PEMBANGUNAN HARUS PERBAIKI MUTU KEHIDUPAN MANUSIA LAHIR DAN BATIN

Presiden Pada Konggres “FAPA” Ke-VI:

PEMBANGUNAN HARUS PERBAIKI MUTU KEHIDUPAN MANUSIA LAHIR DAN BATIN [1]

 

Jakarta, Suara Karya

Dalam proses pembangunan yang penting bukan hanya hasil pembangunan secara kwantitatif, seperti mungkin tampak dengan munculnya industri, pabrik2 bam maupun gedung2 megah dll. Juga bukan hanya kenaikan GNP belaka, betapapun kenaikan itu tampak mengesankan. Pembangunan adalah untuk memanusiakan manusia!. Karena itu pembangunan yang berhasil harus dapat memperbaiki mutu kehidupan manusia lahir

& bathin dan masyarakat luas. Demikian Presiden Soeharto dalam sambutannya dihadapan para peserta kongres ahli2 farmasi se Asia (FAPA) ke VI dalam acara pembukaan Kongres tersebut bertempat di Balai Sidang Senayan, kemarin.

Selanjutnya dikatakan, bahwa tingkat kesehatan bagi terwujudnya perbaikan mutu manusia merupakan salah satu unsur penting. Dikatakan, kesehatan masyarakat mendapat perhatian yang besar baik dalam Repelita I maupun Repelita II. Masalah pengadaan obat2an secara merata dan pengembangan obat2an sejauh mungkin memanfaatkan bahan2 yang ada di Indonesia, merupakan bagian penting daripada Repelita II, hal mana Ilmu Kefarmasian merupakan penunjang utama untuk mewujudkan kesehatan masyarakat.

Kongres PAPA ke-VI yang akan berlangsung sampai dengan tanggal 26 November di Jakarta, mengambil thema “Better Community Health through Quality Drug” dinilai oleh presiden mencerminkan apa yang telah dikemukakannya. Thema tersebut mencakup aspek2 nasional dan Internasional karena masalah peningkatan mutu obat, mutu pelayanan kesehatan masyarakat tidak hanya merupakan masalah di negara2 yang sedang membangun akan tetapi merupakan masalah semua negara di dunia.

Pada akhirnya Presiden Soeharto mengharapkan pula kepada segenap peserta kongres khususnya yang datang dari negara ASEAN agar berkesempatan melihat dan menyelami Indonesia dari sudut2 yang lain seperti melihat kehidupan masyarakat, kepribadian dan aspirasinya, kesenian, dan kebudayaannya, keindahan alamnya. Hal tersebut dikemukakan mengingat bagaimanapun juga ilmu pengetahuan dan profesi akhirnya diabadikan pula pada kebaikan kehidupan manusia dan kemanusiaan. Oleh karena itu diharapkan oleh Presiden agar Kongres dapat pula memberikan sumbangan supaya bertambah eratnya saling pengertian dan persahabatan serta membuka lebih Iebar lagi ketjasama saling bermanfaat antar bangsa-bangsa.

Kongres FAPA kali ini dihadiri oleh lebih kurang 500 peserta dari luar negeri seperti Jepang, Taiwan, Hongkong, Korea Selatan, Muangthai, Malaysia, Singapora, India, Pakistan dan New Zealand serta lebih kurang 500 peserta dari tuan rumah (Ikatan Satjana Farmasi Indonesia).

Dalam kongres ini akan berbicara tokoh2 farmasi yang mempunyai reputasi dunia yang sengaja didatangkan dari Eropa, Amerika, Australia dan Asia. Hal tersebut akan diselenggarakan dalam bentuk kuliah khusus dan simposium denganjudul “Modern tehnology for better quality”.

Penyelenggaraan Kongres FAPA di Indonesia antara lain bertujuan mempertinggi ketrampilan dan kemahiran teknik sarjana farmasi Indonesia, dalam menunjang pembangunan dibidang kesehatan. Serta melalui kongres farmasi ini akan diperlihatkan pada para peserta wajah Indonesia disamping potensinya dibidang farmasi. Juga memperlihatkan kemajuan pelaksanaan pembangunan dan potensi Indonesia dibidang ekonomi, kebudayaan dll.

Pada pembukaan kongres kemarin disamping Presiden Soeharto dan Ny. Tien Soeharto hadir pula Wakil Presiden Sultan Hamengkubuwono IX, Menteri Kesehatan Prof. GA Siwabessy serta Gubernur DKI Ali Sadikin dan nyonya serta pejabat2 dan pers undangan lainnya.

140 dari 1.000

Sementara itu Menkes didepan peserta kongres mengatakan sekitar 140 dari 1.000 bayi yang dilahirkan di Indonesia tiap tahunnya mengalami kematian. Menurut Menkes hal tsb. disebabkan masih berjangkitnya beberapa penyakit menular dan jeleknya kesehatan lingkungan di daerah2 pedalaman dimana 80% dari penduduk Indonesia tinggal.

Dikatakan, meskipun angka kelahiran tinggi yaitu 40 bayi lahir dari 1.000 penduduk per tahun sementara kematian dialami oleh 17 dari 1.000 penduduk pertahun.

Untuk itulah, menurut Menteri, thema yang dipergunakan dalam konggres ke 6 ahli farmasi Asia “Memperbaiki kesehatan masyarakat dengan obat berkwalitas”, sangat sesuai dengan program Indonesia yang saat ini tengah melancarkan program kesehatannya dibidang kesehatan masyarakat.

Menurut menteri obat sebagai kunci penyembuh, penyakit memang mesti aman dan afektif sementara bagi program kesehatan masyarakat obat haruslah mudah dipergunakan dan harganya murah.

Menurut ketua panitia kongres Drs. Soekarjo dari Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia yang menyelenggarakan kongres itu, 100 kertas kerja yang menyangkut berbagai masalah dalam kefarmasian di dunia, Asia dan Indonesia akan dibahas oleh ahli2 farmasi itu dalam pertemuannya yang akan berlangsung di Hotel Indonesia.

Dikatakan bagi Indonesia sendiri kongres ini disamping untuk mempertinggi ketrampilan dan kemahiran teknik para sarjana farmasi Indonesia disamping untuk memperlihatkan wajah Indonesia tidak hanya kemauan dan potensinya dibidang farmasi tetapi lebih nasional yaitu dalam kemajuan lainnya dibidang ekonomi, kebudayaan dan pariwisata.

Selain acara ilmiah yang padat dalam kongres tsb. para peserta diberi kesempatan untuk melihat berbagai obyek pariwisata di Indonesia khususnya yang ada di Ibukota. (DTS)

Sumber: SUARA KARYA (23/11/1976)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 216-218.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.