PEGANG TEGUH ARAH DAN LANDASAN POLITIK LUAR NEGERI INDONESIA

PRESIDEN SOEHARTO:

PEGANG TEGUH ARAH DAN LANDASAN POLITIK LUAR NEGERI INDONESIA

Presiden Soeharto mengingatkan para Dutabesar Republik Indonesia agar mereka memegang teguh arah dan landasan politik luar negeri Republik Indonesia dalam melaksanakan tugas mereka di luar negeri.

Petunjuk itu dikemukakannya Sabtu pagi di Istana Negara ketika melantik empat orang Dutabesar Luar biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia yang baru, masing2 Imam Soepomo untuk Iran dan Oman, Sajid Basuki Sastrohartojo untuk Bangladesh, Joost Olivier Rotty untuk Bulgaria dan A.A.G Oke Djelantik SH untuk Argentina merangkap Uruguay dan Chili.

Menurut Kepala Negara, para Dubes Republik Indonesia harus dapat melaksanakan amanat bangsa Indonesia, khususnya dalam gelanggang politik luar negeri sebagaimana ditunjukkan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang mencerminkan amanat bangsa Indonesia itu.

"Seperti yang ditunjukkan GBHN, dalam pelaksanaan politik luar negerinya, Indonesia harus aktif memberikan sumbangan untuk menciptakan perdamaian dunia yang abadi, adil dan sejahtera," kata Presiden dan menambahkan, bahwa apa yang ditunjukkan GBHN tidak lain merupakan cita-cita dan perjoangan bangsa Indonesia mengenai dunia sebagaimana diamanatkan oleh Pembukaan UUD-1945.

Dalam Pembukaan UUD-1945, itu ditegaskan, bangsa Indonesia ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi dan keadilan sosial. Untuk ke dalam negeri sendiri, pelaksanaan politik luarnegeri yang bebas dan aktif itu harus diabadikan kepada kepentingan nasional terutama untuk kepentingan pembangunan di segala bidang.

"Kita tidak pernah ragu-ragu mengenai arah yang kita tempuh dalam mengemudikan politik luarnegeri itu, dan kita juga tidak akan bergeser sedikitpun dari arah yang ditunjukkan oleh Pembukaan UUD 1945 dan GBHN”, kata Kepala Negara tegas.

Keadaan Dunia Saat ini

Kepada keempat Dubes Republik Indonesia itu Kepala Negara membeberkan keadaan dunia saat ini. Menurut Kepala Negara, keadaan dunia sekarang ditandai oleh hampir berakhirnya masa penjajahan politik.

"Mengakhiri sedikit sisa-sisa penjajahan di beberapa tempat lainnya di dunia ini pasti tinggal waktu saja, sebelum saat terwujudnya kemerdakaan bagi semua bangsa menjadi kenyataan", kata Presiden.

"Di dunia kini juga teijadi pendekatan-pendekatan antara kekuatan besar di dunia dan ini berarti untuk sementara setidak-tidaknya dunia terhindar dari malapetaka kehancuran akibat perang besar," katanya serta menambahkan, bahwa perebutan pengaruh di antara kekuatan besar tidakjarang menyeret negara lainnya dan membawa akibat timbulnya ketegangan setempat.

"Yang harus kita perjoangkan ialah agar suasana ketegangan itu mereda dan suasana mereda itu benar-benar dapat memperkuat perdamaian dunia dan tidak menyeret bangsa lain ke dalam kancah pertarungan diantara kekuatan-kekuatan besar itu", kata Presiden.

Selain itu, menurut Kepala Negara, dunia saat ini juga, ditandai adanya perjoangan sebagian besar ummat manusia untuk hidup lebih baik melalui pembangunan bangsa­bangsa dan hal ini merupakan perjuangan ummat manusia yang paling besar dewasa ini dan untuk seterusnya.

"Kemerdekaan politik tanpa kemerdekaan ekonomi, bebas dari penjajahan asing tanpa kemakmuran lahir batin, adalah ibarat wadah kemerdekaan yang indah dan diagung-agungkan tetapi tanpa isi yang berarti lagi ummat manusia", kata Kepala Negara lebih lanjut.

Sejalan dengan surutnya jaman penjajahan, bangsa-bangsa yang sedang membangun, yang umumnya bekas bangsa terjajah, kini perlu memusatkan diri dan usahanya pada pembangunan ekonomi. Tujuannya tidak lain memberi isi kepada kemerdekaan dengan kesejaheraan lahir batin dalam alam kemerdekaan.

Perjoangan Pembangunan itu Berat

Menurut Kepala Negara, perjoangan untuk pembangunan merupakan perjoangan berat karena bangsa-bangsa yang sedang membangun harus menyiapkan prasarana sosial dan ekonomi untuk memungkinkan pembangunan yang mendukung berdirinya negara modern.

Di lain pihak, bangsa yang sedang membangun juga harus berjoang menghadapi segala hambatan tata dunia yang diwariskan oleh masa lampau, yang kerangkanya tidak menguntungkan negara yang sedang membangun.

"Secara sendiri-sendiri negara yang sedang membangun akan tetap lemah, tetapi secara bersama-sama dengan landasan kerjasama dan kesetiakawanan, mereka akan merupakan himpunan2 besar dari kekuatan perjoangan yang akan memberi hasil yang lebih besar", demikian Presiden.

Kepala Negara juga mengingatkan, pembangunan dunia yang lebih adil dan lebih maju akan sulit dapat dicapai melalui konfrontasi.

"Konfrontasi bukanlah jalan keluar yang baik bagi penyelesaian berbagai masalah ummat manusia", kata Presiden.

Ketika menyinggung pembangunan di Indonesia Presiden Soeharto menyatakan, pembangunan ekonomi Indonesia ditujukan untuk mencapai kemajuan yang membawa kesejahteraan dan berisi keadilan sosial.

"Dengan pembangunan ekonomi itu, bangsa Indonesia berikhtiar untuk memperkokoh ketahanan nasional sehingga kita dapat berdiri tegak terhadap kemungkinan datangnya bahaya tarik-menarik dari luar atau ancaman-ancaman lainnya”, kata Presiden.

Upacara pelantikan dihadiri Menko Polkam Menlu ad interim M. Panggabean, Menpen Ali Moertopo, dan para ketua lembaga tinggi negara. (DTS)

Jakarta, Suara Karya

Sumber: SUARA KARYA (08/10/1979)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 178-180.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.