PATOKAN HARGA MINYAK RAPBN 1997/199816,5 DOLAR AS

PATOKAN HARGA MINYAK RAPBN 1997/199816,5 DOLAR AS[1]

 

Jakarta, Antara

Penerimaan dalam negeri pada RAPBN 1997/98 mencapai Rp 88,06 triliun yang berarti naik sebesar 12,6 persen dibandingkan APBN berjalan, sementara penerimaan dari ekspor minyak mentah Indonesia pada RAPBN mendatang diasumsikan harga rata-rata tetap berkisar 16,5 dolar AS per barelnya.

Dalam Nota Keuangan sebagai lampiran pidato Presiden Soeharto saat menyampaikan penyusunan RAPBN 1997/1998 di Sidang Paripuma DPR, Senin, menyebutkan, rencana penerimaan dari sektor migas diperkirakan meningkat sebesar 5,3 persen.

Sejalan dengan laju pertumbuhan ekonomi makadalam tahun anggaran 1997/ 1998 terjadi peningkatan di sektor penerimaan baik sektor migas maupun non-migas. Secara garis besar penerimaan dalam negeri terdiri dari penerimaan migas dan non-migas.

Penerimaan migas meliputi penerimaan dari minyak bumi dan gas alam, sedangkan penerimaan non-migas mencakup penerimaan perpajakan dan penerimaan bukan pajak.

Untuk sektor migas,perkembangan harga minyak dalam semester pertama tahun anggaran 1996/1997 memang cenderung terus meningkat.

Dalam kurun waktu Maret-Agustus 1996 rata-rata harga minyak mentah Indonesia mencapai 19,5 dolar AS. Berarti lebih tinggi dari patokan APBN berjalan sebesar 16,5 dolar AS.

Namun berdasar kenyataan perkembangan harga minyak bumi di pasar intemasional sangat fluktuatif maka dalam penyusunan RAPBN 1997/1998harga rata­rata minyak bumi Indonesia diasumsikan akan mencapai rata-rata sebesar 16,5 dolar AS atau sama dengan patokan ekspor minyak mentah lndonesai tahun sebelumnya.

Sementara tingkat produksinya sebanyak 1,52 juta barel per hari (bph) termasuk kondesat sebanyak 190 ribu barel. Dengan asumsi tingkat produksi 1.520 ribu bph dan kurs satu dolar AS ekuivalen dengan Rp 2.481 maka penerimaan dari sektor minyak bumi akan mencapai Rp 10,68 triliun atau lebih besar 3,6 persen dari APBN tahun anggaran sebelumnya.

Selain itu dari sektor migasjuga diperoleh penerimaan atas pendapatan bersih dari kegiatan ekspor gas alam (LNG dan Elpiji). Harga gas alam tersebut sepanjang tahun anggaran juga akan berfluktuasi sesuai dengan harga ekspor minyak.

Sebagaimana diketahui harga gas alam secara langsung terkait dengan harga minyak mentah, sehingga setiap kenaikan atau penurunan harga ekspor minyak akan mengakibatkan adanya kenaikan atau penurunan harga gas alam.

Dalam tahun anggaran 1997/1998 dari kegiatan pengusahaan gas alam diharapkan akan diperoleh penerimaan sebesar Rp 4,18 triliun atau 9,9 persen lebih besar dari tahun anggaran sebelumnya.

Berdasarkan asumsi-asumsi di atas maka dalam tahun anggaran 1997/1998 rencana penerimaan dari sektor migas ditargetkan mencapai Rp 14,87 triliun, mengalami peningkatan sebesar 5,3 persen. Selain dari penerimaan minyak bumi sebesar Rp 10,68 triliun, penerimaan migas juga berasal dari penjualan gas alam sebesar Rp 4,18 triliun.

Non-Migas

Dari penerimaan non-migas, pemasukan dari perpajakan diperkirakan juga meningkat sebesar 15,6 persen. Penerimaan pajak penghasilan (PPh) memberikan kontribusi yang terbesar. Kemudian disusul dengan penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) barang dan jasa serta Pajak Penjualan (PPn) atas barang mewah, masing­masing naik sebesar 22,8 persen dan 12,9 persen.

Dari hasil perhitungan tersebut maka struktur penerimaan dalam negeri untuk tahun 1997/1998 menunjukkan perubahan yang menggembirakan. Dibanding dengan struktur penerimaan dalam negeri tahun 1996/1997, maka pada tahun anggaran mendatang kontribusi penerimaan di sektor migas turun dari 18,1 persen menjadi 16,9 persen.

Sementara penerimaan dari sektor perpajakan meningkat dari 71,6 persen menjadi 73,5 persen. Gambaran tersebut menunjukkan upaya pemerintah menjadikan penerimaan perpajakan sebagai andalan penerimaan dalam negeri semakin menampakkan hasil.

Di sektor pengeluaran rutin, belanja pegawai dalam tahun anggaran 1997/1998 merupakan bagian terbesar dari pengeluaran rutin atau mengalami peningkatan sebesar 15,9 persen dibandingkan dengan APBN 1996/1997.

Pembayaran bunga dan cicilan utang luar negeri sedikit lebih rendah yaitu turun sebesar 3,5 persen dibandingkan dengan pembayaran bunga dan cicilan utang luar negeri tahun anggaran 1996/1997.

Mengenai pos tabungan pemerintah pada tahun anggaran mendatang ditargetkan naik dari Rp 22.089,1 miliar pada APBN 1996/1997 menjadi Rp 25.901,9 miliar.

Sumber : ANTARA (06/01/1997)

______________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 204-206.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.