PEMBAWA TONGKAT ESTAFET

PEMBAWA TONGKAT ESTAFET[1]

 

 

Jakarta, Kompas

PENYERAHAN jabatan Presiden RI dari Soeharto kepada Habibie hari Kamis (21/5) tak lebih dari penyerahan (tongkat) estafet tanggungjawab seorang ayah pada anaknya. Dua sosok dikenal banyak kalangan sangat dekat dan saling mempercayai.

Masih terbayang di pelupuk mata, foto dokumentasi Sekretariat Negara yang terpampang di halaman satu Kompas, 12 Maret lalu. Pada foto itu tampak Habibie yang bertubuh kurus kecil memboncengkan Soeharto yang berbadan tinggi besar di atas motor besar Harley Davidson. Sesuatu yang mengesankan dua hal kedekatan Soeharto dan kepercayaannya yang besar pada Habibie.

Perkenalan Habibie dengan Soeharto, dua figur yang usianya bertaut 15 tahun itu, sebenarnya sudah berlangsung lama. Ketika itu Abdul Jalil Habibie (ayah BJ Habibie) yang dipromosikan menjadi Kepala Pertanian Indonesia Timur hijrah ke Ujungpandang bersama istri dan delapan anak-anaknya pada tahun 1948. Kediaman keluarga Habibie di Jalan Maricaya (Klapperland) itu di seberang jalan Markas Pasukan Brigade Mataram yang dipimpin Overste (Letkol) Soeharto.

Kedekatan Soeharto dan keluarga Habibie bahkan menggoreskan makna dalam, yaitu saat Alwi Abdul Jalil Habibie menghembuskan nafas terakhir akibat serangan jantung, disaksikan Soeharto. Overste Soeharto sendiri yang mengatup kelopak mata ayah BJ Habibie ini.

Namun hubungan yang lebih intens dimulai pada tahun 1974, ketika Habibie yang telah menjabat Wakil Presiden Direktur Aplikasi Teknologi MBB diminta Soeharto untuk kembali ke Tanah Air.

Pesan Soeharto yang ditemuinya di Jalan Cendana,

“Habibie saya tahu mengenai kamu, sekarang kamu harus membantu saya untuk mensukseskan pembangunan. Yang penting bagi saya adalah teknologi, coba kamu cari jalan.” yang lalu dijawab Habibie ;

“Pak Harto, saya hanya bisa membuat kapal terbang. Mengapa saya akan diberi tugas begini?”

“Kamu bisa membuat kapal terbang, berarti bisa membuat yang lain-lain.” timpal Soeharto.

BEGITULAH, doktor konstruksi pesawat terbang yang berusia 37 tahun itu diangkat menjadi penasihat Presiden RI sekaligus Ketua Divisi Advanced Technology Pertamina sebagai cikal bakal BPPT. Ketika memegang jabatan itu, Habibie masih sebagai Wakil Presdir MBB hingga tahun 1978.

Kepercayaan Soeharto pada kemampuan Habibie yang begitu besar terlihat dari puluhan jabatannya yang diberikan, termasuk juga penunjukannya sebagai Menristek sejak tahun 1983 atau tiga masa jabatan. Dibandingkan menteri-menteri lainnya, Habibie tergolong yang terlama berada di kabinet.

Mengenai kedekatan Soeharto-Habibie, ada cerita dari staf terdekatnya. Ketika itu Soeharto dan para menteri berekreasi memancing, usai peresmian pabrik pulp PT Kiani Kertas di Kalimantan Timur, Agustus 1997.

Semua menteri nampaknya siap dengan pakaian santai untuk acara itu kecuali Habibie yang mengenakan safari. Melihat itu Soeharto dengan serta merta meminjamkan bajunya. Dari perahu-perahu yang disediakan, Habibie pun berada pada satu perahu dengan Soeharto.

Berbeda dengan menteri lainnya, perlakuan Soeharto pada Habibie memang lain. Bila ‘menghadap’ Soeharto, Habibie selalu ditempatkan pada deretan paling akhir agar tidak mengganggu jadwal kegiatan menteri atau tamu lainnya, karena menurut pengamatan Kompas biasanya pembicaraan itu bisa memakan waktu berjam-jam.

Berbicara atau berpidato berjam-jam tanpa teks itu juga sering dilakukannya ketika menjadi Menristek pada berbagai kesempatan. Meskipun pidatonya dalam hitungan jam, Habibie penyandang Profesor kehormatan dari ITB tidak menurunkan intonasi suaranya yang tinggi dan penuh dengan tekanan.

Dengan gerak tangan dan wajah yang ekspresif ditambah mata yang sedikit membelalak, Habibie memang mampu memukau pendengarnya pada uraiannya tentang berbagai hal yang berkisar tentang rencana-rencana dan keberhasilannya dalam pengembangan IPTEK. Ketika berada di podium itu Habibie kadang lupa waktu.

“Ia biasanya diingatkan akan adanya jadwal lain oleh ajudannya yang menyodorkan secarik kertas kecil.”

Kegeniusan Habibie tidak diragukan dari predikat summa cum laude yang diraihnya pada ilmu yang tergolong sulit ; konstruksi pesawat terbang. Namun banyak hal kontroversial dilakukannya. Mengandalkan pikirannya yang impulsif, membuat rencana atau jadwal yang telah disusun rapi tiba-tiba berubah.

Hal ini menurut salah satu protokol masih dilakukannya ketika menjadi wakil Presiden. Dalam perjalanan ke suatu acara yang telah terjadwal, tiba-tiba pengemudi jipnya yang anti peluru itu diminta untuk merubah arah karena ada hal lain yang menurut dia lebih penting.

JABATANNYA yang begitu banyak, memang membuatnya banyak bepergian, termasuk ke mancanegara. Kesibukan dan acara yang amat padat mendorongnya untuk selalu berjalan cepat dan membawa beberapa tas dan bertumpuk-tumpuk berkas di dalam mobilnya.

Meskipun begitu, tidak semua lembaga yang dibawahinya mendapat perhatian yang memadai. Hal itu antara lain dirasakan oleh anggota Dewan Riset Nasional, salah satu lembaga penelitian nondepartemen. Pada suatu rapat beberapa tahun lalu, mereka pernah menanyakan apakah Dewan ini masih diperlukan Habibie. Kalau tidak, sebaiknya dibubarkan saja, karena mereka menganggap usulan yang diajukan tidak pernah diperhatikan.

Belum berhasilnya organisasi yang dipimpinnya juga terlihat pada industri strategis.

Ia pernah mengungkapkan pada rapat dengar pendapat dengan Komisi X DPR (Kompas, 21/2/95) lima industri strategis yang dikelola BPIS masih merugi, termasuk IPTN. Industri yang menyerap puluhan ribu karyawan, termasuk anaknya Ilham Akbar Habibie, itu tahun lalu pernah dilanda pemogokan karyawan yang menuntut kenaikan gaji, Oktober 1997.

Kasus itu telah terselesaikan, namun kegiatan di industri strategis yang berhasil membuat dan menerbangkan pesawat terbang N-250 kini tampak menurun. Itu ditunjukkan oleh jam kerja yang sekarang dibatasi hanya empat hari, seperti diungkapkan sumber Kompas pada diskusi panel antara IPTN, INACA (Indonesia National Air Carriers Association) dan perusahaan penerbangan dan maskapai penerbangan terjadwal, 12 Mei lalu. Perusahaan Pindad pun mulai membatasi hari dan jam kerja karyawannya. Hal ini menurut pimpinan Pindad berkaitan dengan krisis ekonomi yang berlangsung saat ini.

Mengemban jabatan Presiden di masa krisis ini, Habibie memang akan menanggung beban yang makin berat. Dalam dua hari terakhir ini sebelum serah terima hari Kamis, menurut pengamatan Kompas, Habibie yang biasa tersenyum bila bertemu wartawan, tampak sangat tegang dan serius ketika masuk dan keluar dari rumah kediaman Soeharto di Jalan Cendana. Semoga saja sebagai Presiden yang baru, Habibie dapat menjalaninya dengan mulus.

Sumber : KOMPAS (22/05/1998)

____________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 552-554.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.