PEMBICARA ABS TEKANKAN PENTINGNYA STABILITAS POLITIK DAN BIROKASI

PEMBICARA ABS TEKANKAN PENTINGNYA STABILITAS POLITIK DAN BIROKASI[1]

 

Jakarta, Antara

Para pembicara di Pertemuan PengusahaASEAN Pertama (ABS, “the First ASEAN Business Summit”) memandang perlu adanya stabilitas politik serta birokrasi yang tidak berbelit guna mempertahankan dan meningkatkan pembangunan ekonomi di kawasan ASEAN, ujar Ketua Kadin ASEAN Ir. Aburizal Bakrie.

Selain itu beberapa pembicara juga meminta perhatian dalam hal teknologi dan pendidikan untuk meningkatkan sumberdaya manusia (SDM), kata Aburizal di Jakarta, Kamis, padajumpa pers mengenai pokok-pokok masalah yang dibicarakan dalam pertemuan tersebut.

“Para pembicara memperhatikan perlunya stabilitas di ASEAN untuk dapat mempertahankan kemajuan ekonomi seperti sekarang ini.” kata leal, panggilan akrab Aburizal.

Beberapa pembicara, katanya, dalam kaitannya untuk menjaga stabilitas politik memandang perlu adanya pendistribusian kemakmuran dan mengurangi kesenjangan di ASEAN. Hal itu masuk dalam tinjauan politik yang bisa mengganggu kemajuan ekonomi di masa mendatang, katanya.

Presiden Soeharto, katanya, juga minta kepada dunia usaha dan pemerintah di ASEAN untuk memperhatikan pengusaha menengah dan kecil.

Selain itu, juga dalam kaitannya dengan stabilitas politik, dunia usaha dan pemerintah dikawasan ASEAN perlu pula memperhatikan meningkatkan kemajuan pedesaan sehingga mengurangi kesenjangan dengan daerah perkotaan.

“Stabilitas politik sangat mempengaruhi perekonomian ASEAN, sehingga perlu memberikan perhatian kepada pengusaha lemah dan menengah serta melakukan pembinaan di pedesaan.” kata leal.

Selain masalah stabilitas politik, ujar leal, beberapa pembicara secara tersamar juga meminta perhatian dalam hal birokrasi.

“Beberapa pembicaraa secara tersamar mengatakan birokrasi yang berbelit-belit dapat menghambat pertumbuhan ASEAN.” Kata leal.

Birokrasi yang berbelit-belit membuat produk yang dihasilkan negara ASEAN tidak dapat bersaing dengan negara lainnya.

Selain perlunya efisiensi di dunia usaha, juga perlu adanya efisiensi di pemerintahan (birokrasi yang efisien).

“Sehingga akan terlihat ekonomi biaya rendah secara keseluruhan di ASEAN.”

Teknologi dan SDM

Menyinggung masalah teknologi, leal mengatakan, para pembicara berpendapat ASEAN perlu memperhatikan teknologi karena bisa mengubah bisnis dunia secara revolusioner.

Para pembicara juga menekankan perlunya meningkatkan pendidikan SDM di kawasanASEAN guna mendukung pertumbuhan ekonomi dan ekspor.

“Jumlah tenaga kerja dengan pendidikan yang cukup apakah kuantitasnya sudah cukup.” tandas leal, lalu melanjutkan, perlu peningkatan pendidikan untuk menghadapi pertumbuhan ekonomi yang pesat.

Selain itu, lanjut leal, pembicara dari pemerintah, baik Indonesia, Malaysia, Thailand maupun Filipina, menyatakan yakin perekonomian ASEAN akan berkembang.

Pembicara dari pemerintah mengharapkan dan memberikan peran yang lebih besar kepada dunia usaha dalam pembangunan di ASEAN, dan peran tersebut harus diambil oleh dunia usaha.

Menanggapi permintaan pemerintah kepada dunia usaha, jelas leal, Kadin ASEAN masih ada masalah yang diperlukan oleh dunia usaha namun tidak bisa ditangani oleh dunia usaha tapi harus oleh pemerintah.

Masalah itu antara lain masalah bea masuk dalam skema kerja sama industry ASEAN (AICO) yang dinilai tidak efektifkarena hanya diberikan kepada negara yang tergabung dalam skema tersebut, sedangkan negera lainnya tidak bisa memperoleh kemudahan.

Hal yang tidak kalah pentingnya, para pembicara juga minta agar pembangunan infrastruktur di ASEAN sebagai prasyarat pembangunan yang berkelanjutan hendaknya dibangun atas pertimbangan masalah ekonomis dan bukannya politik praktis.

Menyinggung mengenai jalannya ABS, leal mengatakan, pertemuan berjalan dengan baik.

“Pembicara dan yang dibicarakan berbobot.” tandasnya.

Pesertanya banyak dan mengikuti pertemuan dengan penuh antusias.

Sumber : ANTARA (13/03/1997)

____________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 278-280.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.