PEMBANGUNAN MASYARAKAT SEJALAN DENGAN ISLAM

PEMBANGUNAN MASYARAKAT SEJALAN DENGAN ISLAM

 

 

Presiden Buka MTQ Nasional XIV

 

Masyarakat yang ingin kita bangun bukan saja tidak bertentangan dengan ajaran Islam, malahan sejalan dengan ajaran Islam, Presiden Soeharto mengatakan dalam pidatonya ketika membuka Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat nasional XIV di stadion Sultan Syarief Abdurrahman Pontianak, Jumat malam.

Karena itu pula, kata Presiden, pelaksanaan pembangunan masyarakat merupakan bagian dari amal kemasyarakatan seluruh kaum muslimin Indonesia.

“Dalam Al Qur’an sendiri tidak terbilang banyaknya petunjuk Tuhan mengenai amal kemasyarakatan dan pembangunan masyarakat”, kata Presiden.

Dalam negara Pancasila yang sedang kita bangun bersama-sama marilah kita dalami ayat-ayat suci dalam Al Qur’an terutama yang memberi tuntunan kepada kaum muslimin untuk membangun masyarakat.

Dalam arti itulah lomba seni baca Al Qur’an yang diselenggarakan secara nasional juga ikut memberi sumbangan yang sebesar-besarnya kepada pembangunan masyarakat, bangsa dan negara yang kita cintai bersama.

Pada bagian lain Presiden mengatakan, dalam usaha untuk menikmati kebahagiaan dan keselamatan hidup di dunia, kita antara lain membangun masyarakat.

Masyarakat yang ingin dibangun adalah masyarakat Pancasila, yakni masyarakat yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, yang menjunjung tinggi kemanusiaan yang adil dan beradab, yang menjaga persatuan Indonesia, yang berwatak kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan yang bertekad untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Mendapat Tempat

Presiden Soeharto mengatakan, lomba seni baca kitab suci ummat Islam yang kita selenggarakan kali ini adalah yang ke-14 yang menunjukkan betapa panjang jalan yang telah ditempuh dalam mengembangkan seni baca kalam Ilahi di tengah-tengah masyarakat kita.

“Hal ini juga menunjukkan betapa agama Islam mendapat tempat yang sangat terhormat dalam negara kita yang berdasarkan Pancasila,” kata Presiden.

Memang seni baca Al Qur’an makin hari makin berkembang di kalangan kaum muslimin Indonesia.

Mereka yang menguasai seni baca Kitab Suci Ummat Islam makin hari makin banyak. Mutu seninya pun terus bertambah tinggi. Karena itulah kita memiliki qari, qariah dan hafidz yang mengharumkan nama ummat Islam Indonesia dalam lomba seni baca Al-Qur’ an di tingkat dunia.

Namun kita menyadari sedalam dalamnya bahwa Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT bukanlah hanya sekedar untuk dibaca. Al-Qur’an adalah petunjuk jalan bagi kaum Muslimin demi kebahagiaan dan keselamatan hidup kita di dunia dan di akhirat.

Harus diupayakan Menteri Agama H. Munawir Sjadzali dalam sambutannya mengatakan, Al-Qur’an di seluruh dunia sejak zaman Nabi Muhammad sampai sekarang persis sama isinya. Ini sungguh merupakan suatu hal yang menakjubkan.

Menurut Menteri ada dua hal yang harus selalu diupayakan oleh ummat Islam terhadap kitab suci Al-Qur’an. Pertama, bagaimana menimbulkan kecintaan ummat Islam kepada Al-Qur’an sehingga makin banyak ummat yang memahami, mendalami, mempelajari, membaca dan menghafal isinya. Ke dua, bagaimana nilai-nilai luhur Al-Qur’an dihayati dan diamalkan oleh seluruh ummat Islam.

Menteri merasa bersyukur bahwa kesadaran ummat Islam terhadap hal­-hal tersebut dari tahun ke tahun terus berkembang.

Melalui pondok-pondok pesantren, sekolah-sekolah, pengajian dan sebagainya upaya untuk mempelajari, mendalami dan menghayati nilai-nilai luhur Al-Qur’an terus berkembang, baik atas upaya masyarakat maupun Pemerintah.

Dalam hubungan ini Menteri Agama menyampaikan rasa terima kasih kepada para ulama yang telah membaktikan hidupnya bagi penghayalan dan pengamalan Al-Qur’an tersebut.

Meskipun demikian, Menteri mengajak agar masyarakat khususnya ummat Islam untuk terus meningkatkan pengertian, pendalaman dan penghayatan Al-Qur’an, karena masih banyak aspek yang belum diperhatikan secara sungguh-sungguh. Misalnya, bagaimana memerangi buta aksara Al-Qur’an dan sebagainya.

Khidmat dan Meriah

Pembukaan MTQ Nasional XIV di Pontianak berlangsung khidmat dan meriah serta tertib selesai memberikan amanatnya, Presiden menekan tombol sirine. Seiring bunyi sirine, lampu-lampu di bangunan mimbar tilawah menyala dan di puncaknya tampak tulisan “Allah” dan “Muhammad” dalam huruf Arab.

Kekhidmatan upacara terasa sejak pembacaan ayat-ayat suci Al Qur’an sampai doa. Pengibaran bendera MTQ diiringi hymne MTQ yang dipimpin dirigen Yan Frederick dan solis Swezti Wirabhuwana, terasa begitu khidmat.

Suasana khidmat berubah menjadi meriah ketika para khafilah dari 27 propinsi berdefile di stadion yang dipadati sekitar 50.000 sampai 60.000 orang di mana selain Presiden hadir juga Menko Kesra H. Alamsjah, Menteri Agama H. Munawir Sjadzali dan sejumlah Menteri serta pejabat lainnya.

Setelah kafilah dari 27 propinsi selesai berdefile, ditampilkan atraksi kesenian termasuk tarian masal yang dibawakan sekitar 1.200 remaja putra­-putri.

Tarian masal yang diiringi musik khas Kalbar itu membentuk berbagai ornamen dan juga membentuk konfigurasi tulisan MTQ Ke 14.

Dilanjutkan dengan tari Rudat, tari yang mencerminkan rasa puji syukur kepada Allah SWT, dengan diiringi ucapan-ucapan kalimat syahadat “La Ilaha Illalah, Muhammaddur Rasulullah”.

Sebelum tari massal, tak ketinggalan pula kesenian Tanjidor dari Kabupaten Sambas yang dimainkan oleh puluhan pemuda, ikut menyemarakkan suasana. Kelompok Tanjidor ini antara lain memainkan “Mars MTQ”.

Secara keseluruhan pembukaan MTQ XIV berlangsung aman dan tertib. Sejak pukul 14.00 sedang jauh sebelum acara dimulai masyarakat sudah berbondong-bondong menuju arena MTQ. Banyak di antara mereka datang dari berbagai kota di sekitar Pontianak.

Demikian banyaknya animo masyarakat Kalbar khususnya Pontianak untuk menyaksikan pembukaan MTQ tersebut, banyak pengunjung yang tidak dapat masuk ke stadion yang memang tidak mampu menampung. Bagi masyarakat yang tak bisa masuk ke stadion disediakan 48 pesawat televisi oleh pihak Panitia.

Komandan Satuan Tugas Pengamanan MTQ Letkol. Pol. Syamsuddin mengatakan, untuk pengamanan MTQ ini dikerahkan 2.000 anggota Polri ditambah 800 orang dari unsur Menwa dan Hansip. Jumlah itu belum termasuk personil dari kalangan militer. (RA)

 

 

Pontianak, Jumat, Merdeka

Sumber : MERDEKA (04/05/1985)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VIII (1985-1986), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 226-229.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.