PEMERINTAH BEKUKAN BRE-X DAN ANAK PERUSAHAANNYA DI INDONESIA

PEMERINTAH BEKUKAN BRE-X DAN ANAK PERUSAHAANNYA DI INDONESIA[1]

 

Jakarta, Antara

Pemerintah untuk sementara membekukan operasional Bre-X Minerals Ltd. dan seluruh anak perusahaannya di Indonesia sampai diperoleh kepastian hukum yang dapat diberlakukan kepada perusahaan asal Kanada itu.

Kepastian hukum, menurut Menteri Pertambangan dan Energi IB. Sudjana dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa, diperlukan setelah diketahui terjadi perbedaan hasil penyelidikan yang dilakukan Bre-X dan auditing Strathcona.

Bre-X melalui berita release tanggal 4 Mei 1997, No.22 vol. 97, kata Menteri IB Sudjana yang didampingi Dirjen Pertambangan Umum Adjat Sudrajad menyatakan telah menerima hasil penelitian ulang (due diligence) Strathcona, sekaligus membuktikan bahwa di Busang tidak terdapat kandungan emas yang bernilai ekonomi.

“Karena itu Bre-X juga mengakui, tidak ada kemungkinan bagi terdapatnya emas yang mempunyai nilai ekonomi di daerah zona Tenggara I Selatan wilayah Busang Kaltim (Busang II).” katanya.

Berdasarkan fakta itu, pemerintah memandang perlu untuk mengambil langkah membekukan untuk sementara Surat Persetujuan Prinsip No.438/29/DJP/1995 tertanggal 17 Maret 1995 dan Surat Persetujuan Prinsip No.2105/29/DJP/1995 tanggal 3 Oktober 1995.

Penghentian untuk sementara itu juga berlaku bagi Kontrak Karya yang sudah dilakukan Bre-X di Indonesia termasuk di Busang.

“Pokoknya segala hal yang menyangkut Bre-X kami hentikan dulu.” katanya menegaskan.

Selanjutnya, pemerintah melalui pihak kepolisian akan mengadakan investigasi atas terjadinya perbedaan hasil penyelidikan Bre-X dan auditing Strathcona itu agar segera dapat diketahui tindakan hukum yang dapat diambil terhadap perusahaan itu.

“Nah, setelah investigasi itu dilakukan dan diperoleh kepastian tindakan hukum apa yang bisa dilakukan kepada mereka, baru kami akan memikirkan tindakan apa yang perlu diambil pemerintah dan waktunya tergantung dari kapan selesainya.” katanya.

Ketika ditanya tentang peran apa yang mungkin dilakukan oleh Deptamben dalam investigasi itu, dia menjelaskan, pertama menyediakan ahli untuk menyertai kegiatan itu, kedua mempersilahkan pemeriksaan setiap pihak yang dianggap terlibat.

Ketika didesak apakah termasuk pemeriksaan beberapa oknum Deptamben, dia mengatakan, siapa saja bisa dimintai keterangan dan diperiksa dalam rangkaian investigasi itu.

“Silahkan siapa saja, bila dianggap pantas diperiksa. Itu kewajiban petugas nantinya.” tambahnya.

Hanya saja yang penting sekarang, kata Menteri, untuk Kontrak Karya pada masa datang akan diperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan kasus Busang. Oleh karena itu, pihaknya kini telah memerintahkan Ditjen Pertambangan Umum agar “lubang-lubang” yang pernah terjadi pada proyek Busang ini dapat menjadi pelajaran, sehingga lubang-lubang itu pada masa datang bisa diantisipasi dan dapat ditutupi.

Selain itu, kontrol ketat pada tahap pra-kontrak karya juga akan dilakukan, termasuk menetapkan persyarat bahwa setiap pemegang kontrak karya harus menyisakan dan mengembalikan 25 persen disalahkan kepada pemerintah untuk diamankan.

Ketika ditanya apakah kejadian Busang dapat menciptakan preseden buruk bagi investasi bidang pertambangan di Indonesia, dia mengatakan, kemungkinan itu tidak akan terjadi sebab terbukti masih banyak yang meminta kontrak karya.

“Hanya saja sampai sejauh mana mereka mau memahami beberapa peraturan kontrak karya di Indonesia itu yang kami tidak tahu dan harapan kami ialah mereka tidak semata-mata mencari ‘gain’ (keuntungan) di tempat lain.” katanya.

“Surprise”

Pada jumpa pers yang dihadiri puluhan wartawan dalam dan luar negeri itu, Mentamben Sudjana menyatakan, pemerintah Indonesia menganggap sebagai

Suatu “surprise” terjadinya perbedaan hasil penelitian oleh Bre-X dan Strathcona secara umum.

Surprise dalam pemahaman kasus Busang, katanya, bisa mengandung beberapa pengertian baik sebagai kejutan, penyesalan, kemarahan maupun kekecewaan yang begitu mendalam kenapa hal itu bisa terjadi.

Selain itu, pemerintah juga berniat mundur dari kepemilikan saham sebesar 10 persen dari konsorsium Busang itu.

“Ya, otomatis mundur. Untuk apa terlibat jika tidak ekonomis.” katanya.

Ketika ditanya bagaimana jika hasil investigasi itu nantinya membuktikan bahwa penelitian Strathcona dan Bre-X juga sama-sama tidak akurat, Menteri mengatakan, pihaknya tidak mau berandai-andai dulu sebelum investigasi itu usai.

“Kami juga tidak memperkirakan apakah setelah hasil investigasi diketahui proyek itu akan kita tawarkan kepada konsorsium lain. Yang jelas kami lihat dulu hasil investigasi itu. Biar pasti dulu lah.” katanya.

Selain itu, investigasi yang akan dilakukan pemerintah ini tidak terkait dengan rencana Strathcona untuk menyelesaikan laporan secara menyeluruh hingga akhir Juni 1997.

“Semuanya ini di luar itu. Itu urusan mereka.” katanya.

Mentamben menambahkan, pihaknya yang merasa dirugikan secara moral bukan material, karena itu ia akan segera melaporkan persoalan ini kepada Presiden Soeharto,

“Ya, secepat mungkin akan kami laporkan.” ujarnya.

Sumber : ANTARA (06/05/1997)

_______________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 348-350.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.