PEMERINTAH AKAN BAYAR UTANG TEPAT WAKTU

PEMERINTAH AKAN BAYAR UTANG TEPAT WAKTU[1]

 

Jakarta, Suara Pembaruan

Presiden menegaskan, dengan meningkatnya kewajiban pelunasan pinjaman swasta pada tahun-tahun terakhir Repelita VI, maka sukar mencapai sasaran DSR (Debt Service Ratio) keseluruhan sebesar 24 persen pada akhir Repelita VI.

Utang Indonesia secara keseluruhan 83,3 miliar dolar AS pada akhir Maret 1994, meningkat menjadi 101,3 miliar dolar AS pada akhir Maret 1995, dan meningkat lagi menjadi 136,1 miliar dolar AS pada akhir Desember 1997.

Utang pemerintah menurun dari 55 miliar dolar AS akhir Maret 1994 menjadi 54,1 miliar dolar AS pada akhir Desember 1997 atau menurun dari 66,1 persen menjadi 39,8 persen dari keseluruhan utang.

Sebaliknya, hutang dunia usaha swasta meningkat dari 28,3 miliar dolar AS menjadi 82 miliar dolar AS, atau meningkat dari 33,9 persen menjadi 60,2 persen dari seluruh utang, lanjut Kepala Negara dalam pidato pertanggungjawabannya hari Minggu.

I DSR sektor swasta meningkat dari 12,8 persen pada tahun 1993/1994 menjadi 27,4 persen pada tahun 1997/1998. Sebaliknya DSR sektor pemerintah menurun dari 19,1 persen pada 1993/1994 menjadi 11,8 persen pada 1997/1998.

Secara keseluruhan DSR swasta dan pemerintah mengalami peningkatan dari 3 1,9 persen pada 1993/1994 menjadi 39,2 persen pada 1997/1998.

“Dengan meningkatnya kewajiban pelunasan pinjaman swasta pada tahun-tahun terakhir Repelita VI, maka sukar mencapai sasaran DSR keseluruhan sebesar 24 persen pada akhir Repelita VI.” kata Presiden dalam pidato pertanggungjawaban sebagai mandataris MPR RI hari Minggu di Jakarta.

Kepala Negara mengakui bahwa beban pembayaran kembali utang luar negeri memang berat. Tetapi pemerintah mempunyai dana dan devisa yang cukup untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya.

Kita memang sedang mengalami kesulitan ekonomi yang berat. Tetapi kita percaya bahwa dengan bekerja keras dan melaksanakan program-program yang telah kita susun, kita pasti berhasil mengatasi kesulitan-kesulitan ini, Presiden mengungkapkan.

“Saya perlu menegaskan kembali, bahwa pemerintah Indonesia akan tetap memenuhi seluruh kewajiban pembayaran kembali pokok dan bunga utang luar negerinya secara tepat waktu.” lanjut Kepala Negara.

Diingatkan pula bahwa keadaan dan moneter harus dipulihkan, ketahanan ekonomi juga harus dibangkitkan, dan ini merupakan tugas yang sangat berat. Tetapi tidak perlu berkecil hati karena Indonesia memiliki kekuatan, pengalaman dan semangat.

Sementara itu laju pertumbuhan ekonomi selama periode 1993-1996 berturut­ turut adalah 7,3 persen, 7,5 persen, 8,2 persen, 8 persen. Tetapi pada paruh kedua tahun 1997 gejolak moneter tiba-tiba datang menerjang.

Pertumbuhan ekonomi lalu melambat. Angka sementara pertumbuhan ekonomi tahun 1997 hanya 4,7 persen, padahal selama empat tahun Repelita VI pertumbuhan ekonomi rata-rata mencapai 7,1 persen per tahun.

Laju pertumbuhan penduduk berhasil terus ditekan, sehingga mencapai 1,54 persen dalam 1997. Angka ini mendekati sasaran akhir Repelita VI sebesar 1,51 persen. Dengan laju pertumbuhan ekonomi dan penduduk tersebut, maka pendapatan per kapita Indonesia meningkat.

Dalam rupiah nilainya meningkat dari Rp.2,7juta pada 1996 menjadi Rp.3,1 juta pada 1997. Dengan demikian realisasi pendapatan per kapita dalam nilai rupiah tahun 1997 telah melampaui sasaran pendapatan per kapita tahun keempat Repelita VI sebesar Rp.3 juta.

Dalam dolar Amerika, pada tahun 1993 pendapatan per kapita 842 dolar AS, kemudian naik menjadi 1.155 dolar AS pada 1996, yang berarti melampaui sasaran 1.089 dolar AS. Dengan merosotnya nilai rupiah, pendapatan per kapita tahun 1997 turon lagi menjadi 1.089 dolar AS.

Impor Meningkat

Presiden menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi hingga tahun ketiga Repelita VI, diikuti pula dengan kestabilan internal yang terkendali. Laju inflasi pada periode itu masing-masing adalah 8,6 persen, 8,9 persen, 5,2 persen, mendekati sasaran akhir Repelita VI sebesar 5 persen.

Sejak pertengahan tahun 1997 terjadi kenaikan harga-harga kebutuhan pokok. Gejala ini mulai terasa pada September tahun lalu dengan laju inflasi terus tetap tinggi hingga Januari 1998 mencapai 6,9 persen.

Laju inflasi seluruh tahun 1997 menjadi 11,1 persen, dan dalam sepuluh bulan pertama tahun anggaran 1997/1998 telah mencapai 16 persen. Laju kenaikan harga ini juga dipicu oleh kekeringan yang panjang, yang menyebabkan turunnya produksi pertanian dan terjadinya kenaikan harga-harga kelompok makanan.

Di sisi kestabilan eksternal, pertumbuhan ekspor sejak 1993/1994 secara umum lebih lambat dari pertumbuhan impor. Laju ekspor yang tidak terlalu cepat ini disebabkan oleh bertambah ketatnya persaingan, terutama untuk produksi-produksi industri padat karya yang telah mulai banyak dihasilkan oleh negara-negara pengekspor baru.

Di samping itu karena meningkatnya permintaan dalam negeri. Di lain pihak, kegiatan ekonomi yang terus meningkat-termasuk ekonomi te1ah mendorong lajunya pertumbuhan impor.

Menurut Kepala Negara, akibat kecenderungan tadi ada1ah terus meningkatnya defisit transaksi berjalan, yaitu dari 2,9 miliar dolar AS pada 1993/1994 atau 2,1 persen dari PDB, menjadi 8,1 miliar dolar AS pada 1996/1997 atau 3,5 persen dari PDB.

“Namun depresiasi rupiah yang besar pada pertengahan 1997/1998 telah menyebabkan melambatnya impor. Bersamaan dengan itu, ekspor terdorong meningkat terutama produk-produk yang komponen impornya kecil.” tutur Presiden.

Sebagai hasilnya, lanjut Kepala Negara, defisit transaksi berjalan membaik hampir separuh dari tahun sebelumnya, yaitu menjadi 4,3 miliar dolar AS atau 2,2 persen terhadap PDB. Angka ini makin mendekati sasaran tahun terakhir Repelita VI, yaitu sebesar 1,9 persen terhadap PDB. (W-4).

Sumber : SUARA PEMBARUAN (01/03/1998)

_______________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 708-711.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.