PEMAKAIAN KENDARAAN PRIBADI AGAR LEBIH EFISIEN SEHINGGA KEPADATAN LALU LINTAS JAKARTA TERKURANGI

PEMAKAIAN KENDARAAN PRIBADI AGAR LEBIH EFISIEN SEHINGGA KEPADATAN LALU LINTAS JAKARTA TERKURANGI

Presiden Soeharto

Presiden Soeharto sangat menaruh perhatian terhadap kepadatan lalu lintas di Daerah Jakarta Raya dewasa ini. Kepada Gubernur DKI Jaya Soeprapto di Bina Graha hari Sabtu Kepala Negara menugaskan untuk diadakan suatu studi terhadap kemungkinan peningkatan jaringan jalan dan pengaturan pengaturan penggunaan kendaraan pribadi.

Gubernur DKI Jaya Soeprapto kepada pers selesai diterima Presiden mengatakan, Kepala Negara memberi petunjuk agar pemakaian kendaraan pribadi supaya di lakukan secara lebih efisien. Jangan satu kendaraan sedan hanya digunakan satu orang, paling tidak digunakan bersama, sehingga kepadatan lalu lintas dapat dikurangi.

Untuk itu perlu diatur antar instansi-instansi pemerintah maupun kantor-kantor swasta. Menurut gubernur, bagaimana pembatasan penggunaan kendaraan pribadi tersebut akan dibicarakan bersama antara Pemda DKI dengan Departemen Perhubungan dan Kepolisian.

Selain mengenai masalah lalulintas, Kepala Negara juga sangat menaruh perhatian terhadap perbaikan perumahan dan lingkungan penduduk serta mengenai masalah kesehatan warga Ibu kota.

Dengan perbaikan perumahan dan lingkungan penduduk di harapkan bisa tercapai pemerataan keadilan dan sebagainya.

Dalam hal ini perlu didorong peran serta swasta untuk lebih membangun perumahan-perumahan murah dan rumah-rumah rakyat bertingkat empat (flat) seperti halnya di Tanah Abang dan jalan Thamrin sekarang.

Dengan perbaikan lingkungan dan perkampungan penduduk sekaligus diharapkan tingkat kesehatan masyarakat yang disebabkan kepadatan penduduk dapat ditingkatkan.

Tapi dalam bidang kesehatan Pemda DKI akan meningkatkan pula penyediaan sarana-sarana kesehatan terutama puskesmas-puskesmas dan tenaga­tenaga kesehatan yang cukup trampil. Dalam hal ini menurut Soeprapto, terkandung maksud agar perawatan bayi ditingkatkan terutama dalam soal imunisasi.

Ke Singapura

Untuk semua maksud di atas Gubernur di Bina Graha kemarin sekaligus minta restu Presiden untuk berangkat ke Singapura memenuhi undangan pemerintah Singapura akhir bulan Mei nanti.

Di Singapura akan diadakan studi bersama terutama bagi kepentingan Jakarta menyangkut pola pengembangan kota, pengembangan perumahan, khususnya masalah flat.

Masalah pencemaran lingkungan, transportasi kota dan soal sampah. Dikatakan selama ini pembuangan sampah di Jakarta di lakukan hanya ditempat-tempat tenentu nanti areal pembuangan itu akan menjadi penuh, karena itu harus sudah mulai dipikirkan cara yang lebih teknologis.

Selain itu akan diadakan pula studi bersama mengenai peningkatan administrasi dan prosedur daripada perizinan dalam rangka pengelolaan suatu kota besar seperti Jakarta ini.

Menurut Gubernur penyederhanaan perizinan di DKI sudah dimulai dan selama Pelita III yang sudah berhasil adalah izin mendirikan bangunan (IMB). Tetapi sejalan dengan kebijaksanaan nasional untuk meningkatkan kegiatan ekspor non migas, akan diusahakan lagi penyederhanaan izin di bidang usaha.

Perkembangan DKI

Kepada Kepala Negara hari Sabtu, Gubernur Soeprapto melaporkan secara umum perkembangan DKI Jaya di bidang ekonomi politik sosial dan budaya selama Pelita III yang berakhir Maret lalu.

Dilihat dari segi kemampuan anggaran, katanya, jumlah anggaran pembangunan Pemda DKI selama Pelita III harus meningkat Tahun I Rp. 80,6 milyar, tahun II Rp. 107 milyar (naik 32.5%), tahun III Rp. 119 milyar (naik 11,3%), tahun IV Rp. 137,2 milyar (naik 15,13%) dan tahun V Rp. 170,6 milyar (naik 21 %). Sehingga rata-rata selama Pelita III anggaran daerah naik sebesar 20,8%.

Kenaikan anggaran ini, menurut Gubernur Soeprapto, antara lain disebabkan karena dalam tahap-tahap terakhir Pelita lalu, diadakan pengetatan terhadap para wajib pajak.

Dari pertumbuhan secara kualitatif dapat dinilai bahwa tingkat perkembangan dan kesadaran masyarakat dalam rangka peran serta di bidang pembangunan cukup menonjol terutama pada tahun-tahun terakhir ini. Demikian pula dalam soal minat belajar masyarakat.

Di bidang ekonomi sosial diketahui bahwa pertumbuhan ekonomi di Jakarta rata-rata per tahun selama Pelita III ada peningkatan 10,3% dan pendapatan rata-rata per kapita penduduk ibukota yang pada awal Pelita III Rp. 410.000, pada akhir Pelita III telah meningkat menjadi Rp. 909.300.

Kemajuan-kemajuan lain yang dicapai ialah di bidang pendidikan, khususnya penyediaan gedung sekolah SD. Pada permulaan Pelita III ada 1.840 gedung sekolah SD akhir Pelita III menjadi 2.187 gedung. Juga di bidang keluarga berencana, tahun 1981/82 sasaran KB 27% daripada pasangan usia subur, ternyata akhir Maret lalu meningkat sampai 54%.

Sementara itu penyediaan perangkat pemerintahan sampai tingkat kelurahan juga telah dapat ditingkatkan. Baik berupa pembinaan ditingkatkan, baik berupa pembinaan aparat, maupun penyiapan sarana perkantoran.

Prioritas Pelita IV

Berdasarkan hasil-hasil yang telah dikembangkan dalarn Pelita IV maka menurut gubernur, perioritas-perioritas yang akan dikembangkan dalam Pelita IV ini adalah pertama pengembangan golongan ekonomi lemah.

Kedua penciptaan lapangan kerja, terutama bagi pencari kerja yang kurang trampil, Ketiga melanjutkan penyediaan sarana belajar mulai dari tingkat SD sampai perguruan tinggi.

Prioritas lainnya adalah penyederhanaan izin-izin peningkatan perangkat pemerintah daerah dalam soal disiplin dan tertib kerja, menekan laju pertumbuhan penduduk melalui program KB dan penyebaran sentra-sentra pembangunan ke arah barat dan timur yang tidak kalahnya adalah tertib registrasi penduduk sehingga mobilitas penduduk dapat dimonitor secara baik.

Terutama dalam menghadapi program-program Pelita IV nanti, kata Gubernur akan diperhatikan koordinasi perkembangan Jakarta dan kota-kota di sekelilingnya dalam rangka pengembangan Jabotabek, dengan melandaskan pada prinsip perkembangan Jakarta ke arah barat dan timur. (RA)

Jakarta, Kompas

Sumber : KOMPAS (30/04/l984)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VII (1983-1984), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 889-891.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.