PEMBICARAAN EMPAT MATA SOEHARTO-LEE DI YOGYA: PRINSIP DASAR PENGELOLAAN PULAU BATAM DISETUJUI

PEMBICARAAN EMPAT MATA SOEHARTO-LEE DI YOGYA: PRINSIP DASAR PENGELOLAAN PULAU BATAM DISETUJUI

Sudah disetujui prinsip-prinsip dasar mengenai kerjasama pengelolaan Pulau Batam, Mensesneg Sudharmono mengatakan Kamis malam di Gedung Agung Yogyakarta. Hal itu dikatakan menjawab pertanyaan wartawan mengenai hasil pembicaraan tahap pertama antara Presiden Soeharto dengan P.M Singapura Lee Kuan Yew Kamis sore.

Dikatakan dalam pertemuan empat mata itu telah, dilakukan tukar menukar draft dan saling mempelajari. Sudharmono selanjutnya mengatakan akan ada perjanjian bersama mengenai masalah pengelolaan Pulau Batam tersebut. Pembicaraan akan dilanjutkan Jumat pagi disamping melanjutkan pembicaraan mengenai Pulau Batam, juga masalah-masalah ekonomi dan politik.

Pembicaraan antara Presiden Soeharto dan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew tahap pertama dilakukan secara empat mata selama dua jam penuh di ruang Sudirman Gedung Agung Yogyakarta.

Para menteri, baik dari pihak Indonesia maupun Singapura, mengadakan pembicaraan terpisah di ruang lainnya dalam gedung yang sama. Dan tidak penjelasan pun juga yang diberikan kepada para wartawan selesai pembicaraan para menteri kedua negara itu.

Dalam pembicaraan itu dari pihak Indonesia antara lain Menteri Luar Negeri Mochtar Kusumaatmadja, Menperdagkop Radius Prawiro, Mensesneg Sudharmono dan Menteri PPLH Emil Salim, Dari Singapura antara lain Menlu

S. Dhanabaln, Menteri Perdagangan dan Industri Goh Chok Tong, Menteri Negara Othman Wok, Menteri Urusan Lingkungan Lim Kim San dan Menteri Pendidikan Tonny Tan.

Menlu Mochtar, Menteri Radius maupun Menteri Emil Salim tidak bersedia memberikan keterangan kepada para wartawan yang mengerumuninya selesai pembicaraan.

Menteri Radius mengatakan, ada konsensus untuk tidak memberikan keterangan terlebih dahulu, selama pembicaraan belum selesai dan masih akan dilanjutkan Jumat pagi ini.

"Besok saja," kata Menlu. "No …. no," kata Sudharmono ketika ditanya oleh seorang wartawati dari pers asing.

Sejauh itu, ketika didesak terus oleh para wartawan yang mengerumuninya di halaman Gedung Agung Yogyakarta, Sudharmono menjelaskan bahwa sesuai dengan acara yang direncanakan semula, karena pertemuan ini dalam rangka mempererat hubungan antara kedua negara, maka pembicaraan berkisar kepada masalah yang ada kepentingannya bagi kedua negara, baik bersifat bilateral, regional maupun internasional.

Krida Mandala

Beberapa saat selesai pembicaraan dengan Presiden Soeharto, PM Lee Kuan Yew keluar dari ruangan Gedung Agung sudah mengenakan celana pendek dengan kaos sport menuju stadion Krida Mandala, untuk jogging selama lima belas menit.

Kegemaran lari juga diceritakan P.M. Lee kepada Presiden Soeharto sesaat sebelum keduanya memulai pembicaraan di ruang Sudirman. Lee mengatakan, setiap harinya dia berolah raga lari sekitar dua sampai tiga kilometer. Dia juga masih main golf selama satu jam tiga suku (satu jam empat puluh lima menit).

Sementara itu Menteri PPLH Emil Salim menjelang maghrib mendampingi Menteri Lingkungan Singapura Lim Kim San, menyusuri sepanjang Jalan Malioboro dengan Jalan kaki, keluar masuk beberapa toko.

Tampak keduanya tertarik dengan produk produk industri rakyat baik yang dijajakan di toko-toko maupun dikaki lima. Beberapa kali Menteri Lim Kim San dan Emil Salim mencoba memakai "blangkon" tetapi tidak jadi membeli karena terlalu kecil dan tidak didapati ukuran yang cukup baginya.

Tari Topeng

Malam ini di Gedung Agung, Presiden Soeharto menjamu Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew dengan acara makan malam dan pertunjukan kesenian, juga diadakan tukar menukar tanda mata, dari P.M. Lee berupa dua buah meja ukir dengan alas marmer, sedang dari Presiden Soeharto berupa tea-set dari perak, dan buku 30 tahun Indonesia Merdeka dalam bahasa Inggeris.

Tukar menukar kenangan antara Nyonya Tien Soeharto dengan Nyonya Lee, masing masing berupa sebuah kotak tetapi belum diketahui isinya Nyonya Tien juga memberikan buku perjuangan wanita Indonesia.

Jumat pagi ini pembicaraan tahap kedua akan dilangsungkan di tempat yang sama. Masalah masalah ekonomi perdagangan, pendidikan dan lingkungan hidup antara lain merupakan bahan pembicaraan yang penting. Khusus mengenai bidang perdagangan dan ekonomi masalah penanaman modal di Pulau Batam, menjadi bahan pembicaraan yang luas dan mendalam.

Masalah masalah pertahanan dan keamanan kedua negara dan ASEAN pada umumnya tidak lepas dari bahan pembahasan, khususnya yang menyangkut masalah masalah yang berkaitan dengan masalah Kamboja.

Pukul 12.30 WIB acara makan siang, pukul 14.40 WIB PM Lee dan, rombongan berpamitan kepada Presiden dan Nyonya Tien Soeharto. Pukul 14.45 WIB, PM Lee serta Nyonya Lee Kuan Yew dengan didampingi Menlu Mochtar menuju ke Candi Borobudur, disini tamu negara tersebut akan disambut oleh Gubernur Jateng Supardjo Rustam bersama ibu dan Muspida Tk I Jateng dan Muspida Tk II setempat peninjauan selesai sampai pukul 16.10 WIB dan kembali ke Yogyakarta.

Jumat malam, PM Singapura dan rombongan dijamu makan malam oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paku Alam bertempat di Puro Pakualaman dan diteruskan dengan hidangan kesenian pukul 21.30 WIB tamu negara kembali ke Gedung Agung.

Menurut rencana dalam perjalanan menuju ke Candi Borobudur Jumat sore ini, iring-iringan mobil tamu negara dari Singapura, akan berhenti sejenak di dekat jembatan Kali Sasak guna menyaksikan gunung Merapi. Akhir-akhir ini gunung tersebut kembali aktif sampai sekarang.

PM Singapura Lee Kuan Yew dan rombongan tiba di Yogyakarta hari Kamis dengan menumpang pesawat khusus Boeing 737 Singapore Airlines. Presiden dan Ibu Tien Soeharto menjemput langsung di tangga pesawat.

Presiden Soeharto menyambut rekannya dari Singapura itu dengan hangat dan mesra. Kemudian PM Lee mendapat kalungan bunga dari putri Sri Paku Alam, demikian pula Ny. Lee Kuan Yew mendapat karangan bunga. (DTS)

Yogyakarta, Merdeka

Sumber: MERDEKA (04/07/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 608-610.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.