PEMBINAAN PRESTASI OLAHRAGA DAPAT DANA INPRES RP 15 MILIAR

PEMBINAAN PRESTASI OLAHRAGA DAPAT DANA INPRES RP 15 MILIAR[1]

 

 

Jakarta, Antara

Pemerintah untuk pertama kalinya memberi bantuan sebanyak Rp 15 miliar bagi pembinaan prestasi olahraga di 27 provinsi, kata Menpora Hayono Isman di Jakarta, Senin, usai Presiden Soeharto menyampaikan RAPBN 1997-1998 di DPR.

Menurut dia, anggaran itu masih merupakan uji coba dan akan dilipatgandakan jika berhasil dan ada kemungkinan akan dicabut jika gagal.

“Dana ini semacam ‘pilot project’, ditambah jika berhasil dan kemungkinan akan dihapus jika gagal.” ujar Hayono.

Dana Inpres Pembinaan Olahraga Berprestasi itu, merupakan bagian dari anggaran untuk Sektor Pendidikan, Kebudayaan Nasional, Kepercayaan, Pemuda dan Olahraga berjumlah Rp 4,676,9 triliun.

Hayono menyatakan bahwa ia sangat bergembira, karena baru kali ini ada dana anggaran khusus untuk olahraga berprestasi, sedangkan pada tahun-tahun lalu belum dianggarkan.

“Hal ini patut disyukuri oleh masyarakat olahraga pada khususnya karena baru kali ini spesifik dana untuk olahraga prestasi diberikan.”

Bantuan dana tersebut akan direalisasikan dalam bentuk pengadaan kejuaraan tingkat daerah.

“Jika setelah adanya dana tersebut, kejuaraan daerah juga tidak diadakan, maka pemerintah dapat mencabut dana untuk provinsi tersebut.”

Untuk selanjutnya, tambah Hayono, akan diadakan rapat koordinasi dengan induk-induk olahraga, untuk memanfaatkan dana tersebut secara optimal bagi pembinaan prestasi di daerah.

“Sehingga berbagai masalah klasik yang selalu mengganggu pembinaan olahraga prestasi dapat diatas.” tambahnya.

Khususnya, tambah Hayono, dalam penyediaan bibit bagi atlet nasional atau bagi atlet daerah sendiri.

Ia mencontohkan kejuaraan tinju STE (Sarung Tinju Emas) tahun Ialu, ternyata pesertanya asal ambil, karena materi petinju yang berkualitas ternyata kurang sekali.

“Karena daerah tidak mampu mengadakan pembibitan.”

Sementara itu pada setiap PON selalu saja ada atlet yang dibajak, kendati pada PON tahun lalu masih agak halus namun intinya sama saja, tambahnya.

Hal itu, merupakan dua contoh yang dapat diatasi dengan adanya dana Inpres pembinaan prestasi olahraga tersebut, katanya.

Pelaksana dana tersebut adalah Pemda Tingkat I, melalui induk-induk organisasi olahraga yang ada di daerah (Pemda dan Komda).

Hayono menambahkan, skala prioritas cabang yang akan dibantu oleh dana tersebut belum ditentukan, namun kantor Menpora mengacu pada data yang ada sebelumnya yaitu atletik, renang, senam dan bulu tangkis.

“Karena tiap daerah harus ada cabang tersebut, namun ada juga yang penting tapi tidak ada di semua provinsi yaitu tinju, kemungkinan lain adalah dayung.” tambahnya.

Dana tersebut tidak merata dibagi untuk 27 provinsi. “Jadi ada prioritas, yang pertama yang APBD-nya tidak sebaik di Jawa, sementara prioritas kedua adalah kepada cabang-cabang yang dipertandingkan di PON, SEA Games dan Olimpiade, di luar keempat cabang di atas.”

Dana itu, 67 persennya adalah untuk pembinaan atlet, 30 persen untuk prasarana, dan 10 persen untuk organisasi.

Apalagi, kata Hayono menghadapi Renstra Garuda Emas 2006, dana tersebut harus benar-benar dimanfaatkan, jika Indonesia ingin mencapai enam besar Asia.

(T.OK05/0K06/15:59/0K03/OK02)

Sumber: ANTARA (10/01/1997)

________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 548-549.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.