PEMBANGUNAN DITUJUKAN UNTUK “ORANG-ORANG KECIL”

PEMBANGUNAN DITUJUKAN UNTUK "ORANG-ORANG KECIL"

Nama Sutami Untuk PLTA Karangkates

Proyek-proyek besar, kegiatan-kegiatan yang mernerlukan teknologi tinggi, rnulai dapat ditangani oleh tenaga-tenaga Indonesia sendiri; salah satu di antaranya adalah proyek besar Bendung Gunungsari Baru. Demikian Presiden Soeharto.

Menurut Kepala Negara, "Lebih dari hanya menyelesaikan sebuah proyek, saudara-saudara telah menambah keyakinan bangsa kita, bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang mampu menguasai ilmu dan kecakapan untuk membangun proyek­proyek besar."

Ucapan Presiden itu dinyatakan Kamis kemarin, ketika meresmikan Bendung Gunungsari Baru dan peresmian nama Bendungan/PLTA Sutami untuk menggantikan nama lama Bendungan/PLTA Karang Kates di Jawa Timur.

Menurut Presiden selanjutnya, mutlak bagi kita untuk terus menambah tenaga­tenaga yang cakap dan terampil dalam segala lapangan pembangunan dan di segala tingkatan.

Untuk Orang Kecil

Kepala Negara mengatakan, bahwa pembangunan itu tidak lain untuk memperbaiki kehidupan rakyat banyak Pembangunan itu adalah usaha kita bersama secara sadar untuk merobah nasib kita sendiri.

"Tidak ada orang lain yang dapat menolong kita, jika kita tidak dapat menolong diri kita sendiri," kata Presiden menegaskan.

Sebab pada akhirnya, berhasil atau gagalnya pelaksanaan pembangunan sepenuh penuhnya berada di tangan kita sendiri. Karena itu, kita harus tetap memupuk kemampuan untuk rnembangun itu.

Sebenarnya, kata Presiden lagi, pembangunan yang kita kerjakan sekarang ini memag ditujukan untuk "orang-orang kecil".Untuk kepentingan seluruh rakyat.

Ditunjukkannya, pembangunan SD Inpres tujuannya agar setiap anak rakyat jelata memperoleh pendidikan yang sewajarnya Puskesmas-Puskesmas dan Puskesmas Pembantu, dengan tujuan agar rakyat kecil bisa mendapat pelayanan kesehatan yang baik.

Kabupaten, desa hingga propinsi mendapat bantuan pembangunan. Dengan tujuan agar semua daerah dapat maju secara merata.

Jalan-jalan cukup baik, desa mulai dipugar, listrik mulai masuk desa, berbagai macam perkreditan untuk golongan ekonomi lemah dan pengusaha lemah dll. Semua itu merupakan wujud tekad kita untuk terus membangun dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Bergerak Maju

Presiden Soeharto juga menegaskan, bahwa selesainya pembangunan Bendung Gunungsari Baru ini menunjukkan bahwa pembangunan yang kita laksanakan bersama itu terus bergerak maju.

Sejak kita melaksanakan Repelita I, lebih dari dua belas tahun yang lalu, tidak sedikit bendungan dan bendung yang telah kita bangun. Ada yang sangat besar ada yang besar, banyak yang sedang dantak terbilang banyaknya yang kecil-kecil. Tersebar di seluruh penjuru Tanah Air.

"Semuanya itu menunjukkan terus majunya pembangunan kita," kata Kepala Negara. Dan yang lebih penting lagi, tambahnya, hal itu menunjukkan bahwa pembangunan benar-benar ditujukan untuk seluruh rakyat. Terutama untuk "orang­ orang kecil".

Sebagai contoh Presiden menyebut pembangunan Bendung Gunungsari Barn ini, maka menambah luas sawah-sawah yang dapat diairi di daerah Surabaya dan sekitarnya.

Bendung ini juga akan memberikan tambahan air minum dan air bagi industri yang terus berkembang di daerah ini. Dan dengan pembangunan bendung ini, maka penggenangan air yang biasanya di waktu hujan mengganggu kelancaran kehidupan rakyat Surabaya akan dapat sangat dikurangi.

Jelaslah, bahwa dengan selesainya proyek pembangunan ini, terbuka kesempatan yang lebih luas bagi daerah ini untuk memajukan pertaniannya, mengembangkan industrinya, memperbaiki mutu hidupnya. Yang semuanya itu berarti perbaikan kesejahteraan rakyat, demikian Presiden.

Sumber Kehidupan

Menteri PU Dr. Ir.Purnomosidi Hajisarosa kepada Presiden melaporkan, Bendungan Gunungsari Baru itu merupakan salah satu proyek pengembangan sungai Brantas. Dikatakannya, S. Brantas merupakan sumber kehidupan serta tulang punggung produksi pangan bagi rakyat Jatim.

Sungai Brantas mempunyai kepanjangan 320 km dengan daya pengairan 1.200 km2 yang merupakan seperempat bagian wilayah Jatim dan dihuni sepertiga penduduk daerah tersebut. Enampuluh persen diantaranya merupakan daerah pengairan, yaitu 737.000 ha yg terkenal sebagai daerah lembah S. Brantas yang subur dan 321.000 ha berupa persawahan yang produktif.

Tetapi di balik keunikan itu, kata Menteri, ditengah aliran S. Brantas terdapat Gunung Kelud yang diperkirakan 30 tahun yang lalu meletus. Letusannya muntah ke Sungai Brantas dan mengakibatkan pendangkalan di samping banjir yang hebat.

Sejak pemerintah orde baru diambil langkah-langkah untuk mengawasi banjir akibat pendangkalan itu. Alirannya juga dimanfaatkan untuk peningkatan tenaga listrik.

Dalam pelaksanaan ini menurut Dr. Purnomosidi, diselesaikan proyek-proyek besar yg dikerjakan sejak tahun 1970. Dan sampai sekarang dilakukan perbaikan terus dalam rangka usaha pengembangan proyek Brantas itu.

Pada kesempatan itu Menteri PU mengemukakan pula peranan Prof. Dr.Ir. H. Sutami almarhum yang dinilainya sangat besar dalam membangun Bendungan Karang Kates.

Ia lalu mengusulkan dengan permohonan agar Presiden meresmikan Bendungan Karung Kates dengan nama Bendungan Ir. H. Sutami.

Gubernur Jatim Sunandar Priyosudarmo dalam laporannya kepada Presiden menyatakan adanya penyusutan lahan persawahan dari Pelita I sampai sekarang, sekitar 3.800 ha.

Penyusutan itu terus meningkat nantinya menjadi 5.000 ha dalam Pelita III. Tetapi, menurut Sunandar, penyusutan tsb telah dapat diganti dengan berbagai usaha perluasan sawah secara intensif, yang pada Pelita III meningkat menjadi 734.400 ha. Pembangunan persawahan ini telah dinikmati oleh rakyat banyak, katanya.

Dikemukakan Sunandar, produksi pangan di Jatim juga meningkat setelah diusahakan intensifikasi khusus. Pada Pelita I, menurut Gubernur Jatim itu, produksi padi di Jatim baru mencapai 4,3 juta ton.

Dalam tahun 1980/1981, dalam setahun produksi padi meningkat menjadi 9.150.000 ton atau gabah kering giling 7,2 juta ton. Pada akhir Pelita III diperkirakan akan mencapai 9,5 juta ton padi kering sawah. Pengadaan pangan di Jatim untuk th 80/81 untuk stock, hasilnya mencapai 800.008 ton beras.

"Dengan demikian produksi untuk tahun ini cukup menggembirakan," ujar sang Gubernur."

Seluruh rakyat di Jawa Timur menyatakan terima kasih kepada Bapak Presiden, karena pemerintah akan membangun lagi unit pengamongan pupuk Sriwijaya di pelabuhan Menem, Banyuwangi. Pabrik itu akan memproduksi 1 juta ton setahun.

Dari pembangunan pabrik tsb menurut Pak Nandar, penyaluran pupuk di bagian timur Jawa Timur akan lebih lancar lagi. Di Jatim rata setiap ha sawah sudah mencapai 300 kg urea dan 75 kg TSI. Secara khusus Gubernur juga melaporkan adanya rakyat Jatim di sepanjang daerah aliran sungai Brantas karena kesuburan tanahnya.

"Ini berkat perluasan oleh pemerintah dalam usaha membangun dan mengendlalikan aliran sungai Brantas, yang tadinya mengancam dengan banjirnya," katanya gembira. Dalam 3 tahun terakhir daerah ini sudah tak terkena banjir lagi.

Selesai menanclatangani prasasti dan menekan tombol sebagai tanda peresmian Bendung Gunungsari Baru ini, Presiden menyerahkan bingkisan kepada karyawan yang menclerita cacat dalam mengerjakan pembangunan tersebut.

Peresmian Bendung Gunugsari Baru clan peresmian nama Bendungan/PLTA Sutami ini dihadiri oleh Mensesneg Sudharmono, Menpan Sumarlin. Menteri Pekerjaan Umum Purnomosidi dan Nyonya, Menteri Penambangan dan Energi Subroto.

Tampak juga hadir Jaksa Agung Ismail Saleh SH. Pangkowilhan 11 Letjen TNI Wiyogo, Dubes Jepang M. Sawaki, Gubernur Jawa Timur Sunandar Priyosudharmo dan unsur Muspida Jatim.

Jakarta, Angkatan Bersenjata

Sumber: ANGKATAN BERSENJATA (18/04/1981)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 375-378.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.