PEMERINTAH DORONG LEMBAGA SERTIFIKASI DALAM NEGERI MENJADI KREDIBEL

PEMERINTAH DORONG LEMBAGA SERTIFIKASI DALAM NEGERI MENJADI KREDIBEL[1]

 

Jakarta, Antara

Pemerintah akan terus mendorong lembaga-lembaga sertifikasi dan laboratoriurn di dalam negeri agarmenjadi lembaga yang kredibel, transparan dan independen dalam melaksanakan kegiatan penilaian kesesuaian (standardisasi) sebagaimana yang dituntut masyarakat  internasional.

“Di lain pihak, untuk menghemat devisa sektor jasa, pihak swasta dan BUMN harus memelopori penggunaan lembaga sertifikasi dan laboratoriurn nasional yang telah diakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN) untuk melaksanakan kegiatan standardisasi.” kata Menteri Pertanian Sjarifuddin Baharsjah di Jakarta, Selasa.

Berbicara selaku Wakil Ketua II Dewan Standardisasi Nasional (DSN) ketika membuka Bulan Mutu dan Produktivitas Nasional 1996 yang diawali dengan Seminar Sistem Manajemen Lingkungan (ISO 14001), Mentan menyebutkan, upaya itu selaras dengan pengarahan Presiden Soeharto, dimana dalam menghadapi perdagangan bebas Indonesia harus siap secara teknis dan profesional.

“Untuk itu lembaga-lembaga sertifikasi dan laboratorium kita harus mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri.” ujarnya.

Lebih jauh diungkapkan, semua kegiatan itu bertujuan menyiapkan masyarakat Indonesia secara terencana agar dalam era pasar regional dan global menjelang tahun 2003, 2010, dan 2020 Indonesia telah siap menghadapi kondisi persaingan yang sangat tajam dan ketat.

“Jika masyarakat dan infrastruktur standardisasi belum siap, maka asurnsi dasar hubungan saling ketergantungan secara multilateral dapat berubah menjadi hubungan serba tergantungnya Indonesia kepada negara maju.” katanya.

Bentuk KAN

Mentan menyebutkan, untuk mengantisipasi perkembangan standardisasi internasional dan perdagangan bebas, Indonesia melalui DSN telah membentuk KAN.

“Hingga kini KAN telah memberikan akreditasi kepada sembilan lembaga sertifikasi sistem mutu (LSSM). Kesembilan LSSM tersebut menerapkan skema nasional dan dikembangkan oleh putra-putri Indonesia sendiri, dalam menjawab tantangan perdagangan internasional.” katanya.

Kesembilan lembaga sertifikasi itu yakni B4T Quality System Certification, Sucofindo Registrar Quality Assurance, Agro Based Industry Quality Assurance, BBT­ Textile Industry Quality Assurance, BBK-Quality Assurance Certification Scheme,  BBKKP-Quality System Certification, Balai Industri Semarang Quality Assurance, Mutu Agung Lestari Quality Assurance, dan Kema Registered Quality Indonesia.

Pada acara Seminar itu mentan juga menyerahkan Sertifikat Registrasi Asesor Sistem Mutu, yang kemudian hari akan diikuti dengan Registrasi Asesor Laboratorium dan profesi lainnya.

Falsafah Nilai Tambah

Pada kesempatan itu menteri juga mengatakan, pembangunan industri Indonesia diarahkan pada falsafah peningkatan nilai tambah, daya saing, pangsa pasar dan kelestarian lingkungan.

Ia menyebutkan, kecenderungan di banyak negara maju membuat ketentuan di bidang standar dan “penilaian kesesuaian” makin kompleks sehingga negara-negara sedang berkembang memerlukan waktu untuk mengikutinya.

Untuk itu, katanya, DSN harus menyelaraskan Standar Nasional Indonesia (SNI) dengan standar internasional ISO dan IEC, sehingga dapat memberikan kemudahan bagi kelancaran ekspor nasional.

“Upaya penyelarasan SNI tersebutjika memungkinkan dilakukan dengan mengadopsi secara utuh seperti yang diterapkan pada standar sistem manajemen mutu (ISO seri 9000) dan standar manajemen  lingkungan  (ISO seri  14000).” kata Sjarifuddin Baharsjah.

Sumber : ANTARA (05/11/1996)

_____________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 488-489.

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.