PEMASYARAKATAN GDN HARUS DIDUKUNG PENEGAKAN HUKUM YANG ADIL

PEMASYARAKATAN GDN HARUS DIDUKUNG PENEGAKAN HUKUM YANG ADIL[1]

 

Medan, Antara

Gerakan Disiplin Nasional (GDN) yang kini gencar dikampanyekan di masyarakat, akan terlaksana secara optimal jika didukung penegakan hukum dan peraturan yang adil dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kata seorang akademisi.

“Penegakan hukum dan peraturan yang adil itu harus pula dilengkapi oleh perangkat peraturan yang jelas, adil, dan tidak diskriminatif.” kata pengamat masalah sosial keagamaan, DR. Nur Ahmad Fadhil Lubis, MA, kepada ANTARA di Medan, Kamis.

Faktor-faktor lain yang turut menentukan keberhasilan pembudayaan GDN adalah adanya aparatur pemerintah yang bersih dan berwibawa serta dilengkapinya sarana dan prasarana penunjang GDN itu sendiri.

Menurut Lubis, yang juga Direktur Bidang Akademik Program Pascasarjana IAIN Sumut itu, faktor-faktor penentu keberhasilan pelaksanaan GDN tersebut belum sepenuhnya dipenuhi, kendati upaya ke arah itu sudah tampak di tanah air.

Doktor lulusan Universitas California di Los Angeles (UCLA) itu mengatakan, sejak dicanangkannya GDN oleh Presiden Soeharto pertengahan tahun lalu, pelaksanaannya di masyarakat baru sampai pada tingkah laku lahiriah, seperti melakukan kebiasaan antri.

“Kebiasaan antri di tempat-tempat umum, seperti ketika membeli karcis di stasiun bis atau membeli benda-benda pos di kantor pos pun belum sepenuhnya terlaksana, padahal disiplin itu sesungguhnya adalah sikap hidup (way of life).” katanya.

Ia mengatakan, GDN akan lebih cepat menjadi bagian dari sikap hidup bangsa jika lapisan elite pemerintahan, seperti pejabat tinggi negara mau menjadi teladan sesuai dengan budaya bangsa Indonesia yang cenderung patemalistik.

Sementara itu, Guru Besar Fisipol Universitas Sumatera Utara (USU) Prof. Dr. Asma Affan, MPA mengatakan bahwa GDN harus pula dimulai dari kehidupan keluarga yang dicontohkan oleh orang tua kepada anak-anaknya.

“Pembudayaan disiplin itu harus dimulai sejak anak berusia dini dari kebiasaan­-kebiasaan positif di keluarga, seperti cuci tangan sebelum makan, bersikap demokratis, menghargai pendapat orang lain, sabar dan bersih.” katanya.

Sumber : ANTARA (07/03/1996)

___________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 586-587.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.