PARA PERINTIS KEMERDEKAAN DAPAT BANTUAN PEMUGARAN RUMAH

PARA PERINTIS KEMERDEKAAN DAPAT BANTUAN PEMUGARAN RUMAH [1]

 

Jakarta, Suara Karya

Presiden Soeharto menyetujui pemberian bantuan pemugaran rumah bagi para perintis kemerdekaan sebesar Rp 1,5 juta dan percepatan penghargaan kepada mereka.

Persetujuan Kepala Negara menanggapi usulan 4 orang penerima Satya Lencana Perintis Pergerakan Kemerdekaan ketika menghadap di Bina Graha, Jakarta, Senin Mereka adalah Hamid Algadri, Ibu Lasmidjah Hardi, Sarli Kusumo Dirdjo dan HM Lawit.

Menurut Ketua Badan Pertimbangan Perintis Kemerdekaan, Hamid Algadri, 400 rumah para perintis kemerdekaan menurut catatan tahun 1994-95, tidak layak huni. Karena itu mereka mengusulkan bantuan biaya pemugaran sebesar Rp 1,5 juta/rumah. Bantuan pemugaran hendaknya dapat dipercepat dan diberikan langsung kepada yang bersangkutan karena usia para perintis rata-rata sudah lanjut, antara 80-90 tahun.

“Kalau biasanya melalui proses dan lain-lain, sekarang uang itu supaya langsung diberikan kepada orang yang berhak, dan bisa dipercepat. Kuatir kalau mau dipugar, orangnya sudah tidak ada lagi.” kata Hamid.

Setiap bulan, perintis kemerdekaan menerima tunjangan dari dana APBN, sebesar Rp.360.000/orang.

“Buat makan yaAlhamdulillah. Tapi kalau buat memugar rumah ya tidak cukup.” kata Hamid terus terang.

Presiden juga menyetujui usulan percepatan pemberian lencana penghargaan mengingat usia mereka sudah lanjut. Penerima penghargaan perintis kemerdekaan kini mencapai 102 orang, sementara yang masih menunggu kira-kira 300 orang.

“Kalau ditunggu setiap tanggal 17 Agustus, maka 4 tahun lagi baru bisa terima. Orang itu sudah tidak ada lagi, sudah meninggal. Itu sebabnya kita usul kepada Bapak Presiden, kalau bisa dipercepat, dan tidak usah pada 17 Agustus.” lanjut Hamid.

Sumber : SUARA KARYA (03/09/1996)

___________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 794-795.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.