PEMERINTAH HENDAKNYA PERSUASIF-DIALOGIS TERHADAP KELOMPOK PERUSUH

PEMERINTAH HENDAKNYA PERSUASIF-DIALOGIS TERHADAP KELOMPOK PERUSUH[1]

 

 

Jakarta, Antara

Aparat pemerintah khususnya keamanan hendaknya mawas diri dan lebih dini melakukan antisipasi melalui tindakan preventif dengan pendekatan persuasif dan dialogis terhadap kelompok atau kekuatan yang berpotensi dapat berbuat kerusuhan sosial, demikian Ketua DPR H. Wahono.

“Sedangkan tindakan represif sebagai tindakan terakhir bila terpaksa, demi menjaga kelancaran pelaksanaan kesinambungan pembangunan nasional.” katanya dalam Pidato Pembukaan masa Persidangan di DPR tahun sidang 1996/1997 dengan acara tunggal Pidato Kenegaraan Presiden Soeharto mengantar nota keuangan RAPBN  1997/1998 di Jakarta, Senin.

Selain itu, baik aparat keamanan maupun masyarakat dan semua pihak diharapkan dapat bertindak secara proporsional sesuai hukum yang berlaku, tidak emosional dan main hakim sendiri, katanya.

Ketua Dewan menilai, kejadian-kejadian di beberapa daerah menjelang berakhirnya tahun 1996 lalu membuktikan bahwa ketahanan sosial budaya masyarakat masih rawan, mudah dihasut oleh oknum-oknum yang tak bertanggungjawab.

“Letupan-letupan sosial, gejolak-gejolak situasional yang beberapa kali kita alami tahun lalu perlu kita cermati lebih mendalam akar permasalahannya.” katanya.

Ini barangkali merupakan bentuk-bentuk manifestasi dari bawah sadar masyarakat bangsa yang muncul secara tak terkendali, setelah melihat tindakan oknum-oknum pelaksana kebijakan dalam tata kehidupan berbangsa, bermasyarakat dan bernegara yang tidak sesuai dengan harapan masyarakat, katanya. Menurut dia, setiap kejadian yang sensitif terhadap sentimen sosial dan keagamaan, ternyata mendorong massa bertindak beringas.

Tindakan massa tersebut tanpa mempedulikan kaidah, norma ketentraman, ketertiban dan keamanan, katanya lebih lanjut. Akibatnya, sendi tatanan bermasyarakat yang selalu menjunjung persatuan dan kesatuan menjadi rusak, sehingga dapat merugikan secara material dan finansial bahkan jiwa manusia, kata Wahono.

 

Pemilu

Di bidang politik, Ketua Dewan mengamati bahwa sesuai tahapan pemilu, akan segera diumumkan secara resmi Daftar Calon Sementara Anggota OPP yang dipersiapkan menjadi Calon Anggota DPR RI.

Dewan mengharapkan agar masyarakat ikut berperan aktif dalam memberi masukan kepada PPI dan OPP bersangkutan. Masukan dimaksud turut menilai calon-calon yang bersangkutan, terutama menyangkut integritas pribadinya baik secara moralitas maupun ideologis.

“Tentunya penilaian ini harus disertai bukti yang otentik agar tidak terjadi fitnah, sehingga dapat menimbulkan keragu-raguan terhadap calon legislatif.” katanya.

Ia mengemukakan, dalam hal pembangunan politik, dinamika kemasyarakatan yang berkembang akhir-akhir ini menunjukkan adanya fenomena yang menuntut perlunya keseriusan untuk makin mengembangkan pola komunikasi politik secara sehati.

Menurut dia, penanganan tuntutan komunikasi bersifat timbal-balik diharapkan dapat mengurangi berbagai kesenjangan politik yang mengganjal rakyat Indonesia dalam mengarungi kehidupan berbangsa dan bernegara, hingga dewasa ini.

Ketua Dewan mengingatkan, akumulasi kesenjangan ekonomi dan politik dikhawatirkan dapat menimbulkan potensi besar bagi kemungkinan munculnya kekerasan dalam menangani berbagai permasalahan yang dapat mengganggu kondisi ketahanan nasional.

Ketika menanggapi Tanwir Muhammadiyah dan lstighosah Nahdlatul Ulama (NU) yang membahas kecenderungan merosotnya moralitas dan akhlak bangsa yang kian memprihatinkan, Ketua Dewan mengajak segenap kekuatan bangsa untuk bekerja keras guna meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, meningkatkan disiplin nasional dan terus memperkokoh persatuan dan kesatuan serta kepribadian bangsa.

“Pacta  kesempatan  ini  diimbau  kepada  segenap  kekuatan  bangsa  untuk memelihara kehidupan  nasional  yang penuh kerukunan dan persaudaraan serta menghindari sejauh mungkin setiap tindakan berbau SARA yang mudah dimanipulasi dan dieksploitasi untuk mengacaukan kehidupan bermasyarakat.” demikian Ketua DPR H. Wahono.

(U. RU4/PU02/ 6/01/97 12:42/REl)

Sumber: ANTARA (06/01/1997)

________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 475-476.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.