhatian pemerintah yang cukup besar.

“Saya sangat bangga anak saya diberikan nama oleh Presiden dan nama itu sangat bagus, sehingga nantinya saya harapkan Wahyu menjadi orang yang pinter seperti Habibi (Menristek),” katanya.

Ketika ANTARA menanyakan, bagaimana seandainya kalau pemerintah menginginkan agar Wahyu dibawa Ke Jakarta untuk diasuh supaya menjadi orang pintar, ibu itu mengatakan dengan nada haru,

“Wahyu anak saya dan saya sangat sayang kepadanya, karena itu saya sendiri akan mengasuhnya. Tapi kalau pemerintah memberikan bea siswa untuk pendidikannya saya terima dengan rasa syukur.”

(U.MTR-002/DN02/12/02/97  18:46/REl)

Sumber: ANTARA (12/02/1997)

________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 779-781.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.